Harga Beras Anjlok, Petani Menjerit

Kendari Pos, Ekonomi & Bisnis 2010-07-15 / Halaman 3

Musim panen kali ini sangat tidak mengenakan buat para petani. Pasalnya, harga beras di pasaran saat ini mulai turun, apalagi harga gabah petani mengalami kemerosotan. Penyebabnya karena kualitas beras yang jelek akibat musim hujan, sehingga proses pengeringan gabah bermasalah. Bahkan di sejumlah daerah seperti di Konawe  sebagai sentral produksi beras  mengalami banjir, sehingga banyak beras yang tidak layak konsumsi.

Menurut  salah seorang distributor beras di Wuawua, Hendra Sumusgia, saat ini beras di daerah produksi banyak, tapi  kualitasnya tidak bagus. Rata-rata di bawah standar, sehingga harganya turun. Turunnya kualitas gabah akibat proses pengeringan yang tidak optimal, karena cuaca hujan, sehingga warna beras ke hitam-hitaman dan aromanya  tidak enak.  “Harga beli gabah pun mengalami penurunan, kalau sebelumnya per kilo gram bisa mencapai Rp 2400 kini hanya Rp 2 ribu. Itu pun jarang yang membeli, karena kualitasnya tidak layak,” terangnya kemarin.

Malah beras dengan kualitas di bawah standar tersebut, di pasaran dijual dengan harga murah yaitu Rp 3600 per kilo gram, itu pun jarang pembeli, karena tidak layak untuk dikonsumsi. Hal tersebut sudah pasti pihak petani  lah yang dirugikan, karena tidak sesuai dengan biaya produksi penanaman. Bulog juga tentunya tidak mau membeli, karena sudah ada standar pembelian tersendiri. “Apalagi di wilayah banjir, beras mereka tidak layak jual dan hanya dikonsumsi petani sendiri. Terbayang berapa kerugian yang diderita oleh mereka,”  paparnya.

Sebagai pengusaha, Hendra pun tentunya akan mencari beras yang layak konsumsi. Selain stok lama yang masih ada dan  produksi dari daerah lain yang tidak termakan banjir, dia juga mendatangkan beras dari Makassar. “Bagaimanalah pintar-pintarnya kita memperoleh beras yang sesuai keinginan konsumen. Walaupun saya sendiri memiliki beras di bawah standar, dengan harga jual Rp 3600 per kilo gram, itupun jarang peminatnya,” ujar Hendra.

Sementara itu salah seorang petani di Kecamatan Pondidaha Kabupaten Konawe,  Nur Zubaidah, di wilayahnya hampir seratus hektar lebih lahan  persawahan siap panen terendam banjir, termasuk rumah mereka juga tergenangi air. Kerugian yang diderita mereka lumayan banyak, karena setiap hektarnya bisa menghasilkan sekitar  15 juta, dari penjualan gabah yang dihasilkan. “Panen kali ini merupakan petaka bagi kami warga Pondidaha,” terang Ida sambil mengenang padi-padinya yang sudah tidak mungkin di panen karena sudah membusuk terendam air hingga saat ini.

Menurutnya, selain gagal panen, padi yang sudah ada sebelum bajir melanda juga hasilnya jelak, karena tidak ada saranan pengeringan, sehingga warnanya hitam dan baunya  mirip dengan kotoran sapi. Kondisi tersebut tentunya menyebabkan padi tidak bisa dijual, dan hanya dikonsumsi sendiri akibat kualitasnya yang jelek.

“Akibat gagal panen ini,  kami habis-habisan, karena semua dana sudah digunakan untuk  membiayai penanaman, dengan harapan panen bulan ini merupakan panen raya, dan  hasilnya bisa dinikmati, ternyata kami mendapat musibah,” pungkas Ida. (lis)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: