Ratusan Hektar Sawah di Kabupaten Serang Kebanjiran

Kompas, Metropolitan 2010-07-21 / Halaman 25

Ratusan hektar sawah di enam desa wilayah Kecamatan Bandung, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, terendam banjir. Banjir ini terjadi akibat hujan yang kerap turun sejak akhir pekan lalu. Hingga Selasa (20/7) kemarin, ada dua desa yang areal persawahannya masih tergenang air dengan ketinggian sekitar 50 sentimeter, yakni Desa Pringwulung dan Babakan.

Camat Bandung Nanang Supriatna ketika dihubungi dari Serang menuturkan, enam desa yang areal persawahannya tergenang sejak Sabtu malam hingga Senin (19/7) adalah Mandir seluas 35 hektar (ha), Pananginan 20 ha, Pangawinan 40 ha, Bandung 30 ha, Pringwulung 100 ha, dan Babakan 48 ha.

”Saat ini tinggal sawah di Pringwulung dan Babakan yang masih tergenang air. Genangan di empat desa lainnya sudah surut,” kata Nanang.

Letak Desa Pringwulung dan Babakan yang lebih rendah dibandingkan dengan desa-desa lainnya di Serang menyebabkan sawah di dua desa ini masih terendam air.

Nanang menuturkan, genangan air yang terjadi akibat masih seringnya hujan turun belakangan ini tidak sampai menggenangi kawasan permukiman karena letaknya lebih tinggi dibandingkan dengan areal persawahan.

Aparat Kecamatan Bandung dan Unit Pelaksana Teknis Dinas Pertanian setempat masih mendata jumlah kerugian yang dialami para petani. Berdasarkan perkiraan sementara, sekitar 40 persen dari sawah yang tergenang air di enam desa tersebut sudah ditanami padi dengan    umur tanaman 80 hari. Seluas 30 persennya lagi baru berumur 30 hari dan sisanya sudah dipanen.

Nanang mengatakan, pihaknya akan mengusulkan kepada Pemerintah Kabupaten Serang agar petani yang tanaman padinya rusak akibat banjir tersebut bisa mendapatkan bantuan.

”Apalagi ada sebagian di antara petani yang tanaman padinya sudah hampir dipanen karena umurnya 80 hari,” katanya.

Selain itu, lanjut Nanang, sekarang juga sedang dilakukan pelebaran kali di wilayah Desa Pringwulung dan Babakan yang tembus ke Sungai Ciujung untuk memperlancar aliran air.

Kemarau

Prakirawan Stasiun Meteorologi Serang, Eko Widyantoro, mengatakan, seharusnya pada pertengahan Juli ini sudah masuk musim kemarau. ”Tetapi tahun ini ada gejala La Nina, kemaraunya bersifat basah. Hujan masih berpeluang terjadi,” katanya.

Akibat adanya anomali, suhu permukaan air laut yang normalnya 28-29 derajat celsius belakangan ini mencapai 29-30 derajat celsius. Panasnya suhu muka air laut ini mendorong tumbuhnya awan-awan konvektif yang berpeluang menimbulkan hujan, baik akibat pemanasan di Samudra Pasifik maupun Samudra Hindia.

Banten yang wilayahnya dikelilingi laut juga terpengaruh, baik karena faktor global di Samudra Pasifik dan Samudra Hindia maupun faktor lokal. Faktor lokal yang dimaksud berupa pemanasan yang terjadi di sekitar Banten, tiupan angin yang bersifat lokal, dan juga faktor orografi akibat keberadaan daerah bergunung-gunung dan lembah.

Eko menuturkan, gejala akan terjadinya pergeseran musim ini sudah terlihat sejak beberapa bulan lalu. Puncak musim hujan tahun 2009-2010, yang diperkirakan terjadi pada Desember 2009 dan Januari 2010, ternyata mundur menjadi Februari-Maret 2010.

”Di musim kemarau, normalnya curah hujan harian tidak sampai 20-an milimeter. Namun, beberapa hari lalu curah hujan di Serang tercatat malah ada yang sampai 76 milimeter dalam satu hari,” kata Eko.

Akibat anomali ini, kata Eko, warga diimbau tetap mewaspadai peluang banjir meskipun normalnya sekarang merupakan musim kemarau yang tidak lazim terjadi banjir. (CAS)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: