Cagar Alam Mutis Terkurung Dalam Isolasi

Kompas, Teropong 2010-06-14 / Halaman 36

Oleh : FRANS SARONG

Awal tahun 2000-an, kawasan Cagar Alam Mutis sering dikunjungi pelancong domestik. Tahun 2003 bahkan tercatat ratusan warga asal Kota Kupang yang menggunakan sekitar 50 mobil berkemah selama dua hari untuk menikmati kesejukan hutan sekaligus menyaksikan kawasan yang kaya keanekaragaman hayatinya. Namun, kini, kawasan ini terkurung dalam isolasi.

Kawasan Mutis seharusnya tidak sekadar daerah cagar alam, tetapi juga layak menjadi obyek wisata alam karena berbagai keunikan yang dimilikinya. Namun, kawasan yang merupakan hulu daerah aliran Sungai Noelmina dan Benanain itu—dua DAS paling besar di Timor, Nusa Tenggara Timur (NTT)—tidak teragendakan sebagai obyek pelancongan.

”Kawasan hutan Mutis menjadi obyek wisata itu sudah menjadi cerita masa lalu. Kawasan Mutis sekarang telah menjadi wilayah tertutup karena jaringan jalannya sejak 6 hingga 7 tahun lalu tak pernah diperbaiki,” keluh Kepala Desa Nenas Uria Kore di Nenas, Kecamatan Fatumnasi, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Nenas dan Nuapin adalah dua desa dalam kawasan Cagar Alam Mutis.

Secara administratif, kawasan Cagar Alam Mutis berada dalam wilayah Kecamatan Fatumnasi, Kabupaten TTS, dan Kecamatan Miomafo Barat, Kabupaten Timor Tengah Utara. Gunung Mutis setinggi 2.427 meter dari permukaan laut. Kawasan itu sejak turun-temurun merupakan kawasan hutan adat masyarakat sekitarnya.

Berdasarkan SK Menteri Kehutanan No 631/Kpts/Um/10/1974, kawasan itu berubah statusnya menjadi hutan negara, meliputi kelompok hutan Nasikonis, Nasinail, Kolabe, Fenutunan, Tanas Foekale, dan kelompok hutan Tambu.

Sembilan tahun kemudian (1983), berdasarkan SK Menhut No 89/Kpts/II/1983, statusnya kembali berubah menjadi cagar alam untuk kawasan seluas 12.000 hektar dan hutan lindung Timau seluas 78.000 ha.

Berdasarkan berbagai hasil penelitian, kawasan itu memang dikenal kaya dengan aneka ragam hayati, di antaranya tumbuhan endemik 38 jenis, burung 32 jenis—termasuk burung endemik Timor 6 jenis dan endemik Indonesia 13 jenis. Lainnya, tanaman obat 6 jenis serta berbagai vegetasi hutan tropika basah pegunungan, seperti ampupu dan kayu putih.

Ampupu (Eucalyptus urophylla) adalah jenis tumbuhan paling dominan di kawasan itu. Selain ampupu, juga tumbuh jenis pohon yang disebut liuboko (Podocarpus amara), tune (Podocarpus imbriatus), hau pio (Podocarpus rumphii), hue (Eucalyptus alba), dan ajaob (Casuarina junghuhniana).

Dijumpai pula beberapa jenis mamalia, seperti babi hutan (Sus sp), kuskus (Phalanger orientalis), rusa (Cervus timorensis), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), landak (Nystrix sp), kalong (Mega chiroptera), kelelawar (Micro chiroptera), dan anjing hutan (Canis familaris). Juga hidup reptil, seperti ular sanca (Phyton timorensis). Selain itu, ada beberapa jenis satwa kelompok Alves, seperti srigunting hitam (Dicrurus macrocercus), ayam hutan (Gallus gallus), dara hitam (Ducula rosaceae), gagak kampung (Corvus macrorymchos), kakatua jambul kuning (Cacatua sulphurea), walet sapi (Collocalia esculenta), dan burung hantu (Tyto alba).

Selain kaya aneka ragam hayati, Mutis dikenal sebagai daerah paling basah di Timor dengan tujuh bulan hujan dan lima bulan lainnya kering. Sepanjang November hingga Maret selalu dilanda angin kencang disertai hujan lebat sehingga tak jarang mendatangkan bencana, seperti tanah longsor, rumah roboh, atau gagal panen.

Ketika mengunjungi kawasan Mutis, beberapa pekan lalu, tampak tegakan pohon yang rata-rata berbalut lumut sebagai pertanda sudah berusia tua. Di beberapa bagian kawasan dengan tegakan padat, pohon tumbuh rindang dan menjulang hingga lebih dari 30-an meter.

Ada pula bagian kawasan dengan tegakan agak jarang sehingga pohon-pohonnya tumbuh rimbun karena tak kekurangan sinar matahari.

Ketika memasuki kawasan, guncangan kendaraan menerobos jalan berbatu dan berlubang sedikit terobati oleh sejuknya udara dari rimbunan pohon ampupu dan berbagai jenis tegakan lainnya. Sesekali ditemui kelompok warga yang masuk kawasan hutan sekadar mengumpulkan dahan dan ranting kering untuk kayu bakar. Tak jarang juga terlihat kawanan sapi yang leluasa memburu hijauan dalam kawasan.

”Kawasan ini sebenarnya sangat berpotensi menjadi obyek wisata andalan TTS bahkan NTT jika didukung jaringan jalan yang memadai. Setidaknya, sembilan desa di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Mutis sejak awal tahun 2000-an merasa terabaikan karena jaringan jalannya hancur,” ujar Edy Oematan, pejabat Pemda TTS asal Nenas.

Tanjakan punggung kuda

Desa Nenas—desa yang berada dalam kawasan Cagar Alam Mutis—berjarak sekitar 180 km dari Kota Kupang. Jika dari Soe, Kota Kabupaten TTS, jaraknya hingga Nenas lebih-kurang 67 km. Namun, perjalanan dengan mobil hingga Nenas ternyata membutuhkan waktu cukup sekitar enam jam. Jaringan jalan terakhir ini adalah bagian dari jalan provinsi sehingga urusan perbaikan atau peningkatannya di luar tanggung jawab Pemkab TTS.

Perjalanan lanjutan dari Soe sungguh menuntut fisik prima. Kendaraan yang digunakan pun harus kendaraan bergardan ganda yang khusus dirancang untuk menerobos medan yang berat.

”Sudah sejak lama angkutan pedesaan Soe-Nenas hanya mengandalkan truk yang dimodifikasi menjadi angkutan penumpang. Selain truk, hanya jip Hardtop atau kendaraan bergandan ganda yang mampu melintas melalui jaringan jalan ini,” tutur Arid Sunbanu (48), pengemudi mobil yang kami tumpangi untuk perjalanan lanjutkan tersebut.

Perjalanan Soe-Nenas masih berupa lintasan beraspal hingga Pasar Kapan yang berjarak sekitar 20 km. Selanjutnya adalah jaringan jalan yang hanya berlapis batu, berlubang-lubang, disertai tikungan dan tanjakan tajam.

Ketika melintasi tanjakan tajam dalam kawasan hutan, sekitar 7 km dari Nenas, karena pengemudi salah mengambil ancang-ancang, sebuah truk penumpang bahkan terpaksa merangkak mundur karena tak mampu menempuh separuh tanjakan tersisa.

”Kami para pengemudi yang biasa melintas di daerah ini sudah tahu kalau harus mengambil jarak aman bila sedang menyusul truk atau kendaraan lain di depan,” tutur Arid Sunbanu sesaat setelah memastikan posisi mobilnya tidak terganggu oleh manuver truk di depannya. Ia baru melanjutkan perjalanan setelah truk itu berhasil melewati tanjakan.

Ancaman lainnya adalah posisi beberapa puncak tanjakan yang mirip punggung kuda. Kondisi itu rawan tabrakan karena pandangan pengemudi terhalang untuk lebih awal mengetahui kendaraan lain dari arah berlawanan.

Bagi TTS, Cagar Alam Mutis tidak sekadar berpotensi menjadi obyek wisata andalan atau pusat studi khusus kehutanan. Kawasan sekitarnya juga merupakan sentra peternakan sapi dan berbagai jenis hasil pertanian. Seperti diakui Edy Oematan, potensi itu tidak akan memiliki daya dongkrak signifikan terhadap perekonomian masyarakat sekitarnya jika kawasan tersebut tidak terhubungkan dengan jaringan jalan yang memadai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: