Penyediaan Data Masih Belum Penuhi Kebutuhan

Kompas, Lingkungan & Kesehatan 2010-07-20 / Halaman 12

Perubahan iklim akibat pemanasan global selalu diindikasikan ketidakpastian cuaca. Ancaman mendasar bagi petani adalah terganggunya pola tanam, tetapi pemerintah belum mampu memenuhi kebutuhan petani agar mampu mengantisipasi ancaman tersebut.

”Salah satu ketidaksiapan pemerintah adalah menyajikan prakiraan cuaca yang akurat bagi petani minimal hingga tiga bulan ke depan,” kata Kepala Departemen Proteksi Tanaman pada Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Dadang, Jumat (16/7) di Bogor.

Menurut Dadang, petani tanaman hortikultura, seperti bawang, cabe, tomat, kentang, dan sayur-sayuran, banyak yang gagal panen. Mereka memperkirakan pada Juni-Juli sudah tidak ada hujan. Sementara petani tanaman pangan pokok padi menghadapi serangan hama wereng batang cokelat. Tahun 2009 lalu tercatat serangan hama wereng mencapai 13.122 hektar di seluruh wilayah Indonesia. Jumlah ini akan melonjak drastis tahun ini. Hingga Juni 2010 serangan sudah 30.150 hektar.

”Pemerintah harus mewaspadai tren penyakit baru dari virus yang bisa disebarkan wereng batang cokelat ini, yaitu virus kerdil hampa,” kata Dadang.

Intensitas hujan yang tinggi pada musim panas menyebabkan tingkat kelembaban tinggi pula. Menurut Dadang, tingkat kelembaban tinggi memicu perkembangan hama serta penyakit-penyakit tanaman.

Peringatan dini

Kepala Subbidang Peringatan Dini Iklim pada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Erwin Eka Syahputra Makmur mengakui, BMKG tidak bisa memberikan peringatan dini tentang gangguan cuaca ekstrem. Tanda-tanda gangguan ekstrem diketahui dalam waktu relatif singkat, bahkan hanya beberapa hari di depan.

”Hujan besar di suatu lokasi atau di luar musim hujan seperti sekarang belum bisa diprediksi 3 atau 4 bulan di depan,” katanya.

Setiap enam bulan sekali BMKG menyampaikan prakiraan musim yang disampaikan ke lembaga-lembaga teknis, terutama instansi pemerintah yang menangani masalah pertanian. ”Setiap bulan prakiraan musim itu dievaluasi,” kata Erwin.

Kepala Subbidang Cuaca Ekstrem Bidang Peringatan Dini Cuaca BMKG Kukuh Ribudiyanto mengatakan, upaya menginformasikan prakiraan cuaca hingga ke tingkat petani pernah dilakukan BMKG, tetapi tidak bisa menjangkau semua wilayah.

”Pada 2009 saya menyampaikan ramalan cuaca kepada petani dan penyuluh pertanian di beberapa kabupaten di Jawa. Tahun 2010 ini dilanjutkan ke wilayah Indonesia timur,” kata Kukuh.

Menurut Dadang, informasi ramalan cuaca yang tidak sampai kepada petani diperparah dengan berkurangnya fungsi penyuluhan pertanian. Kewenangan atau otoritas pemerintah untuk menentukan varietas tanaman yang mungkin ditanam pun melemah.

”Ketika terjadi serangan hama, dibutuhkan otoritas mengatur jenis tanaman yang mampu memutus siklus hidup hama,” kata Dadang. Petani yang memiliki lahan beririgasi baik biasanya menanam padi sepanjang tahun. Ketika serangan hama terjadi, mestinya pemerintah punya otoritas mengalihkan jenis tanaman secara serentak. Selain itu, ”Juga harus ada regenerasi penyuluh pertanian,” kata Dadang. (NAW)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: