Hujan Lokal Makin Ekstrem

Kompas, Lingkungan & Kesehatan 2010-07-13 / Halaman 12

Hujan lokal yang terjadi kini makin tidak terpengaruh oleh iklim secara regional, tetapi kejadiannya justru semakin ekstrem. Hujan terjadi di wilayah yang tidak begitu luas dan berlangsung singkat, bisa sangat deras, disertai petir dan angin kencang pula.

”Fenomena seperti ini biasanya terjadi pada masa-masa transisi atau peralihan antara musim kemarau dan musim hujan,” kata Kepala Sub-Bidang Cuaca Ekstrem Bidang Peringatan Dini Cuaca pada Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kukuh Ribudianto, Senin (12/7) di Jakarta.

Masa-masa transisi itu lazimnya terjadi pada Maret-April-Mei menjelang musim kemarau. Atau sebaliknya pada Agustus-September-Oktober menjelang musim hujan.

Menurut Kukuh, hujan lokal ekstrem sekarang ini terpengaruh oleh suplai uap air dari laut yang masih hangat di atas pola normal. Selain itu, radiasi matahari dan perubahan fungsi lahan, seperti perkerasan lahan di perkotaan, juga memicu peningkatan suhu makin tajam. ”Hujan lokal ditandai suhu di darat yang relatif tinggi sehingga memengaruhi penguapan secara cepat dan membentuk awan kumulonimbus rendah,” kata Kukuh.

Kepala Bidang Geofisika Potensial dan Tanda Waktu BMKG Wandono mengatakan, awan kumulonimbus rendah (biasanya gelap) itu yang memicu perbedaan potensi listrik hingga menimbulkan petir. Angin kencang yang terjadi lebih disebabkan tekanan udara di lapisan atmosfer.

”Terjadinya petir karena terdapat awan kumulonimbus yang bermuatan listrik,” katanya.

Dia mengatakan, saat ini beberapa wilayah yang memiliki karakter hujan lokal yang deras dan berlangsung singkat disertai petir dan angin kencang meliputi wilayah Jakarta dan sekitarnya, di wilayah pesisir di Sumatera bagian selatan, dan di Kalimantan bagian barat dan selatan. Juga terjadi di Sulawesi bagian barat, selatan, tenggara, dan utara. Selain itu di Maluku bagian utara dan Papua bagian selatan.

Adaptasi

Fenomena perubahan iklim ataupun ketidakpastian cuaca sekarang ini membutuhkan langkah-langkah untuk adaptasi. Ahli perubahan iklim, Rizaldi Boer dari Institut Pertanian Bogor (IPB), ketika dihubungi di Jepang mengatakan, teknologi yang ada telah memungkinkan prakiraan cuaca yang semakin akurat. ”Yang lebih penting adalah pada antisipasi dampak perubahan iklim,” kata Rizaldi.

Dia mengungkapkan, perbedaan wilayah dan pemanfaatan fungsi lahan sangat berpengaruh terhadap upaya penentuan langkah adaptasi. Adaptasi untuk menunjang aktivitas pertanian di wilayah pedesaan, misalnya menentukan pola tanam, akan sangat bergantung pada informasi prakiraan iklim.

”Informasi prakiraan cuaca hanya untuk antisipasi yang bisa dilakukan dengan cepat,” kata Rizaldi.

Antisipasi secara cepat, antara lain, digunakan untuk bidang pelayaran atau penerbangan. Untuk antisipasi banjir di perkotaan tetap dibutuhkan perencanaan jangka panjang terkait perbaikan sistem drainase. (NAW)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: