Warga Buton Kembangkan Biogas

Kendari Pos, Bumi Anoa 2010-06-22 / Halaman 5

Selain harganya yang cukup mahal, sulitnya memperoleh minyak tanah serta rawannya penggunaan gas elphiji yang sering kali meledak, membuat warga Buton memilih menggunakan bahan bakar alternatif  Biogas yang dikembangkan sendiri oleh warga. Saat ini warga sudah mengembangkan Biogas di Kecamatan Mawasangka, Buton.

Bahan bakar Biogas, memanfaatkan kotoran ternak milik warga. Seperti pengakuan Salamah, salah seorang warga Kecamatan Mawasangka, akhir pekan lalu. Menurut dia, ide untuk memanfaatkan kotoran ternak dan mengembangkan jadi bahan bakar Biogas diperolehnya setelah mengikuti pelatihan yang dilakukan dinas Pertanian Provinsi Sultra tahun 2008 silam. Kemudian, dari hasil pelatihan tersebut, dia coba mengembangkan dan terlaksana.

’’Setelah menggunakan bahan bakar alternalif Biogas enam bulan terakhir ini, saya sudah bisa menghemat pengeluaran uang untuk beli minyak tanah. Mengantri dan berdesak-desakan hanya untuk membeli minyak tanah, sudah tidak lagi. Meski keraguan soal hal-hal yang tak diinginkan terjadi, namun itu saya rasakan. Tidak ada rasa takut kalau tiba-tiba akan meledak karena kemungkinannya sangat kecil. Jadi saya merasa nyaman waktu memasak,’’ katanya.

Perbandingan dengan menggunakan minyak tanah, sambungnya, satu liternya hanya untuk pemakaian selama dua hari. Sementara penggunaan Biogas, satu kilo gram kotoran sapi bisa menghasilkan Biogas yang dapat bertahan hingga dua atau tiga hari.  ’’Karena hal itu jauh lebih mahal bila dibanding dengan penggunaan Biogas, makanya saya harus terus bertahan tetap menggunakan Biogas,’’ jelasnya.

Sementara itu, Direktur Lembaga Gagak Buton, Harlis Eshaya, mengatakan, pengembagan energi Biogas ini merupakan bentuk penyadaran pada masyarakat agar lebih menyayangi lingkungan sekitar. Selain  warga dapat memanfaatkan kotoran ternak yang ada di sekitar mereka sebagai bahan baku untuk dijadikan bahan bakar alternatif, juga keadaan lingkungan bersih dan indah dipandang mata.

’’Kalau dulu masyarakat sering menebang kayu di hutan untuk dijadikan kayu bakar, kini tidak lagi. Karena masyarakat sudah  tahu akan perkembangan zaman. Dan kalau bahan bakar alternatif ini dikembangkan ke seluruh masyarakat, maka lingkungan lebih bisa terjaga,’’ kata Harlis diruang kerjanya.

Harlis lebih merinci bahwa secara teknologis, prinsip pembuatan Biogas adalah memanfaatkan gas metan yang mudah terbakar dan terdapat di dalam kotoran sapi untuk dikonvensi jadi bahan bakar Biogas yang dapat digunakan terutama untuk konsumsi keluarga. Selain perlu adanya hewan sapi sebagai pemasok kotoran, juga diperlukan sarana penampungan kotoran agar dapat berproses menghasilkan gas metana.(yaf)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: