Haranggaol dan Keteguhan Petani Karamba

Kompas, Teropong-Nusantara 2010-06-14 / Halaman 38

Oleh : Khaerudin

Budidaya Ikan Nila Jika dilihat dari atas bukit, perairan Haranggaol mirip sebuah teluk di timur laut Danau Toba. Di antara sekian banyak keelokan pemandangan pada tiap sudut Danau Toba, Haranggaol tampak paling berbeda. Ini karena, sejauh mata memandang, ribuan keramba jaring apung milik petani yang membudidayakan ikan nila dan ikan mas memenuhi perairan ini.

Serangan wabah koi herpes virus pada bulan Oktober 2004 masih menyisakan trauma bagi petani keramba jaring apung di Haranggaol Horisan. Saat itu, sedikitnya 100 ton ikan mas mati dalam sekejap. Kerugian yang dialami petani mencapai lebih dari Rp 40 miliar. Jutaan ikan mas mengapung mati di perairan Haranggaol, sebuah teluk di timur laut Danau Toba yang masuk ke wilayah Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.

Bau busuk akibat ikan mati menyengat berhari-hari di Haranggaol. Dibutuhkan alat berat untuk mengangkat bangkai jutaan ikan mas mati tersebut dari danau untuk dikuburkan di atas perbukitan tak jauh dari Haranggaol.

Tak hanya kematian jutaan ikan mas, cerita duka akibat serangan koi herpes virus (KHV) ini bertambah dengan tumpukan utang petani di bank dan rentenir. Bahkan, dampaknya terasa sampai sekarang. Hampir tak ada bank yang berani menyalurkan kredit ke petani keramba jaring apung di Haranggaol.

Kini, setelah hampir enam tahun wabah KHV di perairan Haranggaol, perlahan tersebar lagi cerita sukses petani keramba jaring apung Haranggaol. Mereka tak menyerah oleh serangan KHV. Bahkan, ada petani yang masih berani membudidayakan ikan mas meskipun jenis ikan ini tergolong paling rentan terkena serangan KHV.

Tidak menyerah

Sejak serangan KHV, menurut salah seorang petani keramba di Haranggaol, Gerhad Saragih, hampir semua petani tak lagi membudidayakan ikan mas. Mereka memilih ikan nila yang tahan terhadap serangan herpes. ”Sekarang tinggal beberapa petani saja yang mau membudidayakan ikan mas, termasuk saya. Kalau saya, ikan mas malah tetap yang utama, sementara ikan nila hanya sambilan saja,” ujar Gerhad.

Nasib apes Gerhad yang justru menuntunnya tetap membudidayakan ikan mas sebagai penghasilan utamanya. Dia yang dulunya merupakan pegawai bagian iklan perusahaan surat kabar di Jakarta tergiur oleh manisnya budidaya ikan mas di kampungnya, Haranggaol. Gerhad banting setir menjadi petani keramba pada tahun 2004, tepat saat wabah KHV menyerang Haranggaol.

”Dari 20.000 benih yang saya tanam di keramba, saat itu hanya tersisa 4.000, tetapi saya tak menyerah. Benih yang tersisa itu justru tetap hidup sampai dipanen,” katanya. Menurut Gerhad, hasil panen ikan masnya ternyata mampu menutup modal awal yang dia gelontorkan saat pertama menjadi petani keramba, Rp 60 juta. ”Dari situ saya yakin serangan virus ini tak akan membuat semua ikan mas mati. Kalau telaten, malah bisa tetap untung,” katanya.

Jika sejak tahun 2004 terdapat lebih dari 2.000 keramba tempat membudidayakan ikan mas, sehingga Haranggaol dikenal sebagai sentra penghasil ikan mas di Sumut, kini petani lebih memilih membudidayakan ikan nila. ”Ikan mas hanya sampingan saja meski sekarang ini petani mulai kembali berani membudidayakan ikan mas dalam jumlah besar,” ujar petani keramba lainnya, Hasben Tua Saragih.

Hasben mengakui, serangan KHV memang menjadi momok paling menakutkan petani. ”Meski tak ada lagi serangan virus, tetapi tingkat kematian benih ikan mas mencapai 80 persen dari total benih yang ditabur dalam keramba,” ujarnya.

Biaya produksi budidaya ikan mas pun lebih mahal dibandingkan dengan ikan nila. Untuk budidaya ikan mas sebanyak 2.000 ekor, dibutuhkan paling tidak 150 sak pakan sampai ikan dapat dipanen. Adapun untuk ikan nila, petani hanya membutuhkan 75 sak pakan ikan untuk 5.000 ekor benih.

Dengan harga Rp 290.000 per sak untuk pakan tenggelam dan Rp 215.000 per sak untuk pakan apung, menurut Hasben, petani lebih memilih menjadikan ikan nila sebagai budidaya utamanya. ”Belum lagi, ikan mas baru untung dijual kalau bobotnya mencapai satu kilogram per ekor. Untuk mencapai bobot tersebut, butuh waktu delapan bulan, sedangkan untuk ikan nila paling dibutuhkan waktu tujuh bulan,” katanya.

Berhati-hati

Jika tak punya banyak modal, petani keramba di Haranggaol memilih berhati-hati untuk menekuni budidaya ikan mas. Petani yang berani membudidayakan ikan mas sebagai usaha utamanya seperti Gerhad sudah bisa menghasilkan ikan dua ton per minggu. Dengan harga ikan mas saat ini sekitar Rp 22.000 per kilogram, pendapatan kotor Gerhad per minggu mencapai Rp 44 juta. ”Untuk bisa mendapatkan panen dua ton per minggu, paling tidak dibutuhkan 60 keramba,” ujar Gerhad.

Saat ini, dari 312 petani keramba di Haranggaol, yang memiliki lebih dari 50 keramba hanya 20 petani. Merekalah yang digolongkan petani besar. Sisanya, petani yang hanya memiliki 10 hingga 40 keramba. Petani membuat keramba dari drum dan jaring. Drum bekas oli digunakan untuk membuat keramba terapung. Satu keramba berukuran rata-rata 4 x 6 meter dan diisi 2.000 hingga 5.000 ekor ikan. Petani besar biasa mendirikan bangunan rumah semipermanen di atas keramba yang biasa digunakan pekerja untuk tinggal guna mengontrol dan memberi pakan.

Sejak serangan KHV tahun 2004 memang tak ada lagi wabah virus mematikan di Haranggaol. Terlebih ikan nila yang menjadi budidaya utama mereka relatif tahan terhadap serangan KHV. Setiap hari sedikitnya 20 ton ikan nila dan ikan mas dihasilkan dari Haranggaol.

Serangan virus memang tak menyurutkan warga Haranggaol membudidayakan ikan air tawar seperti nila dan mas. Malah kini di setiap keramba mereka juga membudidayakan lele. Ikan mas atau ikan nila yang mati biasanya jadi pakan lele yang mereka budidayakan.

Lihatlah Herwinton Purba, warga Haranggaol yang sempat putus asa ketika terjadi serangan KHV. Herwinton hanya punya delapan keramba saat itu. Saat virus KHV menyerang, ikan mas di empat keramba miliknya hampir tak bersisa. ”Keramba yang masih tersisa saya biarkan tak terurus. Ternyata ikannya masih hidup dan bisa dipanen. Saya gunakan sebagai modal membangun keramba lagi. Sekarang saya masih punya enam keramba,” katanya.

Setiap bulan, minimal satu kerambanya bisa dipanen. Memang Herwinton tak lagi membudidayakan ikan mas karena sekarang dia beralih membudidayakan ikan nila yang tahan serangan herpes. Dia mengaku masih takut kembali ke ikan mas karena modalnya pas-pasan. ”Namun, kami masih yakin ekonomi warga tetap bisa ditopang dari keramba,” ujarnya.

Tengkulak

Ketika petani keramba di Haranggaol mulai yakin usaha mereka layak menjadi gantungan hidup meski ancaman serangan virus tak pernah surut, masalah baru ternyata muncul. Petani keramba tak bisa menentukan harga ikan karena tengkulak yang ternyata menguasai pasar. Tengkulak tak pernah peduli harga pakan tinggi membuat biaya produksi petani membengkak.

Akibatnya, harga ikan nila dan mas di Haranggaol bisa tiba-tiba turun seenaknya. ”Seperti sekarang ini, ketika harga pakan di Haranggaol lebih mahal dibandingkan dengan harga pakan di Sumatera Barat, otomatis harga ikan di sana lebih murah. Celakanya, ikan dari Sumatera Barat masuk pula ke pasar di sini. Jelas harga ikan kami kalah bersaing dengan harga ikan dari sana,” papar Gerhad.

Menurut dia, sebenarnya mulai ada kesadaran di kalangan petani keramba bahwa pasokan ikan dari Haranggaol sangat menentukan kebutuhan berbagai daerah di Sumatera Utara, seperti Medan, Kaban Jahe, Pematang Siantar, Kisaran, Rantau Prapat, dan Padangsidimpuan. ”Bila kami tahan ikannya di sini, tentu harga di sana pun naik. Celakanya, banyak petani yang memang butuh uang kontan guna memenuhi kebutuhan pakan. Ini yang tak bisa kami cegah agar mereka tak melepas dulu ikannya ke pasar. Sebenarnya tak dipanen dulu pun ikan tetap hidup di keramba,” katanya.

Gerhad punya pengalaman, ketika harga ikan anjlok, dia sempat menjamin pasokan pakan ke petani keramba kecil sehingga mereka tak buru-buru melepas ikannya. Sedikitnya pasokan ikan dari Haranggaol ketika itu membuat harga ikan sempat terdongkrak naik. ”Namun, itu tak bisa bertahan lama karena, toh, petani keramba kecil ini juga butuh uang kontan setiap hari,” ujarnya.

Akhirnya, menurut Hasben, timbul pikiran dari petani keramba Haranggaol membentuk asosiasi dan koperasi. ”Ini karena kami tak mau harga dipermainkan oleh tengkulak,” katanya.

Sayangnya, niat petani keramba di Haranggaol yang mulai bangkit dari keterpurukan sejak serangan KHV itu tak banyak direspons pemerintah daerah. Keinginan petani agar ada tempat pelelangan ikan supaya harga ikan bisa terkontrol stabil setiap harinya tak mendapat perhatian. ”Jangankan memberi penyuluhan agar ikan terbebas dari serangan virus, datang mengunjungi kami pun tak pernah. Bagaimana pula ceritanya pemerintah mau membantu kami mendirikan tempat pelelangan ikan,” tutur Hasben.

Sejak budidaya ikan dalam keramba ini diperkenalkan tahun 1987 oleh Frans Purba, putra daerah yang kuliah di Institut Teknologi Bandung, petani seperti Herwinton punya keinginan sederhana, yaitu menjaga agar ikan di perairan Haranggaol dapat menghidupi warganya. Terbukti Haranggaol justru dikenal sebagai penghasil ikan dari Danau Toba, bukan penghasil pisang seperti arti namanya, harang yang berarti wadah dan gaol yang berarti pisang dalam bahasa Simalungun.

Advertisements

2 Responses

  1. Mari kita dukung untuk Simalungun yang lebih baik…
    https://bonapetruspurba.wordpress.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: