Normalisasi Mendesak Dilakukan

Kompas, Nusantara 2010-07-08 / Halamana 22

Kondisi muara Sungai Lariang di Kecamatan Lariang, Kabupaten Mamuju Utara, Sulawesi Barat, makin memprihatinkan. Daerah tepi sungai sekitar 10 kilometer dari hilir yang berujung ke Selat Makassar itu dipenuhi sedimen.

Sedimentasi merusak kakao dan jagung yang ditanam warga di tepi sungai. Bentuk sungai berkelok-kelok dan makin lebar sehingga tepian sungai kian mendekati jalan utama dari Mamuju, ibu kota Provinsi Sulawesi Barat, menuju Palu, Sulawesi Tengah.

Di Dusun Marisa, Lariang, sekitar 270 kilometer arah utara Mamuju, tepi sungai bahkan tinggal berjarak sekitar 10 meter dari jalan poros Sulbar-Sulteng. Jalan ini terancam putus saat terjadi hujan deras karena tanaman yang bisa menghadang laju air mati akibat sedimentasi.

Menurut Abdul Rahman (51), Kepala Dusun Marisa, luas tanaman kakao dan jagung yang mati sekitar 1 hektar. ”Saat banjir bulan lalu, luapan sungai menggenangi jalan meski hanya sekitar 20 sentimeter,” katanya, Rabu (7/7).

Luapan air sungai juga mengancam Jembatan Sungai Lariang, sekitar 2 kilometer dari Dusun Marisa. Fondasi di sisi utara jembatan sepanjang sekitar 30 meter tergerus terjangan banjir bulan lalu. Fondasi itu kini ditutup sementara dengan batu karang yang disusun bertingkat dan diganjal dengan kawat.

Abdul berharap pemerintah segera menormalkan muara sungai yang berkelok-kelok. Pelurusan sungai diharapkan mampu meminimalkan luapan air saat hujan deras.

Konsultan tata ruang di berbagai provinsi pemekaran, Danny Pomanto, berpendapat, timbunan sedimentasi terjadi akibat penggundulan hutan di kawasan Pegunungan Takolekayu, Sulteng. Bentuk sungai yang didominasi kelokan ekstrem memunculkan cabang-cabang sungai di pegunungan. Luapan sungai sepanjang 245 kilometer itu kerap menyebabkan banjir di Sulteng dan Sulbar. Danny mengusulkan agar dibangun waduk untuk mengendalikan air sebelum mengalir ke dataran rendah. ”Dengan adanya waduk, normalisasi muara sungai akan sangat efektif meredam banjir,” katanya.

Gubernur Sulbar Anwar Adnan Saleh mengatakan, rencana normalisasi sungai dan pembangunan waduk telah masuk dalam rencana tata ruang wilayah. Timbunan sedimentasi membuat Sungai Lariang menjadi prioritas dalam zona kekritisan daerah aliran sungai di Sulbar.

Sungai Lariang merupakan sungai kedua terbesar di Sulbar setelah Sungai Karama. Sungai ini berhulu di Desa Sedoa, kawasan Taman Nasional Lore Lindu, Kabupaten Poso, Sulteng. (RIZ)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: