13 Orang Aktivis dari Enam Negara Diperiksa Polisi

Kompas, Lingkungan & Kesehatan 2010-07-06 / Halaman 12

Acara deklarasi menentang penggunaan batu bara sebagai sumber energi yang diadakan Greenpeace di Desa Waruduwur, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, Senin (5/7) siang, dibubarkan Kepolisian Resor Cirebon. Sebanyak 13 aktivis dari dalam dan luar negeri diperiksa di markas polisi.

Berdasarkan informasi, para aktivis bersama warga mendeklarasikan penolakan penggunaan batu bara sebagai sumber energi. Deklarasi sengaja mereka lakukan di Waruduwur, desa terdekat dari lokasi PLTU Cirebon yang berbahan bakar batu bara dan sedang dibangun. Seusai mengadakan deklarasi, 40 petugas Kepolisian Resor (Polres) Cirebon datang dan meminta para aktivis diperiksa serta acara dibubarkan.

Pembubaran mendapat penolakan dari warga. ”Suasana sempat memanas karena warga dan polisi saling berdebat” kata Aan, warga Desa Kanci yang berada di sekitar PLTU. Namun, akhirnya aktivis Greenpeace bersedia datang ke Markas Polres Cirebon.

Para aktivis menjalani pemeriksaan paspor dan identitas. Kepala Polres Cirebon Ajun Komisaris Edi Mardiyanto mengatakan, pembubaran kegiatan Greenpeace didasari atas tidak adanya izin kegiatan.

Yang cemari lingkungan

Arif Fiyanto, Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Asia Tenggara di Indonesia, kecewa pada tindakan polisi. Pihaknya merasa diperlakukan seperti penjahat, padahal ada pihak lain yang bertindak lebih berbahaya, yakni mencemari lingkungan dengan menggunakan bahan bakar batu bara dan merugikan masyarakat tetapi justru tidak ditindak.

”Kalau mau diperiksa, ya pihak PLTU Cirebon karena saat membangun gedung saja sudah merugikan masyarakat dengan mematikan budidaya kerang hijau,” katanya.

Iris Chen, Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace dari China, menyatakan tidak akan berhenti mengampanyekan bahaya batu bara terhadap kesehatan dan lingkungan walaupun harus berurusan dengan polisi. Dalam temuannya di Cilacap, Jawa Tengah, ia mendapati anak-anak umur 5 tahun terkena penyakit paru-paru akibat debu batu bara. Debu batu bara yang mengendap dan dibuang ke laut juga mencemari perairan.

Mengenai bahaya batu bara, Dr Wenceslao Kiat, pakar toksikologi dari Filipina dalam dialog bertema ”Energi Terbarukan Energi Masa Depan” yang digelar Greenpeace di Keraton Kanoman, mengatakan bahwa debu batu bara bisa mengganggu pernapasan. Dampaknya lebih berbahaya terhadap masyarakat jika PLTU memakai bahan bakar ini. Berbagai risiko, seperti kanker dan kelainan janin yang berpengaruh pada rendahnya IQ anak, bisa terjadi di masyarakat sekitarnya.

Gloria Ramos, pengacara yang selama ini mendampingi masyarakat Filipina menentang industri batu bara, pada kesempatan sama menyatakan, dampak penggunaan batu bara sudah dirasakan rakyatnya. Oleh karena itu, dia gigih berjuang agar rakyatnya mendapat pertanggungjawaban yang selayaknya. Menurut dia, perjuangan mendapatkan pertanggungjawaban butuh waktu bertahun-tahun, bahkan bisa lebih dari 10 tahun.

Arif Fiyanto menambahkan, seharusnya pemerintah mulai memakai energi ramah lingkungan seperti panas bumi atau sinar matahari. Indonesia adalah pemilik terbesar energi panas bumi di dunia dengan 40 persen dari total energi panas bumi di bumi ini. ”Sebanyak 40 persen itu senilai 28.000 megawatt. Akan tetapi, kekayaan ini hanya termanfaatkan sebesar 4 persen,” katanya. (NIT)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: