Dilema Budidaya Rumput Laut di Wakatobi

Media Sultra, Lingkungan 2010-06-24 / Halaman 5

Oleh : Asep Firmansyah

Produksi rumput laut kering saat ini di dunia sekitar 1,2 milyar ton per tahun. Seperempatnya, yakni sekitar 290 ribu ton berasal dari daerah tropis, terutama Indonesia (50%) dan Filipina (35%). Semula produksi rumput laut memang benyak dari wilayah sub tropis. Di wilayah sekitar khatulistiwa mulai berkembang sejak tahun 1975. Namun kalau dilihat produksi kerajinan, pada tahun 2007 telah menunjukkan Filipina memiliki kapasitas tertinggi yakni 34,5 ribu ton (41%), Indonesia 17 ribu ton (20%), China 9 ribu ton (11%) sedangkan dibawahnya adalah AS dan Amerika Selatan, masing-masing 4,4 ribu ton (5%).

Di Indonesia, rumput laut benyak dihasilkan di Sulawesi Selatan, dengan produksi basah pada tahun 2008 sebanyak 690.385 ton, diikuti oleh Nusa Tenggara Timur 566.495 ton, Sulawesi Tengah 208.040 ton dan Bali 170.860 ton. Produksi dari seluruh Indonesia rumput laut basah adalah 1,94 juta ton, hanya 25% yang diolah di dalam negeri untuk menjadi keraginan. Hal ini jauh dari produksi keraginan Indonesia yang saat ini produktif adalah 12 perusahaan.

Di Sulawesi Tenggara sendiri, potensi rumput laut banyak terdapat di Kepulauan Wakatobi dengan luas perairan laut 18,377 kilometer persegi, daerah ini menjadi sentra pengahasil rumput laut terbesar di Sultra.

Budidaya rumput laut yang telah dikembangkan bertahun-tahun oleh sebagian besar masyarakat di Kabupaten Wakatobi, telah terbukti mampu meningkatkan perekonomian masyarakata setempat.

Berdasarkan penelitian Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Unhalu tahun 2009, kontribusi PDRB sektor perikanan terhadap pembentukan PDRB sektor perikanan terhadap pembentukan PDRB Sultra menurut lapangan usaha adalah sebesar 13,47 persen sedangkan kontribusi PDRB sektor komoditi rumput laut terhadap PRDB sultra sebesar 4,42 persen. Serta kontribusi rumput laut terhadap PDRB sektor perikanan sebesar 32,81 persen.

Dapat diketahui rata-rata besaran secara surplus usaha yang dihasilkan oleh para pelaku produksi rumput laut di Sultra adalah sebesar 47,09 persen dari keseluruhan total penerimaan. Dengan demikian keterlibatan stakeholder terkait lingkup Wakatobi saling mendukung dalam menuju kesejahteraan masyarakat dalam budidaya rumput laut.

Namun lima tahun belakangan ini, petani budidaya rumput laut di Wakatobi resah dengan tidak stabilnya harga jual rumput laut di pasaran. Akibat tidak stabilnya harga jual, maka hasil yang diperoleh petani rumput laut pun menjadi tak menentu.

Abdul Gafar, warga desa Liya Bahari, Kecamatan Wangi-wangi Selatan mengeluhkan harga rumpur laut kering yang tidak stabil sejak lima tahun silam, berdampak pada minimnya penghasilan petani rumput laut. “Sekarang ini rumput laut kering hanya dihargai Rp 10.000 per kg. Tapi harga jual ini kadang tidak stabil, kami juga meminta kepada pemerintah kabupaten untuk menstabilkan harga, karena pada tahun 2007 harga rumput laut kering mencapai Rp 20 ribu per kg”, ungkapnya.

Menurut guru besar bidang ilmu pengelolaan sumber daya pesisir dan laut Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Haluoleo Onu La Ola, pengelolaan rumput laut di Wakatobi masih begitu tradisional, tetapi karena rumput laut di Wakatobi memiliki kualitas yang cukup bagus maka dirinya berencana untuk mendatangkan pembeli serta akan menstabilkan harga dasar ditingkat petani rumput laut.

Selain itu, ia juga mengatakan, harga pokok penjualan tiap nelayan rata-rata Rp. 3.374 per kg, dengan harga jual lokal delapan sampai sembilan ribu rupiah per kg. Sedangkan harga jual di pasar Baubau mencapai Rp 10 ribu – Rp. 11 ribu per kg.

Selain masalah ketidakstabilan harga, penyuluhan dan bibit juga masih menjadi kendala yang dihadapi petani. Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia dalam siaran persnya menyatakan, disamping penyuluhan dan bibit, permasalahan lain yang dihadapi dalam pengembangan rumput laut adalah tidak adanya stabilitas suplai bahan baku untuk industri rumput laut, tata ruang budidaya, kelemahan tata niaga, bahkan saat ini ada problem baru, yakni pembeli dari China yang merambah sampai lapangan, terhadap bahan mentah rumput laut.

Hal ini menunjukkan keseriusan pemerintah daerah di sektor dubidaya rumput laut masih sangat minim. Untuk menjadikan sektor ini sebagai komoditi unggulan Sultra, mestinya pemerintah memberikan dukungan kebijakan khusus terhadap pengelolaan rumput laut. Kebijakan dimaksud salah satunya adalah regulasi yang mengatur stabilitas harga pasar sampai pada jaminan pasar untuk sektor rumput laut di Sultra.

Advertisements

One Response

  1. saat ini kami sedang melakukan penelitian untuk membuat alat bantu untuk para petani rumput laut dengan membuat alat penenun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: