Terendam Banjir, Ratusan Hekter Sawah Puso

Kendari Pos, Bumi Anoa 2010-07-07 / Halaman 5

90 hektar sawah di Desa Ambuulana dan Sulemandara, Kecamatan Pondidaha Konawe terendam banjir. 67 hektar diantara bahkan dilaporkan puso dan gagal panen. Desa Sulemandara menjadi wilayah yang paling besar terkena dampaknya. Sebab 40 hektar sawah dipastikan puso dan di Desa Ambolango mencapai 27 hektar. Wilayah lain yang terkena dampak besarnya debit air itu adalah Desa Bendewuta, Wonggeduku yang mengakibatkan sekitar 60 hektar sawah ikut terendam air.

Versi Kepala UPTD Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Peternakan Sultra, Abustan,  banjir tersebut disebabkan karena tidak adanya drainase di sekitar persawahan. Padahal daerah tersebut berada di sekitar Sungai Konaweeha.

” Saat banjir, airnya sudah tidak bisa ditampung bendungan dan meluap ke sekitarnya hingga sawah-sawah,” ujarnya. Kondisi tersebut jelas saja merugikan petani. Abustan memprediksi, dari luas sawah yang puso itu, petani mengalami kerugian hingga Rp 670 juta. Hitungannya untuk setiap satu hektar sawah menghasilkan empat ton beras yang jika dirupiahkan mencapai 10 juta. ” Konawe memang termasuk ke dalam daerah tipe hujan C dan ada sebagian yang B, itu berarti curah hujannya sangat tinggi. Dan kondisi seperti itu memang sering terjadi di daerah tersebut,” katanya.

Sementara itu, akibat banjir, para petani yang sawahnya terendam  memanen padi mereka dengan menggunakan perahu. Salah seorang petani, Robin Andriono Samanda menyebutkan, banjir besar itu memang datang setiap 10 tahun. Ia bahkan menaksir, kerugian petani bisa mencapai angka Rp 5.845.000.000 miliar. Hitungannya berbeda dengan Abustan.

“Keuntungan yang Kami peroleh saat panen sekitar 35 juta rupiah setiap hektar. Jika dikalikan 167 hektar maka angka miliaran rupiah diperoleh. Banjir ini sudah sebulan, tetapi belum sebesar ini awalnya. Karena hujan setiap hari, maka debit air naik setiap hari mencapai lima sentimeter.  Selama delapan hari hujan terus yah jadi banjirnya sebesar ini, ” jelas Robin Andriono Samanda, kemarin saat ditemui di areal persawahan.

Ia menyebut, ketinggian air mencapai satu meter di tepi sawah. Sedangkan dibagian tengah, ketinggian air mencapai tiga hingga empat meter. Sebagian petani pun memanen paksa padi mereka dengan menggunakan perahu. Padi yang berhasil dipanen pun ditumpuk begitu saja. Padahal padi tersebut belum waktunya dituai. ” Antisipasi kami atas banjir selama ini tidak ada. Kami hanya pasrah saja,” tandas Robin diamini Rekannya, Rajani dan Yudi yang gagal panen padi milik mereka. (cr2/din)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: