Anomali Iklim, Ancam Wereng Meningkat

Kompas, Lingkungan & Kesehatan 2010-06-22 / Halaman 16

Penyimpangan iklim memengaruhi musim kemarau yang diselingi lebih banyak hujan seperti sekarang ini menimbulkan kelembaban tinggi. Kondisi kelembaban tinggi ini menyuburkan hama tanaman pangan, seperti wereng batang coklat.

Pertumbuhan jenis hama serangga ini pada tahun 2010 hingga bulan Juni telah meningkat lebih dari tiga kali lipat dibandingkan dengan periode yang sama setahun lalu.

”Revitalisasi pengendalian hama wereng batang coklat sangat dibutuhkan. Setiap pemerintah daerah harus segera membuat pos pemantauan hama ini,” kata Kepala Departemen Perlindungan Tanaman Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Dadang dalam konferensi pers, Senin (21/6) di Bogor.

Dadang menyebutkan, selama setahun pada 2009 lalu tercatat di Indonesia serangan hama wereng mencapai 13.122 hektar (ha), sedangkan tahun 2010 hingga Juni saja sudah mencapai 30.150 ha. Meluasnya serangan hama wereng ini merupakan indikasi adanya ancaman terhadap produktivitas padi.

Wereng merupakan jenis hama padi dengan daya rusak peringkat keempat. Hama yang paling merusak berturut-turut adalah tikus, penyakit, dan penggerek batang.

Gangguan

Secara terpisah, ahli biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dedy Darnaedi, membenarkan, peluang untuk berkembang biak jenis serangga, termasuk hama wereng, menjadi tinggi dalam kondisi kelembapan udara tinggi—di mana udara panas banyak menghasilkan uap air.

”Adanya perubahan alam seperti sekarang ini telah menimbulkan gangguan pada ekosistem yang sudah berjalan selama ini,” kata Dedy.

Menurut Dedy, anggapan yang menyatakan bahwa dengan banyaknya hujan yang menyebabkan air melimpah untuk irigasi pertanian, produktivitas diharapkan meningkat, sekarang tidak signifikan lagi.

Sekarang ini justru produktivitas bisa menurun akibat meningkatnya serangan hama. Apalagi pola tanam padi sekarang cenderung tidak diselingi dengan palawija sehingga hama tumbuh makin cepat, yang mengakibatkan semakin sulit dikendalikan.

Menurut Dadang, rerata tahunan penurunan produktivitas padi sekarang 10 persen hingga 20 persen. Dengan pertumbuhan hama wereng yang melesat seperti sekarang tanpa pengendalian terpadu, bisa meningkatkan penurunan produktivitas lebih banyak.

”Ada tiga faktor yang memengaruhi produktivitas meliputi varietas padi yang ditanam, pengaruh iklim, dan pemanfaatan pestisida. Ketiga faktor ini bisa sekaligus terjadi hingga penurunan produktivitas semakin tinggi,” kata Dadang.

Menurut dia, hama wereng batang coklat memiliki sebaran di sebanyak 27 provinsi. Beberapa provinsi utama yang menghadapi peningkatan serangan hama ini meliputi Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, Nanggroe Aceh Darusallam, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Yogyakarta, Lampung, Bali, dan Kalimantan Selatan.

Wilayah yang dinyatakan endemis terhadap serangan hama wereng ini ada di wilayah Jawa Tengah (10 kabupaten), Jawa Barat (5 kabupaten), Banten (4 Kabupaten), dan Aceh (3 Kabupaten).

Menurut Dadang, pengendalian hama wereng sekarang makin sulit akibat menyusutnya musuh-musuh alami dan penggunaan pestisida yang mengakibatkan resistensi hama. (NAW)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: