Penambang Pasir Marak, Ecoton Surati Pemerintah

Kompas, Nusantara 2010-07-16 / Halaman 22

Lembaga kajian ekologi dan konservasi lahan basah Ecoton mengirim surat kepada Presiden RI melalui Kementerian Pekerjaan Umum terkait kerusakan di Sungai Brantas, Jawa Timur, akibat pencemaran lingkungan dan aktivitas penambangan pasir. Pemerintah diminta mengembalikan kondisi Sungai Brantas dalam waktu 76 hari.

Direktur Eksekutif Ecoton Prigi Arisandi mengatakan, pihaknya telah melakukan penelitian selama dua bulan dan mendapati sedikitnya 25 titik rawan longsor di Daerah Aliran Sungai Brantas akibat penambangan pasir.

Titik-titik rawan itu tersebar di tiga wilayah, meliputi Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Nganjuk, dan Kabupaten Jombang. Ecoton juga mendapati sedikitnya 200 perahu dipakai untuk membawa diesel penyedot pasir di sepanjang aliran Sungai Brantas.

Menurut Prigi, ada tiga poin penting dalam surat yang dikirim pada 13 Juli 2010 kepada Kementerian Pekerjaan Umum sebagai penanggung jawab pengelolaan Sungai Brantas.

Pertama, perlunya moratorium, yakni penghentian sementara aktivitas penambangan pasir di Nganjuk, Jombang, dan Mojokerto. Kedua, meminta pemerintah mengidentifikasi lokasi yang bisa digunakan sebagai tempat penambangan pasir mengingat kebutuhan pasir sangat tinggi. Poin ketiga, pelibatan kepolisian dalam pengawasan aktivitas penambangan pasir.

Sungai Brantas yang panjangnya sekitar 340 kilometer itu saat ini mengalami tiga masalah. Di kawasan hulu sungai terjadi alih fungsi hutan yang mengakibatkan matinya sumber-sumber air Sungai Brantas. Kawasan tengah sungai mengalami pendalaman akibat maraknya penambangan pasir. Adapun di kawasan hilir Sungai Brantas yang airnya dikonsumsi oleh warga dibelit masalah pencemaran sungai. Tak kurang dari 300 ton limbah cair per hari dibuang ke Sungai Brantas tanpa diolah.

Sementara itu, pada hari yang sama di Kota Kediri, ratusan siswa kelas III SMA Negeri 2 Kota Kediri menggelar aksi di bantaran Sungai Brantas.

Mereka mengajak masyarakat menyelamatkan Sungai Brantas yang kondisinya kini rusak berat akibat pencemaran dan aktivitas penambangan pasir.

Edy Purwanto, guru Biologi SMA Negeri 2 Kota Kediri, mengatakan, tujuan aksi ini selain untuk menyosialisasikan penyelamatan Sungai Brantas kepada masyarakat, juga untuk menanamkan kesadaran tentang pentingnya menjaga lingkungan sejak dini kepada para siswa.

Menurut Edy, kerusakan Sungai Brantas sangat parah. Salah satu parameternya, berkurangnya populasi ikan dan binatang lain yang menghuni sungai. Sebagai gambaran, tahun 1990-an ditemukan lebih dari 100 jenis spesies ikan di Sungai Brantas. Akan tetapi mulai tahun 2000- an, jumlah ikan yang ditemukan tinggal puluhan jenis. (NIK)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: