Pertama Tanaman Gadu

Kompas, Nusantara 2010-06-16 / Halaman 22

Para petani di kawasan transmigrasi di Kabupaten Merauke, Papua, untuk pertama kali mencoba tanam padi musim gadu atau kedua pada tahun ini. Kendati dihadapkan pada ma- salah ketersediaan air, mereka berani menanam lagi mengacu keberhasilan panen musim tanam rendeng yang naik 30 persen dari tahun-tahun sebelumnya.

Pengamatan Kompas pada Selasa (15/6) di beberapa kawasan pertanian transmigrasi Merauke, seperti Kampung Marga Mulia, Kampung Yasa Mulia di Distrik Semangga 2 hingga areal sawah di Distrik Tanah Miring, menunjukkan, sejumlah transmigran mulai menanam benih padi untuk kedua kalinya sejak pekan pertama Juni. Kebanyakan lahan sawah mereka berada di sekitar selokan kecil yang masih tergenangi air rawa.

”Saya sudah menanam gadu sejak tujuh hari lalu. Ini masih coba-coba saja karena tahun-tahun sebelumnya belum pernah,” ujar Yatiman (55), petani transmigran di Distrik Semangga 1 Blok C yang memiliki lahan sawah seluas 1 hektar.

Petani yang mengikuti program transmigrasi sejak 1982 itu mengatakan, hasil panen musim tanam pertama (rendeng) pada Mei lalu 5 ton per hektar. Hasil itu meningkat dari tahun-tahun sebelumnya yang rata-rata 4-4,5 ton per hektar. Peningkatan produksi disebabkan beberapa faktor, seperti curah hujan yang merata sejak Januari serta pupuk yang melimpah.

Triasih (37), petani transmigran di Distrik Semangga Blok B, menambahkan, musim tanam gadu bagi petani Merauke sekaligus sebagai uji coba lahan. ”Selama ini, kami belum pernah mencoba tanam gadu. Kalau berhasil, syukur. Kalau tidak berhasil, berarti kondisi pertanian di sini memang belum siap untuk menghadapi dua kali masa tanam seperti di Jawa,” tutur perempuan asal Banyuwangi, Jawa Timur, itu yang saat ditemui sedang menyulami beberapa bagian sawah kosong dengan benih padi.

Uji coba

Pada panen April lalu produksi padi di lahan seluas 1 hektar milik Triasih sebanyak 4,5 ton gabah kering panen. Hasil itu meningkat dibandingkan dengan musim tanam tahun lalu sekitar 3,5 ton per hektar. Tahun ini ia menjual gabah ke penggilingan rata-rata Rp 4.000 per kilogram.

Karena kebutuhan beras untuk hidup keluarganya sudah mencukupi, ia dan suaminya, Ngatino, berspekulasi menanam padi lagi. ”Mumpung sisa-sisa air di kali kecil pinggir sawah itu masih ada,” ujar Ngatino.

Ia lalu menunjukkan genangan air di selokan kecil di depan sawahnya.

Bagyo (56), Ketua Kelompok Tani di Distrik Semangga Jaya, menyebutkan, di tengah keterbatasan sarana infrastruktur pertanian di Merauke, keberanian petani menanam padi untuk kedua kalinya patut diapresiasi. Sejauh ini, lahan pertanian di Merauke masih sawah tadah hujan, yang hanya mampu menerapkan satu kali masa tanam.

”Persoalan pengairan di Merauke selama puluhan tahun belum terpecahkan. Jika saja irigasi ini bisa disediakan pemerintah, saya yakin kesejahteraan petani lebih meningkat,” ujar Bagyo.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Merauke Omah Laduani Ladamay mengatakan, percepatan pembangunan pertanian daerahnya ditopang para transmigran yang lebih dulu menguasai teknologi pertanian dibandingkan petani lokal.

Pemerintah Kabupaten Merauke tahun ini menargetkan peluncuran megaprogram Merauke Integrated Food and Energy Estate sebagai bagian menjadikan daerah itu lumbung pangan nasional dan dunia. Potensi lahan budidaya yang akan dioptimalkan 2.491.821,99 hektar. (gre)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: