Abrasi Kian Dahsyat Menggerus Pulau Bali

Kompas, 2010-07-19 / Halaman 1

Abrasi atau proses pengikisan pantai yang disebabkan arus dan gelombang laut semakin dahsyat menggerus Pulau Bali. Prosesnya berlangsung kian cepat dan makin panjang, dan hampir separuh panjang pantai di Pulau Dewata sudah mengalami abrasi.

Berdasarkan citra satelit tahun 2009, dari 437,7 kilometer total panjang pantai di Bali, sepanjang 181,7 kilometer di antaranya sudah mengalami abrasi (41,5 persen). Padahal, tahun 1987 pantai di Bali yang kondisinya demikian hanya 49,95 kilometer (11,4 persen). Dengan kata lain, dalam tempo 22 tahun, daya rusak abrasi di Pulau Bali meningkat hampir empat kali lipat.

Demikian data Balai Wilayah Sungai Bali-Penida Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum 2010 yang disampaikan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Bali I Dewa Putu Punia Asa. Data tersebut disampaikan dalam diskusi panel bertajuk ”Abrasi Mengancam Bali” di Kantor Kompas Biro Bali-Nusa Tenggara pada pertengahan Juni lalu, yang selanjutnya dilengkapi dengan data dan pengamatan lapangan di sejumlah titik abrasi.

Hadir dalam diskusi itu anggota Dewan Perwakilan Daerah dari Bali, I Wayan Sudirta; Bupati Gianyar Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati; Guru Besar Tata Ruang Universitas Udayana Prof Nyoman Gelebet; ahli geomorfologi Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Universitas Udayana, R Suyarto; dan Direktur Eksekutif Walhi Bali Institute Ngurah Karyadi.

Dari hasil pendalaman terlihat bahwa data itu menunjukkan gejala peningkatan abrasi yang luar biasa di Bali. Dari survei tahun 2008 ditemukan abrasi pantai di Bali hanya 93,07 kilometer. Berarti, dalam satu tahun (2008-2009), pengikisannya mencapai 88,63 kilometer.

Punia Asa yang menyampaikan data tersebut dalam diskusi pun terkejut atas lonjakan besar pada 2009 itu. Diduga kuat lonjakan panjang kawasan yang terabrasi pada 2009 diperoleh dari pengamatan melalui satelit, sedangkan sebelumnya hanya berdasarkan survei lapangan.

”Kami juga tak menyangka abrasi di Bali separah itu setelah mendapatkan data dari citra satelit. Citra satelit jelas lebih akurat,” lanjutnya, Selasa (13/7).

Menurut dia, data tahun 1998 sampai 2008 diperoleh melalui survei Dinas Pekerjaan Umum Bali dan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Sejak 2009 kedua instansi itu menggunakan data satelit.

Ngurah Karyadi berkeyakinan, meski terjadi perbedaan metode, data survei dan satelit itu tetap menunjukkan adanya abrasi yang luar biasa. Menurut catatannya, pada tahun 2008-2009 memang terjadi banyak peristiwa abrasi luar biasa di Bali. Abrasi di wilayah Cupel dan Candikusuma (Jembrana) bahkan telah merusak lahan pertanian dan kawasan permukiman. ”Di beberapa pantai di Jembrana, seperti Gilimanuk, Candikusuma, dan Medewi, kini garis pantai mundur 5-10 meter dibandingkan setahun lalu,” ujarnya.

Data yang dimiliki R Suyarto juga memperkuat fakta adanya percepatan abrasi itu. Berdasarkan catatannya, pada tahun 1987 abrasi hanya terjadi sepanjang 51,5 kilometer, tahun 1997 menjadi 64,85 kilometer, tahun 2003 lebih meningkat lagi menjadi 70,11 kilometer, dan tahun 2008 menjadi 91,07 kilometer.

Membandingkan data tersebut, kesimpulannya jelas bahwa abrasi di Pulau Bali berlangsung semakin cepat dan luas. Dalam kurun waktu 2003-2008 (lima tahun), pengikisan panjang pantai meningkat 20,96 kilometer atau rata-rata 4,19 kilometer setiap tahun. ”Bentuk Pulau Bali akan berubah,” tegas Suyarto.

48 pantai terabrasi

Berdasarkan data Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Bali, paling tidak ada 48 wilayah pantai yang mengalami abrasi, terpanjang di Kabupaten Buleleng (54,83 km), diikuti Kabupaten Karangasem (34,8 km). Namun, dilihat dari persentase pantai yang terkikis, paling besar terjadi di Kota Denpasar (62,5 persen).

Pengamatan Kompas di lapangan, pekan pertama Juli 2010, menggambarkan, abrasi masih terus terjadi di banyak pantai di Bali. Di sisi timur Kabupaten Buleleng, misalnya, mulai dari Singaraja hingga Tejakula kondisi itu terlihat. Pantainya terkikis. Bahkan, tanah di sekitar tanaman pohon kelapa hingga pekarangan rumah pun ikut tergerus. Masyarakat yang tinggal di pesisir mengakui, gelombang tinggi tegak lurus setinggi lebih dari 1 meter masih sering terjadi dan mengakibatkan luruhnya material daratan di pesisir ke tengah laut.

Abrasi juga terlihat di Pantai Padanggalak, Sanur. Pesisir pantai kian menyempit. Hal itu membuat areal Pura Campuhan Windu Segara yang berada di bibir pantai pun menjadi semakin sering tergenang saat pasang datang.

”Dulu, tahun 1995-an, pasir pantai itu panjangnya sampai 50 meter. Sekarang tinggal 20-an meter. Saat pasang tahunan, sekitar April, ujung ombak bahkan sudah masuk ke pura,” kata Gede Alit Arnyana (54), pendiri pura dan juga pemangku di sana, Kamis (8/7).

Tahun 2003 terjangan ombak bahkan merobohkan sebuah pura di sana. Untuk mengatasi terjangan ombak, tahun 2008 sudah dibangun tanggul pemecah ombak yang terbuat dari tumpukan batu-batu besar. Namun, kini bagian ujung tanggul itu pun mulai hancur.

Di Jembrana, abrasi juga telah mengakibatkan rusak atau hilangnya lahan pertanian dan kawasan permukiman, antara lain di Cupel dan Candikusuma. Awal Februari 2010 abrasi mengakibatkan dermaga nelayan, tempat pelelangan ikan, dan dua warung di pesisir Candikusuma ambrol.

Tahun 2007 sedikitnya 49 keluarga di Cupel harus direlokasi, termasuk makam warga desa. (SUT/BEN/AYS/RYO)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: