Insert Media Lingkungan 2010-07-08 Menelisik Jati di Muna

Menelisik Jati di Muna

Muna merupakan kabupaten yang dikenal dengan tanaman jatinya. Tak heran, hingga saat ini komoditi yang menjanjikan tersebut masih jadi kebanggan masyarakat Muna.

Sumber Wilkipedia Indonesia mencatat, jati sebagai jenis pohon penghasil kayu bermutu tinggi. Pohon besar, berbatang lurus, dapat tumbuh mencapai tinggi 30-40 m, berdaun besar, yang luruh di musim kemarau.

Sumber Wilkipedia Indonesia mencatat, jati sebagai jenis pohon penghasil kayu bermutu tinggi. Pohon besar, berbatang lurus, dapat tumbuh mencapai tinggi 30-40 m, berdaun besar, yang luruh di musim kemarau.

Jika dikenal dunia dengan nama teak (bahasa Inggris). Nama ini berasal dari kata thekku dalam bahasa Malayalam, bahasa di negara bagian Karala di India Selatan. Nama ilmiah jati adalah Tectona grandis L.f.

Jati dapat tumbuh di daerah dengan curah hujan 1500-2000 mm/tahun dan suhu 27-36 derajat celcius baik di daratan rendah maupun daratan tinggi. Tempat yang paling baik untuk pertumbuhan jati adalah tanah dengan PH 4,5 – 7 dan tidak dibanjiri dengan air, jati memiliki daun berbentuk elips yang lebar dan dapat mencapai 30-60 saat dewasa. Pertumbuhannya yang lambat sehingga komoditi jati menjadi sulit menutupi permintaan pasar.

Menurut Faisal Danu Tuheteru, dosen Managemen Hutan Fakultas Pertanian-Unhalu, masyarakat Muna mengenal jati dengan nama kulidawa atau jati yang berasal dari Jawa.

Pembuktian kulidawa sebagai sebutan jati didasarkan pada beberapa informasi tentang awal mula penanaman jati di Muna, yakni dimulai sejak Raja Islam pertama di Tiworo yang menerima bibit jati dari Sultan Demak yang berkunjung ke kesultanan tersebut pada abad ke enambelas (potter and lee, 1998).

Menurut Faisal (sapaan akrab Faisal Danu Tuheteru) ada juga literatur lain menyebutkan bahwa tanaman ini berasal dari pulau Jawa yang dibawa oleh pedagang Maluku dan ada pula spekulasi kolonial Belanda bahwa merupakan tumbuhan asli.

Terlepas dari semua spekulasi tersebut, satu hal yang mesti jadi pelajaran bahwa, jati Muna mesti jadi pelajaran bahwa, jati merupakan icon orang Muna yang harus dilestarikan keberadaannya di bumi Wite barakati itu (tanah berkah).

Potret jati Muna saat ini
Tumbuhan jati Muna sekitar 40,16 persen berada di kawasan hutan lindung, kawasan yang paling kecil luasnya adalah hutan produksi terbatas yaitu, 1,28 persen. Sementara itu, populasi jati di Muna dari tahun ke tahun kian berkurang.

Keberadaan jati yang memprihatinkan inilah menjadi motivasi masyarakat untuk menumbuhkan kebangkan jati dan menjaga jati dari berbagai ancaman oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, tapi semua itu tidak terlepas dari pengawasan pemerintah daerah (Pemda).

“Dengan kondisi jati yang memprihatinkan di Muna saat ini, justru saya terpacu menanam jati dan melestarikan tanaman jati untuk bekal anak cucu kita kelak”, kata Muhammad Asri, ketua Kelompok Petani Hutan Jati Milik (PHJM), Kabupaten Muna.

“Dengan kondisi jati yang memprihatinkan di Muna saat ini, justru saya terpacu menanam jati dan melestarikan tanaman jati untuk bekal anak cucu kita kelak”, kata Muhammad Asri, ketua Kelompok Petani Hutan Jati Milik (PHJM), Kabupaten Muna.

Selain itu, warga asli desa Wakumoro ini mengatakan, bahwa lahan jati yang sudah dikelola saat ini oleh kelompoknya sekitar 1.003 Ha yang berada dilahan tanah milik masyarakat. “Dalam penanaman jati yang berada dilahan milik masyarakat ini dilakukan secara swadaya dan saya yakin dengan petani akan sejahtera dengan adanya jati”, jelasnya.

Lain halnya dengan tanaman jati milik negara yang berada di kawasan hutan lindung Warangga, kendati terdapat kantor pelaksana teknis kahutanan Muna (UPTD) disekitar hutan lindung tersebut, petugas kahutanan setempat tak ada daya untuk menghentikan oknum-oknum penebang liar itu.

Penebangan jati biasanya dilakukan malam hari dengan menggunakan gergaji tangan secara manual. Uniknya, para pelaku tak menebang sampai rebah, tetapi menunggu pohon tersebut direbahkan oleh angin. Setelah itu, para penduduk liar mengangkut hasil tebangannya dengan gerobak dorong.

Menanggapi hal tersebut kepala Dinas Kehutanan Muna (Kadishut) Mukadimah mengatakan kita sudah berupaya menjaga hutan lindung Warangga tetapi upaya itu harus ada peran serta masyarakat disekitar dalam melestarikannya dan saat ini pelakunya penebangan jati sudah ada yang kami tahan.

“Itu hutan lindung hampir tiap malam kita jaga tapi selalu ada saja masyarakat yang memotong jati dengan mneggunakan gergaji tangan, jadi petugas kita tidak dengar bunyinya walaupun demikianm kita selalu berusaha dan tidak putus asa untuk menjaga hutan lindung”, tegasnya.

“Itu hutan lindung hampir tiap malam kita jaga tapi selalu ada saja masyarakat yang memotong jati dengan mneggunakan gergaji tangan, jadi petugas kita tidak dengar bunyinya walaupun demikianm kita selalu berusaha dan tidak putus asa untuk menjaga hutan lindung”, tegasnya.

Community Organizer (CO) Swadaya Masyarakat Indonesia (Swami), LM Hendro mengatakan kendati potensi dikawasan hutan sudah habis, tapi masyarakat saat ini sudah sadar untuk mengembalikan jati diri Muna sebagai penghasil jati.

“Latar belakang masyarakat untuk menanam jati karena mereka sadar jati ini punya nilai ekonomi yang cukup tinggi selain itu juga dapat menambah PAD Kabupaten Muna, selain itu juga saat ini masyarakat Muna telah memiliki wadah dalam melestarikan jati yaitu terbentuknya PHJM”, terangnya.
>>Asep Firmansyah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: