Keracunan, Dua Waega Lakudo Meninggal

Kendari Pos, Bumi Anoa 2010-06-22 / Halaman 5

Fenomena alam terjadinya pertumbuhan drastis organisme plankton merah di laut atau yang dalam bahasa ilmiahnya disebut dengan ’’red tide’’, merenggut korban jiwa di teluk Lasongko, Kecamatan Gu  Kabupaten Buton. Selama periode Mei sampai Juni ini, dua korban dilaporkan meninggal di Puskesmas Wamolo. Gejala yang dialami dua korban tersebut sama, yakni mual. Gejala ini dirasakan hampir semua masyarakat di desa Moko, Mone, Lolibu dan Wajo Gu.

Kepala Mitra Bahari Regional Center Sultra yang juga dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Unhalu, Ir Abd Hamid MSc, bersama dosen FPIK lainnya DR Yusnaini DEA yang menerima laporan masyarakat melakukan investigasi menyelidiki penyebab awal keracunan tersebut. Dari pengamatan, keduanya melihat ada gejala keracunan yang kemungkinan disebabkan karena memakan hasil laut di sekitar bagian utara teluk Lasongko (tempat yang berdekatan dengan keempat desa tersebut, red).

Pasalnya, banyak ikan yang sudah mati dan mengambang di laut. Kondisi itu menggambarkan telah terjadi kematian massal ikan yang hanya terjadi diantaranya jika terkena buangan limbah, pemboman atau keracunan. Keterangan dari masyarakat makin menguatkan opini tersebut. Masyarakat menyebut gejala keracunan terjadi setelah mereka memakan ikan dan kerang-kerangan di sekitar teluk.

Dari hasil penelitian mikroskopis sampel air laut, kerang-kerangan dan ikan mati disekitar teluk, diketahui bahwa terdapat Dinoflagellata (plankton) jenis Pyrodinium bahamense, dalam konsentrasi tinggi di setiap sampel. Pyrodium bahamense adalah jenis plankton yang sangat berbahaya karena mengandung racun saxitoxin yang bersifat neurotoxin yakni menyerang saraf pernafasan dan menghambat oksigen masuk dalam tubuh.

’’Efek paling ringan dari bahamense adalah keracunan dan dalam konsentrasi tinggi menyebabkan kematian,’’ ujar Hamid yang dibenarkan Yusnaini.

Untuk meyakinkan hasil sampel tersebut, keduanya lalu menggandeng stasiun karantina ikan kelas I bandara Haluoleo Kendari. Hasil penelitian sampelnya dibandingkan dengan yang dimiliki Hamid dan Yusnaini. Hasilnya sama, ditemukan Pyrodinium bahamense dalam konsentrasi tinggi.

Yusnaini menjelaskan, peningkatan pertumbuhan Dinoflagellata di laut secara alami disebabkan eutrofikasi atau pengkayaan laut. Proses itu biasanya terjadi diawali dengan upwelling atau naiknya air laut dari lapisan dasar ke permukaan karena desakan arus bawah.

Kondisi tersebut makin mengkhawatirkan karena menurut informasi dihimpun Hamid dan Yusnaini, kejadian serupa juga terjadi sekitar Juli tahun 2009 di tempat yang sama dan menelan dua korban meninggal dunia. Artinya, kemungkinan red tide di teluk Lasongko sudah menjadi siklus tahunan alami Dinoflagellata.

’’Seandainya itu betul jadi siklus tahunan, harus ada semacam tim terpadu dari instansi terkait untuk memcahkan masalah ini secara total. Karena kejadian ini sudah bukan hanya soal keracunan saja, tetapi sudah menyebar ke berbagai aspek kemasyarakatan baik itu sosial, hilangnya lapangan pekerjaan dan kelaparan. Bagaimana tidak, sekarang ini sudah hampir tidak ada warga yang turun melaut karena tidak mau makan ikan dan kerang dari teluk Lasongko lagi. Bahkan mereka lebih baik membeli sayur yang sudah dua hari dan layu dari pada makan ikan,’’ ungkap Yusnaini yang lulusan master dari universitas di Prancis.(Cr2)

One Response

  1. Do you need unlimited content for your blog ? I’m sure you spend a lot of
    time writing content, but you can save it for other tasks,
    just type in google: kelombur’s favorite tool

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: