Moratorium Diusulkan Dijalankan 5 Tahun

Kompas, Lingkungan & Kesehatan 2010-07-08 / Halaman 13

Dewan Pertimbangan Presiden telah selesai menggodok draf peraturan presiden tentang moratorium lahan gambut dan hutan alam. Dalam draf tersebut, kebijakan jeda atau moratorium izin alih fungsi kawasan gambut dan hutan alam diusulkan berjangka lima tahun.

Pembahasan draf peraturan presiden oleh Dewan Pertimbangan Presiden (DPP) melibatkan sejumlah pemangku kepentingan, termasuk lembaga swadaya masyarakat asing dan akademisi. Wakil kalangan akademisi, Hariadi Kartodihardjo, mengatakan, usulan jangka waktu moratorium lima tahun didasarkan pada pertimbangan waktu yang dibutuhkan untuk menata ulang pengelolaan hutan alam dan gambut.

”Memang letter of intent antara Indonesia dan Norwegia berjangka waktu dua tahun. Akan tetapi, Ketua DPP Emil Salim meminta pembahasan tidak terpaku pada jangka waktu dua tahun. Yang lebih penting adalah bagaimana menyiapkan kapasitas kelembagaan untuk mengelola hutan. Juga menyiapkan arah pengelolaan hutan alam dan gambut di masa mendatang. Moratorium dua tahun tidak cukup untuk melakukan dua hal itu,” kata Hariadi, saat dihubungi di Depok, Rabu (7/7).

Dia menjelaskan, selama moratorium lima tahun itu pemerintah harus menata ulang kawasan hutan.

”Untuk memastikan bagaimana hutan alam tidak dikonversi, kita harus menata ulang status kawasan hutan. Harus dirumuskan cara baru bagaimana mengklasifikasi sebuah kawasan untuk ditetapkan sebagai hutan alam dan kawasan lainnya hutan produksi konversi. Saat ini, kawasan hutan produksi yang bisa dikonversi kenyataannya justru berupa hutan alam. Ini yang harus ditata ulang,” kata Hariadi.

Manajemen restorasi

Dalam Pasal 3 draf tersebut, ditentukan sasaran moratorium, antara lain menyiapkan unit manajemen restorasi untuk mengelola kawasan gambut yang ditelantarkan. Selain itu, akan dikaji semua perizinan hutan di areal non-gambut.

Pengkajian itu untuk menata ulang konsesi hutan dan rehabilitasi lahan telantar. Penataan ulang itu termasuk tukar guling/landswap konsesi hutan di lahan gambut dengan areal non- gambut yang terdegradasi dan telantar.

Kajian Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), yang diumumkan Juni lalu, menyimpulkan, 72,5 juta hektar hutan harus dipertahankan dari pembalakan dan konversi.

Pasalnya, dalam kawasan hutan produksi dan areal penggunaan lain ada areal gambut, hutan primer, dan terdapat hutan dengan kemiringan lebih dari 40 derajat.

Dalam 72,5 juta hektar hutan itu termasuk lebih dari 28 juta kawasan berstatus hutan produksi. Dalam kawasan berstatus hutan produksi terdapat 6,2 juta hektar lahan gambut. Selain itu, juga terdapat 21,5 juta hektar lebih berupa hutan primer.

Keberadaan sejumlah lahan gambut dan hutan primer juga ditemukan dalam kawasan areal penggunaan lain sehingga ada 4,7 juta hektar hutan areal penggunaan lain yang harus dipertahankan.

Hariadi menyatakan, kajian mengenai hutan yang dibuat KLH ataupun kementerian lain harus diintegrasikan dalam pemetaan ulang status hutan di Indonesia. ”Masalahnya, kita belum memiliki jalan untuk mengadopsi kajian kementerian terkait atas status kawasan hutan,” katanya.

Juru Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara Bustar Maitar menyatakan, moratorium alih fungsi lahan hutan alam dan gambut akan gagal jika hanya memoratorium perizinan baru selama jangka waktu dua tahun sebagaimana kesepakatan Indonesia dan Norwegia. ”Moratorium harus menjangkau moratorium rencana pembukaan hutan dan lahan gambut yang didasarkan perizinan yang telanjur diterbitkan pemerintah. Jika hutan yang belum ditebang dalam konsesi itu berupa gambut atau hutan alam, harus ditukar-guling,” kata Bustar di Jakarta, Rabu.

Bustar juga meminta pemerintah mengevaluasi izin alih fungsi hutan yang telanjur diterbitkan.

”Hanya mereka yang patuh aturan saja yang boleh menerima tukar-guling dengan lahan non- gambut yang terdegradasi. Mereka yang melanggar harus dicabut izin dan konsesinya,” kata Bustar. (ROW)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: