Ribuan Hekter Sawah di Lampung Terancam Puso

Kompas, Nusantara 2010-07-03 / Halaman 22

Curah hujan yang tinggi beberapa hari terakhir merusak setidaknya 20 hektar padi persemaian di Kabupaten Lampung Selatan. Di kawasan lainnya, juga di Lampung, banjir merendam 1.700 hektar sawah.

”Padi-padi yang tergenang banjir itu kemungkinan besar juga puso karena (curah) hujan tinggi terus saja terjadi,” ujar Rozali, Kepala Seksi Budidaya Serealia Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Lampung, Jumat (2/7).

Daerah yang dilanda banjir terparah adalah Candipuro. Di kecamatan ini 905 hektar sawah berisi padi usia 7-21 hari terendam banjir. Wilayah lain yang sawahnya dilanda banjir adalah Way Sulan (697 hektar sawah, dengan padi usia 5-30 hari).

Untuk mengurangi beban petani, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Lampung telah mengajukan permohonan cadangan benih nasional kepada pemerintah pusat. Namun, jumlahnya masih belum ditentukan.

Rozali mengatakan, cuaca ekstrem tahun ini menimbulkan puso yang lumayan besar. ”Pada Juni-Juli biasanya petani justru tengah menghadapi kesulitan air. Musibah banjir tahun ini setidaknya mengakibatkan 7.965 hektar sawah di Lampung puso. Banjir kebanyakan terjadi di awal tahun,” katanya.

Informasi dari Badan Meteorologi, Geofisika, dan Klimatologi, curah hujan intensitas sedang-tinggi diperkirakan masih akan terjadi di wilayah Sumatera, Jawa, serta sebagian Bali dan Maluku hingga pertengahan Juli mendatang. Musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung lebih pendek dan lebih basah daripada tahun-tahun sebelumnya. Kondisi anomali cuaca ini serupa dengan tahun 1998.

Produksi turun

Masih terkait cuaca, dari Bantul, DI Yogyakarta, Badan Pusat Statistik DIY memprediksi, produksi padi di provinsi itu akan turun 13.863 ton. Ini terutama dipicu perubahan iklim dan pengurangan luas panen akibat alih fungsi lahan pertanian.

Kepala Badan Pusat Statistik DIY Suharno mengatakan, produksi padi tahun 2009 tercatat 837.930 ton. ”Tahun ini diperkirakan turun sekitar 1,65 persen. Penurunan sebagian besar terjadi pada padi lahan persawahan. Luas panen lahan persawahan menurun dari 105.613 hektar menjadi 104.226 hektar,” paparnya.

Penurunan produksi padi ini, lanjutnya, juga imbas dari perubahan iklim. ”Produktivitas padi menurun karena berbagai serangan hama yang muncul karena perubahan iklim. Banyak padi yang terserang wereng batang coklat dan hama lainnya sehingga produksinya tak maksimal,” ujar Suharno.

Perkiraan penurunan produksi padi dihitung dengan memerhatikan realisasi produksi Januari-April dan perkiraan Mei-Desember. Selain padi, komoditas lain yang produksinya diperkirakan juga turun adalah kacang tanah. Jika produksi 2009 tercatat 65.893 ton biji kering, tahun ini diperkirakan turun menjadi 47.614 ton biji kering. (ENY/JON)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: