Para Penjaga Tradisi Buton

Kompas, Nusantara 2010-06-15 / Halaman 22

Sepasang pengantin bagi masyarakat Buton ibarat pasangan raja dan ratu. Busana pengantin khas Buton dilengkapi berbagai perhiasan yang terbuat dari kuningan.

Perlengkapan pengantin itu dibuat secara turun-temurun di kawasan Benteng Wolio, Kelurahan Melai, Kecamatan Murhum, Kota Bau-Bau, Sulawesi Tenggara.

Kawasan Benteng Wolio seluas 22,8 hektar itu merupakan situs peninggalan Kerajaan Buton (Wolio) yang dibangun pada masa Sultan Buton Ketiga, yaitu La Sangaji (1591-1597). Tempat tersebut dinamakan benteng karena dikelilingi pagar dari batu gamping yang disusun dan direkatkan dengan putih telur.

Saat ini, benteng tersebut masih berfungsi. Ada lebih dari 200 rumah khas Wolio, berupa rumah panggung yang tidak berpaku, menjadi tempat tinggal generasi penerus masyarakat Kerajaan Buton.

Sekitar 300 meter dari pintu masuk Benteng Wolio terdapat rumah panggung berwarna biru. Di rumah itulah, Naasifah (57) beserta anak-anaknya membuat baju pengantin adat Buton. Baju pengantin itu dijual sampai ke sejumlah daerah di Sulawesi, Kalimantan, Irian, bahkan hingga kota-kota di Pulau Jawa, seperti Bandung, Jakarta, dan Surabaya.

”Di mana ada komunitas Buton, pakaian pengantin ini pasti akan diminati,” kata Naasifah, Senin (14/6). Sepasang baju pengantin dijual seharga Rp 3,5 juta-Rp 4 juta. Dalam satu bulan, rata-rata tiga pesanan baju pengantin dikerjakan dalam 20 hari hingga satu bulan.

Naasifah dan anak-anaknya merupakan satu-satunya pembuat baju pengantin adat Buton di Kota Bau-Bau. Naasifah adalah generasi ke-6 dari keluarga pembuat baju pengantin di Benteng Wolio.

Kini Naasifah dibantu enam anak perempuannya dan beberapa saudara perempuannya dalam membuat pesanan baju pengantin. Berdasarkan tradisi keluarga, pekerjaan ini hanya boleh dilakukan kaum perempuan. ”Saya siap meneruskan pekerjaan Mama,” kata Nurmin, salah satu anak perempuan Naasifah.

Perhiasan

Di seberang rumah Naasifah terdapat sebuah balai kerja bercat hijau. Tempat itu digunakan untuk tempat pembuatan perhiasan adat pengantin Buton dari kuningan.

Samria (54) merupakan salah satu perajin perhiasan pengantin yang masih tersisa. Sama seperti Naasifah, Samria mewarisi pekerjaan itu dari orangtuanya. Pembuatan perhiasan itu juga harus dilakukan kaum perempuan. Samria dibantu sekitar 15 perajin. ”Semuanya berasal dari satu keluarga,” kata Samria.

Perhiasan yang diproduksi keluarga Samria, antara lain, anting-anting, kalung, dan gelang yang dijual Rp 150.000 per set. Ada pula perlengkapan pernikahan lain, seperti tempat sirih (kopo-kopo) yang dijual Rp 1 juta per set (dua tempat sirih).

Untuk membuat perhiasan, Samria menggunakan peralatan sederhana. Pelat kuningan dipotong dengan gunting dan dibentuk menjadi perhiasan dengan cara dipukul dengan palu. Untuk membuat ornamen hiasan yang berukuran kecil, Samria menggunakan palu dengan kepala yang berujung runcing.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Bau-Bau Feto Daud mengatakan, usaha yang dilakukan Naasifah dan Samria perlu diperhatikan karena mereka menghidupkan tradisi Buton. Yang dilakukan, antara lain, tahun 2003, pihaknya membangun balai kerja yang sekarang digunakan Samria.

”Pekerjaan ini tidak dapat dikerjakan sembarang orang karena butuh keahlian tertentu,” kata Feto. (Herpin Dewanto)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: