Pengelolaan Pembibitan, Atasi Penyakit Rumput Laut

Kendari Pos, Lingkungan 2010-06-19 / Halaman 6

Wakatobi sebagai Kabupaten yang memiliki laut lebih luas dari daratannya dinilai cocok untuk dijadikan sentra rumput laut. Luas lautan Wakatobi sekitar 18.377 km2 sementara daratan hanya 823 km2 (4,5%). Selain itu sejak 1980-an masyarakatnya pun telah mebudidayakan rumput laut dengan jenis Eucheuma sp.

Guru besar tetap bidang ilmu pengelolaan sumber daya pesisir dan laut Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Haluoleo, Kendari, Prof. Dr. H. La Onu La Ola, SE, MS mengatakan laut wakatobi sangat jernih sehingga membuat kwalitas rumput laut jenis Eucheuma cottoni bisa bagus.

“Berbeda dengan daerah lain yang menggunakan pupuk, rumput laut wakatobi dapat tumbuh subur tanpa pupuk atau hanya  dengan kondisi alami. Misalnya rumput laut di sekitar Pulau Hoga yang ketebalannya mencapai 2 meter dan telah dibudidayakan sejak 1950”, katanya.

Diakuinya, pengelolaan rumput laut Wakatobi masih tradisional, tetapi karena kwalitas yang bagus maka pihaknya tahun ini berencana mendatangkan pembeli (buyer), serta melakukan stabilitas harga dasar di tingkat petani rumput laut. Tidak kalah pentingnya dirinya meminta dukungan Pemda dalam penyiapan teknologi tepat guna oleh pihak Unhalu, dalam rangka mendukung terbentuknya pusat pengembangan rumput laut Wakatobi.

“Karena itu Pemkab perlu mendukung penelitian rumput laut Unhalu dan menyahuti kerja sama BPPT Jakarta, untuk penguatan modal usaha bagi empat kelompok nelayan di Kecamatan Kaledupa dan Keledupa Selatan. Ke depannya kami juga akan mengoptimalkan pengelolaan pasca panen, yang dibantu oleh Menteri Perindustrian dan UMK berupa bentuan peralatan pengemasan misalnya dodol, sirup dan jelly rumput laut”, tambahnya.

Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul model sistem pengembangan usaha rumput laut dalam pembangunan ekonomi Sultra, pada saat dirinya akan diangkat menjadi guru besar, La Onu La Ola menyebutkan rata-rata tumbuhan modal usaha bagi petani rumput laut di Wakatobi sebesar Rp 10 juta per orang, dengan rata-rata kapasitas produksi per orang sebesar 1 ton per panen atau 3 ton per tahun. Adapun harga pokok penjualan rumput laut tiap nelayan rata-rata Rp 3.974 per kg, dengan harga jual lokal Rp 8 ribu – Rp 9 ribu per kg sedangkan di pasar Baubau sebesar Rp 10 ribu kg – Rp 11 ribu per kg.

Dirinya juga merinci peningkatan volume produksi sebesar 2-4 kali lipat dari hasil produksi sebelumnya, yaitu 0,5 per kg basah per titik menjadi 1-2 kg basah per titik. Selain itu pihaknya mampu menghasilkan peningkatan jejaring pemasaran ditandai dengan pembeli dari China sebanyak 20 ton dengan harga jual Rp 11.500 per kg. “Karena itu proses produksi, pasca dan pemasaran yang dimulai dari kesepakatan antara pelaku usaha, pemerintah, pengusaha, perbankan dan perguruan tinggi (PT), sangat mendukung pengembangan rumput laut untuk kesejahteraan. Di tambah dengan unsur promosi potensi dan keunggulan rumput laut melalui media, tentunya semakin mempercepat pencapaian tersebut”, tutupnya.

Bisa dibayangkan kontribusi rumput laut terhadap kesejahteraan masyarakat Wakatobi jika dikelola dengan seoptimal mungkin. Selain itu menurut hasil penelitian lembaga pengabdian pada masyarakat (LPPM) Unhalu tahun 2009, kontribusi PDRB Sultra menurut lapangan usaha adalah sebesar 13,47 persen sedsangkan kontribusi PDRB sektor komoditi rumput laut terhadap PDRB Sultra sebesar 4,42 persen. Serta kontribusi sektor perikanan sebesar 32,81 persen. Selanjutnya secara rata-rata besaran surplus usaha yang dihasilkan oleh para pelaku produksi rumput laut di Sultra, adalah sebesar 47,09 persen dari total penerimaan. Maka sudah saatnya stakeholder terkait lingkup Wakatobi saling mendukung menuju kesejahteraan Wakatobi berbasis rumput laut.

Mengenai masalah penyakit rumput laut baik berupa ice-ice maupun lumut yang banyak dikeluhkan petani rumput laut, yang terjadi di setiap bulan April dan Juni sehingga menyebabkan produksi rumput laut mereka turun drastis, dijawab oleh peneliti rumput laut Unhalu, Dr. Maruf Kasim. Alumni S3 Jepang ini mengungkapkan jika penyakit ice-ice terjadi karena perubahan kondisi lingkungan.

“Perubahan kondisi lingkungan perairan seperti suhu, salinitas dan parameter fisiknya lainnya membuat sel-sel rumput laut pecah. Perlu diketahui ice-ice bukan serangan bakteri, tetapi kerusakan sel akbiat perubahan lingkungan, yang ditandai dengan gejala terjadinya pemutihan, serta rusaknya dan terlepasnya sel”, ungkap Ma’ruf Kasim.

Menurutnya ada upaya yang bisa dilakukan untuk meminimalisir terjadinya penyakit ice-ice yaitu dengan pengelolaan pembibitan yang baik. Diikuti dengan pola budidaya yang bagus, yang tentunya membutuhkan ketekunan pemeliharaan dari masyarakat. Demikian pula dengan melekatnya lumut pada rumput laut. Yang mana lumut tumbuh subur karena lingkungan banyak menyuplai nutrient, sehingga lumut dapat menempel pada rumput laut. Lumutnya bisa hilang jika masyarakat tekun membersihkannya secara manual setiap 2-3 hari.

Mengingat penyebab terjadinya ice0ice karena alam, maka hingga saat ini belum ada solusinya sehingga satu-satunya cara meminimalisirnya yaitu dengan pengelohan pembibitan. Apalagi pola stek yang dilakukan petani rumput laut Wakatobi telah dilakukan sejak 1983, yang masuk melalui Kabupaten Buton, dengan bibit awal berasal dari Filipina. “Pola stek yang petani rumput laut lakukan merupakan sistem vegetatif dengan cara memotong dari bibit ke bibit dan belum ada regenerasi dari tumput laut, padahal jika mereka mampu meregenerasi maka akan membuat ketahanan rumput laut terhadap penyakit akan lebih bagus. Berdasarkan penelitian saya, hasil regenerasi lebih bagus dibanding vegetatif, selain itu baik juga dilakukan pola generatif dari spora, karena itu pola budidaya masyarakat juga perlu mendapatkan perhatian mulai dari pemilihan dan cara memperoleh bibit hingga jarak tanam serta perlakuan selama proses budidaya”, tambahnya.

Dijelaskannya sistem long line di atas permukaan 5 cm yang selama ini benyak digunakan masyarakat, sebenarnya dapat diturunkan posisinya hingga 20 cm dari permukaan laut. Maksudnya jika tiba-tiba terjadi hujan otomatis fluktuasi salinitas akan pula terjadi, sehingga untuk menetralisirnya agar bisa pada salinitas awalnya maka dapat diturunkan hingga 20 cm dari permukaan laut. Caranya dengan menambahkan pemberat, sehingga posisi rumput laut dapat turun hingga kedalamannya yang diinginkan Demikian juga dengan mengantisipasi perubahan suhu yang main dilapisan permukaan. “Satu yang tidak bisa kita cegah yaitu perubahan suhu karena perubahan arus. Pasalnya arus yang agak hangat dibawah oleh arus, kemudian dengan tiba-tiba datang lagi arus dingin, yang mana hal ini terjadi akibatglobal warming”, jelasnya.

“Pertumbuhan rumput laut dengan pola generatif merupakan solusi penting dalam permasalahan budidaya rumput laut di Sultra khususnya dan Indonesia pada umumnya. Hal ini berdasarkan penelitian saya pada kondisi perairan dengan pasir putih dan kecerahan yang mencapai 100 persen dan kedalamannya mencapai 1-2 meter pada jarak 50 meter dari pinggir awal yang sangat baik berupa musim perekatan spora dan preferensi perekatan spora pada Agustus-November”, jelasnya.

Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Unhalu ini menandaskan pola vegetatif pada rumput laut memungkinkan jaringan sel yang ada pada tiap individu baru akan sama dengan umur awal induk yang diperoleh darui pola generatif. “Kenyataan yang terjadi di perairan Sultra sejak tahun 1990 sampai sekarang, belum pernah dilakukan peremajaan rumput laut dengan pola generatif, yang berarti rumput laut yang ada saat ini jaringan selnya, khususnya Euchema sp telah berumur lebih dari 15 tahun. Untuk itu akan sangat penting dan mendesak untuk segera dilakukan perintisan peremajaan bibit Euchema sp”, tandasnya. Ulfah Sari Sakti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: