Ulah Manusia Perparah Abrasi Bali

Kompas, 2010-07-20 / Halaman 1

Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengakui, penanganan abrasi di Pulau Bali masih bersifat parsial, padahal abrasi sudah menjadi isu penting bagi masyarakat Bali. Pastika menyatakan kesiapannya mengoordinasikan semua kabupaten/kota untuk menangani abrasi secara bersama-sama.

”Saya sebagai Gubernur Bali segera mengupayakan pertemuan untuk membahas abrasi ini,” kata Pastika, Jumat (16/7), kepada Kompas, ketika menanggapi rekomendasi sejumlah pakar dan pejabat pemerintah di Bali setelah berdiskusi tentang abrasi, pertengahan bulan Juni lalu di Bali. Diskusi diselenggarakan Harian Kompas Biro Bali dan Nusa Tenggara.

Dalam diskusi itu, pembicara menyimpulkan bahwa faktor ulah manusia telah memperparah abrasi di Bali (lihat Kompas, 19 Juli 2010). Namun, penanganan abrasi oleh pemerintah kabupaten dan kota di Provinsi Bali masih berjalan sendiri-sendiri sehingga sekadar memindahkan masalah dari satu daerah ke daerah lain.

Hadir dalam diskusi itu anggota Dewan Perwakilan Daerah dari Bali I Wayan Sudirta, Bupati Gianyar Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, Guru Besar Tata Ruang Universitas Udayana Nyoman Gelebet, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Bali I Dewa Putu Punia Asa, ahli geomorfologi Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Universitas Udayana R Suyarto, dan Direktur Eksekutif Walhi Bali Institute Ngurah Karyadi.

Ulah manusia

Nyoman Gelebet mengemukakan, pembangunan telah mengabaikan tata ruang, seperti pemanfaatan sempadan pantai dan pembuatan floor area ratio. Penanganan parsial yang memindahkan masalah abrasi ke tempat lain terlihat dari rentetan peristiwa reklamasi dan pengerukan pasir. Misalnya, pengerukan pasir di depan Mertasari Sanur untuk reklamasi Serangan mengakibatkan Sanur terabrasi. Lalu, pengerukan pasir Geger untuk reklamasi Sanur mengakibatkan Nusa Dua Utara terabrasi. Pengerukan pasir Geger untuk reklamasi Nusa Dua Utara mengakibatkan Kuta terabrasi. Selanjutnya, pengerukan pasir Geger untuk reklamasi Kuta juga mengakibatkan Nusa Dua terabrasi.

Kepala Dinas PU Provinsi Bali I Dewa Punia mencatat, selain disebabkan gelombang tinggi dan tegak lurus ke arah pantai pada Desember-Maret, abrasi di Kabupaten Buleleng juga diakibatkan pendirian bangunan-bangunan yang menjorok ke laut tanpa memperhitungkan dampak lingkungan, termasuk pengambilan material laut. Kondisi ini juga terjadi di Karangasem.

Abrasi di Klungkung dipicu oleh penutupan muara sungai akibat timbunan pasir sehingga aliran sungai mengabrasi pantai. Penyebab lainnya adalah pengambilan material pantai, seperti pasir dan koral, yang tidak terkontrol, sedangkan penyebab abrasi di Denpasar karena pengambilan terumbu karang.

Staf Ahli Gubernur Bali I Gusti Nyoman Sura Adnyana beberapa waktu sebelumnya juga menyebutkan bahwa penambangan pasir di sungai memicu abrasi karena tak ada lagi pasir yang dibawa air ke muara dan pesisir. ”Dulu, batu karang di pesisir juga diambil untuk kapur dinding rumah,” ujarnya.

Cetak biru penataan

Kepala Dinas PU Provinsi Bali I Dewa Putu Punia mengatakan, pihak hotel juga belum tentu mau diatur terkait dengan penataan pantai di wilayahnya.

Bupati Gianyar Tjokorda mengharapkan adanya cetak biru (blue print) penataan pantai di Bali secara menyeluruh sehingga pantai dapat dimanfaatkan maksimal untuk kepentingan adat atau ekonomi tanpa merusak pantai.

Peraturan Daerah Rencana Tata Ruang Wilayah Bali, menurut Ngurah Karyadi, sesungguhnya sudah mengatur penataan pantai. Namun, peraturan daerah ini tidak bisa dilaksanakan dengan baik karena disusun dari atas dan ketika hendak dirinci lebih jauh di tingkat kabupaten/ kota ada banyak perbedaan.

Tjokorda juga mengakui, penanganan abrasi tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri oleh kabupaten/kota di Bali tanpa koordinasi dan menyeluruh.

Kalau saja para investor digerakkan secara bersahabat, sesungguhnya mau berpartisipasi mengatasi abrasi. Dicontohkan, ada pengelola vila di Ketewel yang telah mengeluarkan dana pemeliharaan pantai miliaran rupiah, tetapi selama ini hal itu hanya dilakukan di sekitar vilanya.

Menurut Candy Juliani dari Public Relation Sanur Beach, perhimpunan perhotelan sesungguhnya sangat peduli terhadap pelestarian lingkungan, khususnya laut, sebab apa pun yang terjadi pada pantai Bali akan berdampak pada pariwisata. ”Wisatawan ke Bali mencari pantai, jadi memang sepantasnya kami ikut menjaga,” katanya.

Sanur Beach tahun ini memprogramkan eco-hotel, antara lain mengurangi penggunaan mandi dengan bak besar karena boros air dan ini mengurangi limbah ke laut. Bak mandi besar akan diganti dengan pancuran. Ada juga program untuk mengurangi sampah plastik dan memilah sampah. ”Ini sudah jadi komitmen kami,” kata Candy. (BEN/AYS/SUT)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: