Basah, Berkah, dan Musibah

Kompas, Ilmu Pengetahuan & Teknologi 2010-06-19 / Halaman 13

Oleh : Yuni Ikawati

Pada tahun ini, Indonesia memasuki kemarau yang basah, bercurah hujan di atas kondisi normal pada musimnya. Hujan yang relatif tinggi ini bukan hanya akibat pemanasan suhu muka laut di wilayah Nusantara, melainkan akibat pasokan uap air dari Pasifik dan Samudra Hindia.

Menghangatnya suhu muka laut di hampir seluruh wilayah Indonesia mulai terlihat sejak Mei 2010. Kondisi ini menyebabkan penguapan uap air sehingga terbentuk banyak awan hujan di atas wilayah Indonesia pada musim kemarau ini.

Selain massa air dari wilayah Indonesia akibat anomali itu, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Sri Woro B Harijono pada jumpa pers, Jumat (18/6), mengatakan, terjadi aliran massa air ke wilayah timur Indonesia dari Pasifik.

Hal ini disebabkan terjadinya La Nina di khatulistiwa Pasifik bagian timur berupa pendinginan suhu muka laut yang menimbulkan tekanan udara tinggi. Akibatnya, massa udara masuk ke Indonesia yang bertekanan rendah.

Kondisi yang sama juga terjadi di barat Indonesia karena terjadi fenomena Dipole Mode negatif. Disebut demikian karena di barat Sumatera terbentuk kolam panas yang mengakibatkan adanya suplai massa air dari kawasan Samudra Hindia ke bagian barat Indonesia.

Kondisi tiga anomali cuaca di sekitar Indonesia menjadi penyebab mundurnya musim kemarau di Indonesia hingga dua bulan, kata Sri Woro. Akibatnya, daerah di Zona Musim di Indonesia hanya akan mengalami kemarau selama dua hingga tiga bulan.

Endro Santoso, Kepala Bidang Klimatologi dan Kualitas Udara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menambahkan, Pulau Jawa hingga Bali hingga kini belum kemarau— normalnya sekitar April. Banyak hujan juga dialami sebagian Sumatera, Sulawesi Selatan dan Tenggara, serta Maluku.

Endro menambahkan, dalam beberapa hari ini timbul pusaran angin di Laut Cina Selatan. Hal ini akan menyebabkan banyak hujan di Sumatera bagian selatan dan Jawa bagian barat.

Pemanasan suhu muka laut ini dan masuknya massa udara dari barat dan timur Indonesia, kata Sri Woro, menyebabkan naiknya gelombang laut 2-6 meter hingga Agustus.

Pemanasan global

Peningkatan kejadian naiknya suhu muka laut, menurut Sri Woro, merupakan salah satu dampak dari pemanasan global akibat akumulasi gas rumah kaca di atmosfer yang bersifat menahan energi panas matahari di permukaan bumi.

”Meningkatnya pemanasan suhu muka laut ini akan mencapai puncaknya pada tahun 2012,” tutur Sri Woro, Kepala World Meteorological Organization Regional V.

Pemanasan global secara umum akan menyebabkan munculnya banyak awan hujan. Namun, pola turunnya hujan tidak merata di seluruh daerah. Akibat pemanasan global hujan akan banyak terjadi di wilayah dekat garis ekuator. Menurut penelitian BMKG bekerja sama dengan Badan Meterologi Jepang, 15 tahun lagi Jawa akan kurang hujan.

Dampak bagi pertanian

Musim kemarau yang agak basah ini, ujar Rizaldi Boer, pakar agroklimat dari Institut Pertanian Bogor, biasanya menyebabkan meningkatnya serangan wereng biasnya.

”Pengendaliannya harus sedini mungkin. Di samping itu juga masalah pengelolaan pascapanen, penggunaan alat pengering padi diperlukan karena radiasi matahari kurang,” katanya.

Menurut Rizaldi, ada peluang bagi petani di Jabar untuk meningkatkan indeks penanaman padi sampai tiga kali, khususnya petani yang berada di lahan golongan 1 dan 2. Untuk golongan 3 dan 4 bisa tiga kali tanam juga, tetapi tanaman ketiga tanaman nonpadi yang umurnya maksimum dua bulan, seperti kacang-kacangan dan sayuran.

Untuk Jateng dan Jatim sebaiknya tidak dilakukan peningkatan indeks tanam padi sampai 300 persen karena di wilayah ini sumber air irigasi hanya sebagian kecil dari waduk atau dam. Namunm bisa ditingkatkan dengan tanaman nonpadi.

Banjir meluas

Kepala Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara BMKG Edvin Aldrian menyatakan, sesungguhnya pemanasan suhu muka laut terjadi bukan hanya di sekitar kawasan Indonesia, melainkan juga di Teluk Benggala hingga ke barat pantai utara Australia. Ini menyebabkan hujan lebat di kawasan tersebut.

Pada 8 Juni-17 Juni, hujan lebat terjadi di berbagai belahan dunia, di Provinsi Hubai, China, yang merendam 28 kota, di Singapura, Rabu (16/6), hujan lebat berakibat sebagian besar negeri ”Singa” ini terendam.

Hujan lebat di kawasan Asia dan Australia, Kamis, telah menyebabkan banjir meluas yang merendam ratusan rumah dan menewaskan puluhan orang. Di Mumbai (India), tenggara Bangladesh, dan Yangoon (Myanmar) total korban tewas 117 orang. Adapun di Negara Bagian Victoria, Australia, lebih dari 100 rumah rusak akibat banjir.

Menurut Edvin, untuk memahami pola kenaikan suhu muka laut butuh penelitian mendalam soal iklim kelautan. Sementara itu, Thomas Djamaluddin, peneliti hubungan matahari-bumi LAPAN, berpendapat belum diketahui pasti kaitan antara pemanasan global dan kenaikan suhu muka laut karena banyak faktor terkait, antara lain respons laut dalam menerima energi matahari, kopling laut-atmosfer, dan pola arus laut.

Pemahaman perilaku laut-atmosfer merupakan salah satu kunci memprakirakan anomali iklim. Itulah yang terus dikaji para peneliti, termasuk mengkaji keterkaitannya dengan pemanasan global, baik dari efek antropogenik—manusia—maupun kosmogenik—alam, terutama matahari. (ARN)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: