Berobat dengan Premi Sampah

Kompas, 2010-07-15 / Halaman 1

Oleh : Dahlia Irawati

Pagi itu suasana di Klinik Mawar Husada di Jalan Sumbersari VB/377, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur, cukup ramai. Terlihat tumpukan karung berisi botol-botol bekas serta kardus dan kertas bekas. Sejumlah barang plastik bekas lain juga terlihat berjejalan di depan pintu masuk klinik.

Tiga anak muda berpakaian rapi terlihat menerima, menimbang, dan mencatat sampah itu. ”Ini dari Ibu Sonah, botol bekas sebanyak 7 kilogram,” ujar Sapta, salah satu dari tiga pemuda tersebut.

Setelah mencatatkan sampah bawaannya, Sonah (75) duduk di ruang tunggu klinik. ”Saya sudah beberapa waktu ini pusing kepala. Saya ingin periksa dan minta obat dari Bu Dokter,” ujar nenek yang tinggal sendiri (suaminya telah meninggal dunia) di RT 1 RW 2, Kelurahan Sumbersari, Lowokwaru, itu.

Sonah adalah satu dari ratusan warga kurang mampu di sana yang memanfaatkan sistem jaminan sehat mandiri (jasri) bagi masyarakat pada lima RT di RW 2, Kelurahan Sumbersari. Ia hidup sebatang kara tanpa mata pencarian tetap dan menggantungkan hidup dari ”kiriman” anaknya yang berjualan lalapan di tempat lain.

Nilawati, Ketua Klinik Mawar Husada, menuturkan bahwa setidaknya ada 250-an keluarga yang menjadi anggota klinik tersebut. Mereka bisa memeriksakan diri di klinik tersebut setiap Senin, Rabu, dan Jumat.

”Keberadaan sistem kesehatan dengan biaya dari pengumpulan sampah cukup membantu warga kurang mampu di sini. Para lanjut usia alias lansia bisa menjalani pemeriksaan rutin, sedangkan ibu-ibu juga bisa ber-KB di sini dengan murah,” tutur Nilawati, Rabu (14/7).

Sistem asuransi

Jasri adalah semacam sistem asuransi kesehatan masyarakat dengan premi sampah setiap bulan. Masyarakat mengumpulkan sampah di sekitarnya yang laku dijual, disetorkan kepada petugas di klinik tersebut sebulan sekali, ditimbang, dan dihargai menjadi semacam premi tabungan kesehatan mereka. Setiap kilogram sampah dihargai Rp 1.000-Rp 3.000. Per bulan seorang warga harus membayar premi sampah senilai Rp 1.000.

Premi inilah yang diakumulasi menjadi tabungan untuk biaya pemeriksaan kesehatan warga RW 2 tersebut. Sistem ini mulai dikenalkan lima mahasiswa Fakultas Kedokteran (angkatan 2007) Universitas Brawijaya, Malang, sejak Januari 2010.

Awalnya, sistem ini hanya menjadi bagian tugas pengabdian masyarakat mereka. Kini ide tersebut sudah didukung penuh oleh pihak kampus.

Kelima mahasiswa itu adalah Gamal, Hamid Dhofi A, Sapta Adiwijaya, Muhammad Maulana, dan Didin Ariya. ”Kami memikirkan sistem kesehatan di Indonesia yang ada saat ini belum optimal. Banyak warga belum tercakup dalam sistem ini. Kalau sakit, masyarakat baru bisa diperiksa. Yang tidak punya uang tidak akan bisa periksa kesehatan,” tutur Dhofi.

Itu sebabnya mereka merancang sistem asuransi kesehatan dengan premi sampah. Sasaran mereka adalah masyarakat lima RT di RW 2, Kelurahan Sumbersari, Kecamatan Lowokwaru.

Dengan sistem ini, menurut Dhofi, masyarakat tidak hanya terlayani kesehatannya saat sakit. Mereka juga mendapat pengetahuan mencegah sakit. Para mahasiswa ini memberikan buku panduan sehat berisi upaya menjaga kesehatan keluarga dan penanganan pertama atas kasus- kasus gangguan kesehatan masyarakat. Selain itu, masyarakat di sana juga diberikan ”keranjang sakti Takakura”, yaitu sebuah keranjang untuk mengolah sampah organik menjadi kompos. Kompos yang dihasilkan bisa dijual bebas oleh masyarakat di RW 2 itu sebagai tambahan penghasilan.

Sampah yang dikumpulkan itu kemudian dijual untuk membiayai kebutuhan operasional Klinik Mawar Husada dan kebutuhan obat masyarakat. Ada tiga dokter yang melayani pemeriksaan kesehatan di sana.

Jika saldo ”sampah” yang dikumpulkan berlebih, warga bisa memanfaatkannya untuk berobat ke rumah sakit jika sakitnya parah. ”Kami ingin mengubah konsep bahwa sampah yang semula membuat sakit justru kini bisa menyehatkan,” ujar Gamal menambahkan.

Bagi Sonah yang tak punya aktivitas ekonomi di masa tuanya, sistem ini dirasa sangat membantu. ”Saya tidak bingung lagi memikirkan biaya untuk berobat,” ujarnya.

Suparmi Sutrisno (62), warga RT 2 RW 2, Kelurahan Sumbersari, juga mengakui, sistem ini cukup menjamin kebersihan lingkungan kampungnya. Ia pun merasa sangat terbantu dengan adanya sistem ini. Meski memiliki asuransi kesehatan pegawai negeri, karena untuk periksa ke rumah sakit umum yang ditunjuk begitu, Suparmi lebih memilih ikut sistem ini.

Dengan model sederhana ini, kelima mahasiswa itu berharap ke depan ada perbaikan sistem layanan kesehatan bagi masyarakat. ”Sekarang kami hanya bisa menangani satu RW. Kalau mahasiswa kedokteran lain, misalnya, bisa menangani RW-RW lain, dibantu masyarakat atau bahkan pemerintah, mungkin persoalan layanan kesehatan yang tidak prorakyat kecil bisa tertangani,” kata Dhofi.

Karya anak-anak muda ini patut diacungi jempol. Pada saat banyak orang berkoar membela rakyat kecil, mereka tidak sekadar bicara. Mereka langsung berbuat untuk masyarakat. Langkah yang layak ditiru!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: