Sumber Pembentukan Awan Hujan “Mengepung” Indonesia

Kompas, Lingkungan & Kesehatan 2010-07-17 / Halaman 13

Sumber pembentukan awan hujan berupa aliran massa uap air saat ini ”mengepung” wilayah Indonesia. Aliran massa uap air akibat suhu permukaan laut yang menghangat dari Samudra Hindia memengaruhi terjadinya hujan sporadis di Sumatera dan Jawa.

Kondisi Laut China Selatan memengaruhi hujan di Kalimantan, sedang dari Samudra Pasifik memengaruhi hujan kawasan Indonesia timur. Banyaknya hujan ini merupakan anomali cuaca di sebagian besar wilayah Indonesia sehingga diperkirakan menimbulkan gangguan pada pola pertanian dan kesehatan masyarakat.

”Seperti hujan yang terjadi dini hari hingga pagi ini di Jakarta, itu merupakan dampak aliran massa uap air dari Samudra Hindia yang mengakibatkan hujan sporadis atau lokal,” kata Manajer Laboratorium Teknologi Sistem Kebumian dan Mitigasi Bencana Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Fadli Syamsuddin, Jumat (16/7) di Jakarta.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga memprakirakan, hujan masih akan terjadi hampir di seluruh wilayah di Indonesia. Hingga 18 Juli 2010, diprakirakan semua kota besar di Sumatera terkena hujan ringan yang menimbulkan kelembaban maksimal 97 persen.

Begitu pula di Jawa, semua kota besar, kecuali Semarang, akan mengalami hujan ringan. Semarang diprakirakan berawan. Di Kalimantan, hanya Kota Samarinda yang diprakirakan berawan, lainnya hujan ringan. Di wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua rata-rata mengalami hujan ringan dan berawan.

Menurut Fadli, aktivitas siklon atau badai tropis Conson yang sedang berlangsung di Laut China Selatan memengaruhi hujan sporadis di wilayah Indonesia bagian utara ekuator. ”Hujan bersifat lokal. Namun, La Nina dari Samudra Pasifik nanti bisa memengaruhi hujan secara regional, khususnya di wilayah Indonesia timur,” kata Fadli.

Kepala Subbidang Informasi Meteorologi BMKG Harry Tirto Jatmiko memprediksikan, fenomena La Nina akan terus menguat dan berlangsungnya hingga November 2010.

La Nina berdampak hujan regional dengan intensitas dan curah hujan lebih tinggi dibanding hujan lokal. Bagi perairan laut, berdampak gelombang tinggi.

BMKG memprakirakan, dalam beberapa hari ini tinggi gelombang laut mencapai 4-5 meter di selatan Pulau Sumba, perairan Pulau Rote, Laut Timor, Laut Banda bagian selatan, perairan selatan Kepulauan Aru, perairan Kepulauan Babar dan Kepulauan Tanimbar, Laut Arafuru, serta perairan Merauke. (NAW)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: