LIPI Telah Hasilkan 2.000 Mutan Stabil Padi

Kompas, 2010-07-13 / Halaman 1

Akibat perubahan iklim dan cuaca ekstrem, kini di sejumlah wilayah telah muncul ancaman gagal panen. Sementara itu, kini Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia telah berhasil mengembangkan 2.000 mutan stabil tanaman padi. Potensi tersebut akan sangat bermanfaat untuk program adaptasi terhadap perubahan iklim dengan tujuan mencapai keamanan dan ketahanan pangan.

Perubahan iklim yang, antara lain, menyebabkan cuaca ekstrem telah menghancurkan panenan dan menyebabkan turunnya pendapatan nelayan. Panen gagal akibat banjir dan merebaknya hama.

Siap diaplikasikan

Hasil rekayasa genetika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu sudah siap diaplikasikan untuk menghasilkan varietas padi yang bisa menyesuaikan diri dengan lokasi dan potensi ancamannya. Ancaman tersebut antara lain kekeringan dan genangan air. Selain itu, tanaman padi tersebut juga memperkuat daya tahan terhadap serangan hama dan penyakit tertentu.

”Pemanasan global sudah menimbulkan perubahan musim yang sulit diprediksi lagi. Untuk beradaptasi, LIPI dan lembaga lainnya sekarang sudah tidak bisa lagi bekerja sendiri-sendiri atau secara sektoral,” kata Deputi LIPI Bidang Ilmu Hayati Endang Sukara, Senin (12/7) di Jakarta.

Menurut Endang, penentuan zona musim untuk setiap daerah saat ini sangat diperlukan. Langkah adaptasi yang akan diambil amat bergantung pada pola-pola musim di suatu wilayah.

Begitu pula wilayah endemis serangan hama seperti hama wereng yang ditengarai merebak di sejumlah wilayah. Kepala Departemen Perlindungan Tanaman Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor Dadang mengungkapkan, hama wereng memiliki sebaran di 27 provinsi.

Beberapa provinsi utama yang menghadapi peningkatan serangan hama ini meliputi Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, DI Yogyakarta, Lampung, Bali, dan Kalimantan Selatan.

Wilayah yang dinyatakan endemis terhadap serangan hama wereng meliputi 10 kabupaten di Jawa Tengah, 5 kabupaten di Jawa Barat, 4 kabupaten di Banten, dan 3 kabupaten di Aceh.

”Tanaman padi memiliki 150.000-an gen, termasuk gen untuk meningkatkan daya tahan terhadap serangan hama wereng,” kata Endang.

Hasil rekayasa genetika padi ini disebut sebagai mutan stabil, menurut Endang, karena bijinya memiliki sifat menurun. Untuk mengaplikasikannya dibutuhkan bank biji. Adapun jumlah 2.000 mutan stabil terus bisa ditingkatkan melalui riset identifikasi gen, penandaan (tagging) gen, dan aktivasinya.

Sementara itu, terhadap ancaman dampak perubahan iklim berupa kenaikan muka air laut, Endang menyarankan agar menanam sagu. ”Tanaman sagu bisa untuk adaptasi terhadap ancaman ini. Sebab, tanaman ini tahan terhadap genangan air sekalipun air payau. Indonesia memiliki 3 juta hektar hutan sagu. Namun, masih harus dipetakan. Perlu dikembangkan perkebunan sagu seperti dilakukan Malaysia,” ujar Endang. (NAW)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: