Peta Terbaru demi Keamanan Bangunan

Kompas, Lingkungan & Kesehatan 2010-07-17 / Halaman 13

Berdasarkan Peta Zonasi Gempa Tahun 2010 yang diluncurkan Jumat (16/7), pemerintah akan segera merevisi Standar Nasional Indonesia 03-1726-2002 begin_of_the_skype_highlighting              03-1726-2002      end_of_the_skype_highlighting. Peta Zonasi Gempa tersebut merepresentasikan potensi bahaya gempa secara lebih akurat.

Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto menyampaikan hal itu di Bina Graha Jakarta seusai paparan Peta Zonasi Gempa Tahun 2010, kemarin siang.

Peta tersebut adalah yang pertama kali mengakomodasi semua kebutuhan, yaitu untuk bangunan gedung, bangunan air, dan jembatan. Hal itu diungkapkan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pekerjaan Umum Sumaryanto Widiyatin pada kesempatan pemaparan peta di Kementerian Pekerjaan Umum, kemarin pagi.

Djoko mengatakan, ”Sudah ada SNI untuk pembuatan perencanaan gedung agar gedung tahan gempa, yaitu SNI Nomor 3 Tahun 2002. Kami anggap itu sudah out of date karena didasarkan pada kaidah lama, sekarang faktanya banyak kejadian gempa besar di Indonesia.”

Peta baru tersebut telah mengacu pada International Building Code (IBC) 2006, berdasarkan analisis sumber gempa tiga dimensi, menggunakan data-data terbaru, dan dibuat untuk periode ulang 475 tahun dan 2475 tahun untuk respons spektra periode pendek (0,2 detik) dan periode panjang (1 detik).

Djoko mengatakan, berdasarkan peta yang baru diselesaikan tim beranggotakan tenaga ahli dari ITB, LIPI, Kementerian PU, Kementerian ESDM, serta Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) ini, pihaknya akan menyusun rancangan SNI yang baru dan akan dimatangkan Agustus mendatang dan diteruskan dengan pembuatan SNI.

Selama ini SNI belum bersifat wajib. Sementara pemerintah daerah harus menyusun peraturan terkait pembangunan (building code) masing-masing karena kerentanan wilayah terhadap gempa besar berbeda-beda. Sejauh ini, menurut Sumaryanto, baru DKI Jakarta yang cukup baik peraturannya.

Sementara itu, ketua tim, Prof Masyhur Irsyam, mengatakan, walau peta gempa ini telah dikembangkan berdasarkan data dan metodologi terkini, masih perlu disempurnakan secara berkelanjutan karena masih banyak penelitian yang perlu dilakukan.

”Perlu studi baru untuk mengurangi risiko bahaya gempa yang lebih besar karena mengingat peristiwa Aceh yang kekuatan gempanya lebih besar dari yang diperhitungkan semula,” katanya.

Standar nasional yang baru itu merupakan acuan bagaimana sebuah bangunan harus dibuat agar mampu menahan guncangan gempa sehingga meminimalkan kerusakan dan dampak berdasarkan peta wilayah rawan gempa yang telah selesai dibuat.(ISW/ANT)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: