Orangutan Menjadi “Bodoh”

Kompas, Lingkungan & Kesehatan 2010-07-16 / Halaman 13

Orangutan yang terlalu lama tinggal di pusat rehabilitasi rentan menjadi ”bodoh” dan terkena gangguan aneka penyakit. Saat ini masih sulit mencari hutan yang sehat sekaligus legal untuk melepasliarkan hewan mamalia itu.

Hal itu terungkap dalam salah satu sesi di ”Lokakarya Konservasi Orangutan Internasional” yang digelar Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kementerian Kehutanan bekerja sama dengan Forum Orangutan Indonesia di Sanur, Bali, Kamis (15/7).

Ketua Pembina Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) Bungaran Saragih mengungkapkan, pelepasliaran terbesar orangutan sudah berlangsung delapan tahun lalu sebanyak 400 ekor. Sejak saat itu lembaganya ataupun lembaga sejenis lain kesulitan mencari hutan yang cocok untuk pelepasliaran.

”Selain memang hutan yang cocok susah didapat karena sudah rusak, kami juga terbentur beberapa aturan sebagai prasyarat melakukan pelepasliaran. Orangutan yang terlalu lama di pusat konservasi menjadi tidak peka lagi pada habitatnya alias ”bodoh”, sebagian lainnya juga terserang penyakit,” katanya.

Perluas konservasi

Sekretaris Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kementerian Kehutanan Boen Purnama menyatakan, pemerintah bertekad menambah luas hutan yang diubah peruntukannya dari hutan produksi menjadi hutan konservasi orangutan.

Langkah ini demi target ambisius pemerintah yang tercantum dalam Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Orangutan Indonesia 2007-2017, yakni proses reintroduksi orangutan ke habitat aslinya di Indonesia selesai tahun 2015.

”Alokasi ataupun sistemnya tidak didesain secara khusus, tetapi disesuaikan dengan permintaan lembaga konservasi,” kata Boen. Bungaran mengaku, dua tahun terakhir pihaknya sudah mengajukan izin hak mengelola hutan konservasi di Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah seluas 104.000 hektar. Namun, belum ada tanda-tanda realisasinya.

Yayasan BOSF mengaku punya sedikitnya 1.200 ekor orangutan di pusat rehabilitasinya, 850 ekor di antaranya di Kalimantan dan sisanya di Sumatera. Di Kalimantan tersisa kurang dari 54.500 ekor orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) dan di Sumatera tinggal sekitar 7.400 ekor orangutan Sumatera (Pongo abelli). (BEN)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: