Lembar Informasi 2010-05 Mengembangkan Potensi Rumput Laut Di Wakatobi, Jantung Segi tiga Karang Dunia

Mengembangkan Potensi Rumput Laut Di Wakatobi,

Jantung Segi tiga Karang Dunia

Wakatobi memiliki  beragam   jenis  rumput laut dan ada dua jenis yang ekonomis penting yaitu Eucheuma cottonii dan Gracillaria spp. Masyarakat   lebih   memilih  membudidayakan   jenis E. cottoni   (dalam bahasa lokal di Wakatobi  disebut Garangga) dengan metode metode longline (tali panjang) karena masa pemeliharaannya cepat, hanya sekitar 42 hari, dan produksinya juga banyak. Dalam satu tahun masyarakat dapat memanen 2-4 kali. Musim puncak pemeliharaan rumput laut  pada musim timur atau sekitar bulan Juni-September. Jumlah produksi pada musim ini dapat mencapai 2 ton rumput laut kering, sedangkan pada bulan Oktober-November, produksi rumput laut cenderung menurun (sekitar 500 kg rumput laut kering).

Wakatobi yang terdiri atas 8 (delapan Kecamatan memiliki produksi rumput laut basah pada tahun 2008-2009 berkisar pada 13.054-13.137,8 ton (Sumber: Dinas Kelautan dan  Perikanan  Wakatobi, 2010). Bila   perbandingan   berat  kering dan basah menggunakan rasio 1: 6 maka jumlah produksi berat kering rumput laut  per tahun dari Wakatobi sekitar 2.100 ton.

Dari data yang kami peroleh, kesejahteraan pada masayarakat petani rumput laut sebagai dampak dari usaha budidaya  ini di Wakatobi pelan pelan telah dinikmati oleh masyarakat.   Hitungan simpelnya mereka adalah dengan produksi rumput laut kering 4 ton dimana harga sekarang mencapai Rp. 10.000,-  maka  dapat dihasilkan pendapatan sekitar Rp. 40 juta.

Ada sekitar 4 (empat) masalah yang masih dihadapi oleh para Petani Rumput Laut di Wakatobi  hingga saat ini adalah :
1. Tata ruang  pemanfaatan lahan budidaya  yang masih belum sepenuhnya dipahami oleh masyarakat pembudidaya rumput laut sehingga berpotensi menimbulkan masalah kepemilikan lahan.
2. Stabilitas harga sehingga berdampak pada  harga rumput laut kering  cenderung fluktuatif.
3. Ketersediaan bibit  baik dalam kuantitas dan kualitas secara kontinyu serta munculnya  penyakit putih putih (ice –  ice)  dan lumut.
4. Keterbatasan modal usaha. Minimal Rp. 5-6 juta  modal yang  dibutuhkan dalam setiap kali penanaman

Untuk mengatasi keempat masalah di atas, langkah yang perlu diambil adalah :
1. Tata ruang kawasan budidaya rumput laut di Wakatobi harus disusun (bila memang belum ada), di sosialisasikan sehingga tata ruang yang telah disusun melalui Peraturan Daerah (PERDA) hingga Peraturan Desa (PERDES) yang melibatkan semua fihak dapat  dipahami oleh masyarakat khususnya petani rumput laut. PERDA atau PERDES tersebut seyogyanya mempertimbangkan sektor lain utamanya sektor perhubungan laut sehingga penggunaan kawasan dapat berkelanjutan dan meminimalisir konflik penggunaan lahan. Dalam kawasan budidaya sudah saatnya membuat kawasan kebun bibit yang dilindungi secara multi pihak agar kelestarian kawasan kebun bibit terjamin.
2. Stabilitas harga dapat dipertahankan dengan perlunya koordinasi antara pedagang, petani dan pengusaha. Peran pemerintah sangat penting agar penentuan harga bukan hanya domain pedagang. Mungkin sudah saatnya wacana pendirian lembaga pemantau dan stabilisator  harga  semacam BULOG  yang didirikan pemerintah perlu dipertimbangkan. Bulog ini nantinya dapat menjadi semacam “Pedagang Pengumpul” yang dikelola bersama oleh pemerintah, petani dan pedagang agar harga dapat stabil dan kurang fluktuatif. Di sisi lain, peran pemerintah melalui Dinas Kelautan dan Perikanan atau Dinas Perindustrian dan Perdagangan untuk rutin mewartakan harga pasar secara kontinyu agar petani mengetahui harga riil yang ada di pasaran dan tidak dipermainkan oleh pedagang pengumpul.  Para petani sudah saatnya membentuk kelompok Petani atau semacam Asosiasi petani Rumput Laut Indonesia (ASPERLI) di setiap Kecamatan di Wakatobi yang dapat memperkuat jaringan kerja sama dan informasi sesama petani rumput laut.
3. Kendala Ketersediaan bibit rumput laut sudah harus menggunakan pendekatan teknologi kultur jaringan yang dapat meminimalisir kendala penurunan kualitas bibit yang akan ditanam. Hal lain yang perlu menjadi perhatian dari para petani adalah perlunya menghilangkan kebiasaan menggunakan bibit yang sudah digunakan lebih dari 10 kali penanaman ulang. Dari hasil investigasi kami di Sultra, petani rumput laut bahkan sudah ada yang menggunakan bibit yang berasal dari indukan  rumput laut yang sudah ditanam berulang lebih dari 70 kali. Hal inilah perlunya ada suatu kawasan untuk pendirian kebun bibit minimal di tiap kecamatan, agar petani dapat  secara rutin mengganti bibit yang  sudah menurun kualitasnya akibat sudah berulang kali ditanam ulang.  Kendala minimnya penyuluh yang mampu membimbing petani dan sering  dikeluhkan oleh para petani  dapat diatasi dengan melibatkan para alumni Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) UNHALU yang penelitian skripsinya di bidang budidaya rumput laut.
4. Keterbatasan modal usaha memang perlu dipikirkan oleh semua pihak termasuk para pengusaha yang menikmati hasil panen rumput laut para petani. Selama ini pihak pemerintah sudah mengucurkan dana, namun keterbatasan modal ini dapat diatasi manakala pihak swasta  terlibat di dalam membantu pendanaan petani secara seimbang dan transparan khususnya harga jual yang sesuai harga pasar agar dari hasil penjualan yang memadai dari segi harga rumput laut kering, modal petani rumput laut dapat meningkat.

INFORMASI SELANJUTNYA HUBUNGI

LAODE  M. ASLAN
Dekan Fakutas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Universitas Haluoleo

Mobile Phone : 081 341 514 869
e-mail: aslaod66@yahoo.com

Alamat :
Gedung Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unhalu.
Kampus Bumi Hijau, Tridarma, Anduonohu, kendari 93232

One Response

  1. harapan saya kepada seluruh masyarakat wakatobi tuk selalu mengembangkan apa yang menjadi kekayaan alam kita dan jauh kanlah dari segala sesuatu yang dapat merusaknya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: