Kelestarian Perikanan Tangkap Terancam

Kompas, Lingkungan & Kesehatan 2010-06-22 / Halaman 16

Kelestarian perikanan tangkap kian terancam akibat penggunaan alat tangkap jenis trawl atau pukat. Penggunaan pukat membuat banyak hewan air bukan sasaran, misalnya penyu, hiu, kuda laut, atau ikan lain yang hendak memijah, ikut tertangkap.

Selain cenderung tidak termanfaatkan secara ekonomis, tangkapan sampingan juga membuat kelestarian perikanan tangkap terancam.

Anggota Komisi Nasional Pengkajian Sumber Daya Ikan yang juga pakar teknologi penangkapan ikan dari Institut Pertanian Bogor, Ari Purbayanto, menyatakan, penelitiannya di Perairan Laut Arafura menyimpulkan, tangkapan sampingan banyak terjadi akibat penggunaan pukat udang dan pukat ikan. Menurut hitungannya, ketika pukat udang terisi sekitar 600 kg tangkapan, tangkapan berupa udang 30-40 kg.

”Perikanan tangkap kita sangat tidak efisien. Di Laut Arafuru perbandingan bisa mencapai satu bagian tangkapan sasaran berbanding 15 hingga 20 bagian tangkapan sampingan. Kapal industri perikanan hanya mau menampung tangkapan sasaran dan cenderung membuang tangkapan sampingan kembali ke laut,” kata Ari ketika dihubungi di Timika, Papua, Senin (21/6).

Penelitian Ari di Laut Arafuru pada tahun 2004 menunjukkan setiap tahun 332.000 ton tangkapan sampingan dibuang lagi ke laut. Saat ini diperkirakan tangkapan sampingan mencapai 300.000 ton per tahun. ”Di Laut Arafuru beroperasi sekitar 200 pukat udang dan lebih dari 900 pukat ikan. Padahal, optimum untuk Laut Arafuru hanya 900 pukat. Kini, kelestarian perikanan tangkap di sana terancam,” kata Ari.

Pukat adalah jaring dengan mulut berdiameter besar. Bagian bawah mulut pukat dipasang pemberat dan papan/lempeng pengeruk dasar laut. Bagian atas mulut pukat dipasang pengapung. Ukuran mata jaring di bagian mulut besar, semakin ke ujung semakin kecil hingga 0,25 cm. Ketika ditarik kapal, semua fauna laut ikut terjaring.

Alat tangkap lain berkarakter ”asal tangkap” adalah long-line—mirip pukat, tetapi tanpa pemberat dan penggaruk. Menurut Ari, kebijakan pemerintah mewajibkan pemasangan turtle excluder device (TED) pada pukat hanya mengurangi volume tangkapan sampingan 30 persen.

Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) M Riza Damanik memperkirakan volume tangkapan sampingan nasional mencapai 1 juta ton per tahun. ”Tangkapan sampingan hanya terjadi pada industri perikanan tangkap. Nelayan selalu bisa memanfaatkan semua tangkapannya, tanpa perlu membuang,” katanya.

Dia menyatakan, tangkapan sampingan terjadi karena pasar internasional mendikte. ”Pasar global hanya meminati komoditas tertentu, terutama ikan tuna dan udang laut. Demi memasok pasar global, tangkapan sasaran dicari dengan cara apa pun, termasuk memakai pukat atau long-line. Itu mirip perkebunan monokultur sawit yang mengorbankan keanekaragaman hayati hutan tropis demi memenuhi permintaan pasar global.”

”Studi Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia menyimpulkan, dalam penangkapan 1 ton ikan tuna, volume tangkapan sampingan mencapai 5 ton. Di sana ada spesies langka, ikan yang belum saatnya ditangkap, dan ikan yang akan memijah. Siklus makanan dan pemijahan ikan terganggu. Ujungnya, populasi tangkapan sasaran juga berkurang,” kata Damanik. (ROW)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: