Lingkungan 2010-07-17 Tanam Jati untuk Jati Diri Muna


Tanam Jati untuk Jati Diri Muna

DITENGAH berkembangnnya image kepunahan Jati di Muna, rupanya masih ada juga kelompok masyarakat yang peduli pada tanaman ciri khas sekaligus jati diri orang Muna ini.

Seperti yang dilakukan kelompok petani hutan jati masyarakat (PHJM) di Desa Wakumoro, Kecamatan Parigi. Mereka berhasil mengembangkan kurang lebih 250 hektar pohon Jati atas swadaya masyarakat. Karena Jati merupakan tanaman jangka panjang, maka untuk mensiasati terpenuhinya kebutuhan sehari-hari, kebanyakan mereka mengkombinasikannya dengan tanaman semusim seperti cokelat dan kopi.

Ketua Kelompok Wuna Lestari, Muh Asri mengatakan selain daerahnya, daerah yang telah menjadi anggota PHJM dan sebagai sentra penanaman pohon jati saat ini juga meliputi Kecamatan Tongkuno dan Sawerigading, dengan total kawasan Jati PHJM pada ketiga kawasan tersebut mencapai 130 ribu hektar.

Menurut Asri, alasan menanam Jati selain karena harga jual yang tinggi, juga sebagai ajang pembuktian kepada pemerintah jika masyarakat bukan perusak Jati. “Semua anggota PHJM menanam Jati di lahan milik, saat ini kami tengah berupaya memiliki sertifikasi ekolabel layaknya koperasi hutan jaya lestari di Konsel (KHJL),” katanya. Menurutnya, upaya tersebut diakukan agar anggotanya menghasilkan Jati dengan kualitas ekspor, serta harga jual yang tinggi.

Sayangnya upaya tersebut tidak didukung
oleh regulasi pemerintah Kabupaten Muna. Muhammad Asri mencontohkan, tingginya retribusi penjualan hasil Jati olahan maupun bukan olahan yang ditetapkan oleh pemerintah daerah, misalnya untuk kayu tipe A1 (diameter 30 cm keatas) retribusinya sebesar Rp 300 ribu, A2 (diameter 20-29 cm) sebesar Rp 150 ribu dan A3 (diameter 20 cm ke bawah) Rp 75 ribu.

Pria asal Wakumoro ini menilai, lemahnya instrumenhukumtentang pengelolaan kayu Jati yang diterapkan di Muna, justru membunuh kreatifitas petani untuk mengembangkan Jati. Karena selain retribusi yang tinggi, masyarakat masih dibebankan dengan pungutan lain oleh oknum tertentu. “Walau harga jual Jati Rp 2 juta per kubik, namun setelah membayar retribusi dan pungutan-pungutan lain, hasil yang sampai ditangan petani sekitar Rp 800 ribu per kubik,” rincinya.

“Walau harga jual Jati Rp 2 juta per kubik, namun setelah membayar retribusi dan pungutan-pungutan lain, hasil yang sampai ditangan petani sekitar Rp 800 ribu per kubik,” rincinya.

Data perkumpulan NGO Swadaya Masyarakat Indonesia (Swami) pada bulan Januari-Februari 2009, sekitar 35 desa dari 237 desa di 10 kecamatan se-Kabupaten Muna, terdapat 143 masyarakat yang menanam jati atas swadaya masyarakat. Dengan areal 1.000,3 hektar, dan terdapat 562.003 pohon dengan masa panen 1-20 tahun.

Berkat pendampingan yang dilakukan oleh Swami, saat ini sedikitnya terdapat sekitar 130 ribu hektar Jati, dengan umur antara 1-20 tahun di Kabupaten Muna. Yang mana setiap anggota PHJM menanam Jati seluas 1 hingga 30 hektar per hamparan. Setidaknya luasan ini mampu menambah pertumbuhan populasi jati sekitar 200 hektar di kawasan hutan produksi yang tersisa, akibat perambahan illegal tanpa ada kejelasan siapa pelakunya.

Seperti yang disaksikan rombongan journalist trip (JT) di belakang kantor UPTD Dishut Muna Tenggara di Kelurahan Wakuru Kecamatan Tongkuno, terdapat tiga pohon Jati dengan ketinggian 3 meter lebih dan diameter sesuai usia panen ditebang begitu saja tanpa ada petugas yang berupaya mengamankan barang bukti (BB) itu.

Jufri, salah seorang staf UPTD mengatakan, rata-rata modus operandi penebangan kayu illegal menggunakan gergaji tangan dan gerobak dorong. Kebanyakan dilakukan pada malam hari atau saat hujan di siang hari. Anehnya hasil pengamatan wartawan JT, terdapat pohon yang memiliki bekas gergajian bahkan chain show sehingga seolah-olah tumbangnya pohon Jati bukan karena perbuatan terlegalisir, tetapi tumbang dengan sendirinya. Padahal jaraknya hanya sekitar 10 meter dari kantor UPTD Kehutanan Tongkuno.

Lain lagi permasalahan yang terjadi di Desa Lakapoda Kecamatan Watuputi. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, warga di desa ini memilih menebang kayu Jati di kawasan hutan karena tak adanya lapangan pekerjaan bagi mereka.

Walau demikian, ada juga warga yang membudidayakan Jati, tetapi masih khawatir dengan nasib Jatinya ke depan, karena lahan budidaya tersebut masih berstatus tanah negara. Sebaliknya, menurut Dishut Kabupaten Muna jika tanah tersebut bukan merupakan hutan negara. “Sejak lima tahun lalu saya telah menanam Jati, dengan harapan 20-30 tahun ke depan dapat dipanen dengan harga terjangkau yaitu lebih dari Rp 1- Rp 2 juta per pohon. Selain itu saya dan petani Jati di lingkungan ini mengingingkan kejelasan status kawasan, agar ke depannya tidak terjadi konflik, pasalnya menurut Pemkab tanah yang masing-masing seluas 1 hektar yang kami tanami Jati merupakan tanah negara,” ujar petani Jati di Desa Lakapoda Kecamatan Watuputih, Arsini.

“Sejak lima tahun lalu saya telah menanam Jati, dengan harapan 20-30 tahun ke depan dapat dipanen dengan harga terjangkau yaitu lebih dari Rp 1- Rp 2 juta per pohon. Selain itu saya dan petani Jati di lingkungan ini mengingingkan kejelasan status kawasan, agar ke depannya tidak terjadi konflik, pasalnya menurut Pemkab tanah yang masing-masing seluas 1 hektar yang kami tanami Jati merupakan tanah negara,” ujar petani Jati di Desa Lakapoda Kecamatan Watuputih, Arsini.

Melihat sekelumit permasalahan yang dikeluhkan masyarakat petani Jati, alangkah bijaknya jika Pemkab bersama instansi terknis terkait segera melakukan inventarisasi dan pemetaan potensi hutan Jati. Dengan begitu diharapkan dapat diketahui areal mana saja yang dapat dijadikan tempat menanam Jati untuk kesejahteraan mereka, serta areal yang dapat digunakan oleh pemerintah sebagai lahan reboisasi berbagai program kehutanan.

Disadari jika hal ini pastinya perlu mendapat dukungan regulasi dari pemerintah,seperti yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten Konawe Selatan(Konsel)terhadapkelompokpetanikayu yang tergabung dalam koperasi hutan jaya lestari (KHJL). Disamping itu juga dibutuhkan kebijakan pengurangan retribusi dan pemotongan mata rantai yang berbelit-belit, dalam penjualan hasil Jati, serta adanya jaminan pasar, stabilitas harga dan tekhnologi pasca panen.

Tidak kalah pentingnya komitmen pemerintah dan masyarakat untuk bersama-sama mewujudkan kembalinya jati diri Muna, dengan tidak adanya lagi kasus perambahan kayu Jati sehingga Muna kembali dikenal akan kayu Jatinya yang berkualitas.

MEMANFAATKAN TUNGGAK JATI
Disadari atau tidak tunggak Jati masih dapat bernilai ekonomi. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan Anggota Swami, Muhammad. Menurutnya, jika tunggak Jati diolah dengan baik, bisa memberi nilai ekonomi yang tinggi. Misalnya diolah menjadi berbagai meubeler mulai dari tehel hingga peralatan rumah seperti kursi, meja dan lemari.

Berdasarkan pengalamannya, tunggak jati yang tingginya masih setinggi setengah atau satu meter masih masih dapat menghasilkan bahan baku kayu fluring sebanyak 1 kubik, yang mana harga 1 kubik jati saat ini senilai Rp 1 juta-Rp 2,5 juta. “Begitu pula untuk ujung kayu yang telah berbentuk papan yang hanya digunakan masyarakat untuk pagar kebun, padahal masih dapat digunakan untuk pembuatan kursi dan meja serta koseng pintu dan jendela, dengan harga jual lokal meubeler tersebut berkisar Rp 3 juta per set meubeler,” ungkap Muhammad.

Untuk diketahui ciriumumtanaman jati Muna diantaranya kayu teras berwarna kuning emas kecokelatan sampai cokelat kemerahan. Gubal berwarna putih kekuningan sampai putih keabu-abuan. Arah serat lurus, bergelombang, dan agak berpadu. Tekstur agak kasar, kasar dan tidak merata. Kulit tampak kilap agak kusam. Memiliki corak agak dekoratif dan indah karena terlihat jelasnya lingkaran tubuh. Apabila diraba terasa kesat. Kayunya agak keras dan agak berbau seperti bau bahan penyamak.

Kayu yang masih muda umumnya memiliki berat jenis,moduluspatahdanmoduluselastisitas yang lebih kecil dibanding kayu yang lebih tua. Kulit pada bagian pangkal batang paling tebal dibandingkan bagian tengah dan ujung batang. Makin tua umur pohon, diameter batang dan persentase kayu teras makin besar. Makin keujung batang persentase kayu teras makin kecil. Kayu batang pada bagian pangkal lebih tipis. Dimensi selnya makin besar, berat jenisnya makin besar, kerapatannya makin besar, kadar airnya makin kecil.

Menurut Dosen Jurusan Kehutanan (Faisal Danu Tuheteru), Jati Muna termasuk kayu dalam kelas I dan awet terhadap serangan rayap tanah (CaptotermescurvignathuHolmgreen)danrayap kayukering(Criptotermescynochephalluslight), sehingga tidak perlu diawetkan. Untuk keperluan furniture, kayu jati Muna dapat dipanen sebelum umur 30 tahun, sedangkan untuk keperluan konstruksi disarankan pada usia 40tahun.

Berdasarkan penelitian Fakultas Kehutanan IPB, Sultra khususnya Kabupaten Muna merupakan tempat penyebaran jati terbesar kedua di Indonesia setelah Jawa. Dengan tempat tumbuh yang kurang subur dan curah hujan yang rendah membuat kayu jati Muna dari daerah ini tampak lebih gelap dan lebih indah nilai dekoratifnya dibandingkan dengan kayu Jati Jawa.

Secara genetik Jati Muna menunjukkan sifatsifat unggul, misalnya secara fisik memiliki batang lurus, silindris, bebas cabang tinggi, berdiameter besar, serta bebas dari hama dan penyakit. Karena itu sangat penting jika Pemkab bersama semua stakeholder untuk segera melakukan perlindungan terhadap Jati Muna yang belum dirambah, misalnya di daerah Warangga dan Tongkuno.

Dengan begitu keberadaan Jati Muna dengan genetik asli yang terbukti kualitasnya, dapat terus dipertahankan. Yang tentunya hal ini akan berdampak pada masa depan Muna ke depannya, baik untuk kesejahteraan masyarakat maupun PAD kabupatennya.
>>ulfah Sari Sakti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: