Aparat Tangkap Penjual Orangutan

Kompas, Nusantara 2010-06-22 / Halaman 27

Satuan Polisi Kehutanan Reaksi Cepat Kalimantan Barat dan aparat Kepolisian Daerah Kalimantan Barat menangkap dua penjual orangutan (Pongo pygmaeus). Petugas juga menyita seekor orangutan sebagai barang bukti.

Penangkapan kedua pelaku, HS dan ET, terjadi di Jalan Jenderal Urip, Kota Pontianak, Senin (21/6) siang, setelah kedua orang itu dijebak sedang bertransaksi oleh informan. Komandan Satuan Polisi Kehutanan Reaksi Cepat Brigade Bekantan Kalimantan Barat David Muhammad mengatakan, kedua orang itu langsung diperiksa.

”Kalau bukti-buktinya kuat, mereka bisa menjadi tersangka. Sejauh ini, mereka memang tertangkap tangan hendak menjual orangutan itu,” kata David.

Kedua orang itu terancam hukuman lima tahun penjara dan denda Rp 100 juta karena diduga melanggar Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Orangutan merupakan salah satu primata Kalimantan yang sudah langka dan dilindungi sehingga dilarang dijual atau dikuasai.

David mengatakan, sebulan lalu informan dan petugas intelijen mendapat informasi bahwa kedua pelaku itu bisa menyediakan orangutan bagi yang memesan. Sejak itu, kedua orang yang biasa berdagang satwa peliharaan di Jalan Jenderal Urip, di depan SMP Negeri I Pontianak, tersebut terus diawasi.

Informan mencoba menghubungi para pelaku dan meminta disediakan satu orangutan. ”Kedua orang itu bertransaksi sangat rapi karena tidak bersedia menunjukkan orangutan sampai hari transaksi. Mereka hanya bersedia menunjukkan lewat foto- foto yang dikirim melalui MMS (multimedia messaging service),” kata David.

Orangutan itu dijual seharga Rp 3 juta oleh kedua pelaku kepada informan. ET mengatakan, dia membeli orangutan seharga Rp 1 juta dari temannya. ”Saya tidak tahu dari mana orangutan ini. Saya hanya memesan dan menjual lagi karena ada pesanan,” kata ET.

David mengatakan, dilihat dari cara mereka bertransaksi, kemungkinan besar kedua pelaku merupakan bagian dari suatu jaringan besar perdagangan satwa yang dilindungi di Kalbar.

”Dari kasus ini, kami yakin bahwa perdagangan satwa dilindungi masih terjadi. Kami terus berupaya menekannya,” kata David.

Masih maraknya perdagangan orangutan di Kalbar merupakan salah satu hambatan dalam upaya konservasi orangutan di Kalbar. Kini diupayakan restorasi kawasan bekas hak pemanfaatan hutan untuk menjadi kawasan pelepasliaran orangutan. (AHA)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: