Sinjai – Makassar Putus

Kompas, Nusantara 2010-07-05 / Halaman 24

Hujan deras hari Sabtu hingga Minggu (4/7) dini hari menyebabkan longsor di Desa Arabika dan Kelurahan Tapililu, Kecamatan Sinjai Tengah, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Longsoran tanah, lumpur, bebatuan, dan pepohonan menutupi jalan utama poros Sinjai-Makassar.

Menurut Ihwan Asga, warga Desa Kompang, Kecamatan Sinjai Tengah, yang tinggal sekitar 20 kilometer dari lokasi bencana, longsor terjadi pada Minggu dini hari sekitar pukul 01.00 Wita. Timbunan material dari ketinggian sekitar 50 meter ini tidak menimbulkan korban jiwa.

Permukiman penduduk terletak sekitar 100 meter dari lokasi dan tidak ada pengendara yang melintas saat longsor terjadi.

Meski demikian, kejadian longsor itu menyebabkan jalan provinsi dari Makassar menuju Sinjai ataupun sebaliknya hingga Minggu malam masih terputus. Ketebalan material longsor yang menutupi badan jalan mencapai 2-3 meter sehingga kendaraan tidak bisa melintas. Pengendara roda dua ataupun roda empat atau lebih yang berasal dari Makassar terpaksa balik arah memutar lewat Kabupaten Bulukumba.

Hal ini membuat pengendara harus menambah jarak tempuh sekitar 100 kilometer. Tambahan jarak tempuh tersebut hampir setara dengan jarak normal Sinjai-Makassar.

Sementara pengendara dari Sinjai menuju Makassar bisa memutar lewat Bulukumba atau Kecamatan Camba, Kabupaten Maros, yang berjarak tempuh sekitar 55 kilometer.

”Jalan memutar yang harus ditempuh cukup jauh dan rawan karena saat ini hujan deras masih terus mengguyur. Saya terpaksa baru bisa kembali ke Makassar hari Senin sambil berharap jalan sudah terbuka kembali,” tutur Ihwan.

Menurut Ihwan, Minggu petang, sudah ada traktor dan buldoser untuk menggusur longsoran sekaligus meratakan permukaan jalan.

Sementara itu, Kepala Pengendalian Dampak Alam dan Lingkungan Kabupaten Sinjai Mulawangsa Mappakalu mengatakan, Kecamatan Sinjai Barat termasuk daerah rawan longsor. Badan Pengendalian Dampak Alam dan Lingkungan mencatat sedikitnya 57 titik rawan longsor di Sinjai.

Status itu disebabkan daerah di Sinjai pada umumnya merupakan perbukitan dengan kondisi tanah labil dan kemiringan permukaan tanah mencapai 45 derajat. ”Dalam peta bencana, Sinjai menjadi daerah paling rawan longsor di Sulawesi Selatan,” ungkap Mulawangsa.

Menurut dia, imbauan terhadap warga sekitar telah disampaikan sejak Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memperkirakan hujan masih akan terjadi hingga bulan Juli. Warga di Kecamatan Sinjai Barat dan Sinjai Tengah telah diimbau agar segera mencari tempat yang lebih aman ketika hujan terus mengguyur dalam beberapa hari.

”Imbauan ini juga kami sampaikan kepada camat dan lurah untuk mengingatkan warga agar jangan lengah saat hujan deras terjadi,” ujar Mulawangsa. Dia berharap jalan utama dari Sinjai ke Makassar ataupun sebaliknya kembali normal paling lambat Senin siang.

Terputusnya jalan di Sinjai menuai keprihatinan pelaku usaha. Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sulawesi Selatan Zulkarnaen Arief berpendapat, kerapnya jalan terputus akibat bencana alam membuat biaya distribusi barang naik hingga 20 persen. Kondisi ini memengaruhi harga komoditas di tingkat konsumen.

Selama ini 80 persen komoditas bahan pangan dan material di Makassar dipasok dari daerah. Dengan terganggunya jalur distribusi, harga pun cenderung meningkat saat dikonsumsi. ”Jalur Sinjai dan Bulukumba menuju Makassar sangat penting karena cukup banyak bahan pangan dipasok dari kedua daerah itu. Infrastruktur jalan harus dibenahi,” tuturnya. (RIZ)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: