Kompas, Ilmu Pengetahuan & Teknologi 2010-07-12 / Halaman 14

Oleh : Nawa Tunggal

Tiga tahun terakhir ini Putu Suastawa rajin mendampingi penyelaman untuk riset ilmiah atau sekadar ekoturisme bawah laut di perairan Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Selama itu pula Putu belum pernah menjumpai terumbu karang memutih dan dia tak pernah berharap untuk melihatnya.

Akan tetapi, akhir-akhir ini ia mulai menjumpai pemutihan terumbu karang. Ini adalah tanda adanya kerusakan, bahkan mungkin menuju kematian hewan dari ordo Scleractinia ini.

”Pada bulan tiga (Maret) tahun ini saya mendampingi penyelam ahli karang dari Inggris. Waktu itu tidak ada pemutihan karang, tetapi dia mengatakan, akan terjadi pemutihan (bleaching). Dan, sekarang benar terjadi,” ujar Putu, anggota Polisi Kehutanan Taman Nasional Wakatobi, Rabu, 2 Juni lalu.

Putu mengatakan itu saat turut pada penyelaman bersama tim Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) di selat Pulau Wangi-wangi dan Kapota di Wakatobi. Tim Bakosurtanal dari Bidang Inventarisasi Sumber Daya Alam Laut sedang melanjutkan penyusunan pemetaan pulau-pulau kecil.

Luas wilayah Wakatobi sekitar 1,39 juta hektar dengan 97 persen berupa perairan dengan keanekaragaman hayati terumbu karang tergolong paling tinggi di dunia.

Nama Wa-ka-to-bi adalah singkatan nama empat pulau utama, yaitu Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko. Selebihnya, masih ada 35 pulau kecil lainnya yang sebagian tidak berpenghuni.

Ketika kami menyelam, amat mudah menjumpai berbagai spesies karang. Dari paparan Bupati Wakatobi Hugua, di Wakatobi ada sekitar 750 spesies karang dari total 850 spesies di dunia.

Fenomena pemutihan atau pemudaran karang dipicu perubahan kondisi lingkungannya secara drastis. Penyebabnya, antara lain, adalah perubahan suhu laut, sedimentasi, dan penggunaan racun atau bom untuk menangkap ikan.

Menurut Kepala Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Suharsono, karang yang terserang pemutihan sulit mengelak dari kematian. ”Sekitar 60-90 persen karang yang terkena pemutihan akan mati,” kata Suharsono.

Saat ini ditengarai tengah terjadi awal pemutihan massal karang di sejumlah wilayah perairan Indonesia. Membentang mulai dari perairan Pulau Weh, Nanggroe Aceh Darussalam, hingga Nusa Tenggara Timur karang mulai mengalami pemutihan.

Pemanasan global

Kepala Bidang Inventarisasi Sumber Daya Alam Laut Bakosurtanal Yulianto mengatakan, di antara ekosistem pesisir yang terpenting, ekosistem terumbu karang adalah yang terparah.

Dia mengatakan, akhir-akhir ini ditemukan perangai alam yang tidak menentu, indikasi dari dampak pemanasan global. Yulianto menyebutkan ada istilah lokal meitike, di kawasan perairan Maluku Tenggara, yaitu kondisi saat laut surut lebih lama dibandingkan biasanya.

”Meitike bisa sampai enam jam. Ketika itu terjadi, sebagian dasar laut kering dan masyarakat nelayan bisa memungut ikan-ikan yang terjebak di sela-sela terumbu karang,” kata Yulianto.

Bila itu dianggap sebagai dampak pemanasan global, menurut Yulianto, dibutuhkan data pembanding. Setidaknya, data 30 tahun terakhir.

Meitike, diakui Yulianto, menyebabkan sebagian terumbu karang rusak. Namun, pemutihan terumbu karang di Wakatobi belum bisa ditentukan penyebabnya.

Hugua, Bupati Wakatobi, mengatakan, pemutihan terumbu karang sangat jarang terjadi di sana. Beberapa waktu lalu, ketika menyelam dalam rentang 200 meter, ia melihat terumbu karang memutih, luasnya sekitar 20 cm x 30 cm.

Atol terpanjang

Wakatobi dengan jumlah penduduk sekitar 100.000 jiwa kini makin dikenal sebagai daerah tujuan wisata bahari dan kegiatan riset terumbu karang. Wisatawan datang dari sejumlah negara.

Menurut Hugua, Juni sampai Agustus biasanya sebanyak 600-1.000 orang dari luar negeri berdatangan. Sebagian besar dari mereka meneliti lingkungan bahari di Wakatobi. ”Sampai saya bertanya, di mana periset dalam negeri? Mengapa yang datang meriset justru dari luar negeri,” kata Hugua.

Menurut Hugua, Wakatobi memiliki atol tunggal terpanjang di dunia. Panjangnya sampai 48 kilometer di dekat Pulau Kaledupa. Great Barrier Reef, Australia, yang panjangnya sekitar 2.237,4 kilometer bukan atol tunggal, melainkan berupa gugusan.

Saking beragam dan menyebarnya terumbu karang di berbagai perairan Wakatobi, pemerintah daerah setempat menuliskan slogan menarik di berbagai lokasi. Salah satunya, ”Selamat jalan dari bumi-surga nyata bawah laut di jantung segitiga karang dunia Kabupaten Wakatobi”. Ini tertera di salah satu pintu masuk pelabuhan di Wanci di Pulau Wangi-wangi.

Slogan itu tak selamanya dimengerti masyarakat. Salah satu kepala desa di Pulau Kapota, La Hasirun (55), mengatakan, masyarakat tidak pernah bisa memakai alat selam untuk mengetahui benar tidaknya apa yang disebut ”surga bawah laut”. ”Bagaimana masyarakat bisa menyayangi surga bawah laut jika tidak pernah mengenalnya?” kata Hasirun.

Seumur-umur Hasirun belum pernah menggunakan alat selam seperti para pengunjung di Wakatobi. Menyelam untuk sekadar melihat terumbu karang pun jarang dilakukan.

Seperti masyarakat lainnya, hidup di laut yang penting menangkap ikannya. Mereka tak peduli dengan istilah ”surga bawah laut” untuk menyebut keelokan terumbu karangnya.

Dan, saat terjadi pemutihan terumbu karang seperti sekarang, mereka pun tak mampu mengetahui: mereka harus berbuat apa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: