Anak Tewas Tertimbun

Kompas, Nusantara 2010-06-14 / Halaman 22

Hujan deras tanpa henti sejak Sabtu (12/6) sore hingga Minggu pagi menyebabkan banjir dan longsor di Ambon, Maluku. Dua anak balita tewas tertimbun longsoran dan sedikitnya 35 rumah warga rusak.

Data sementara Dinas Sosial Maluku menunjukkan, ada delapan kawasan yang terkena banjir dan longsor di Kota Ambon, yaitu Batu Merah Dalam, Kebun Cengkeh, Skip, Karang Panjang, Belakang Soya, Batu Meja di Kecamatan Sirimau, serta Air Salobar dan Waihaong di Kecamatan Nusaniwe.

Di kawasan Kebun Cengkeh, dua kakak beradik, Muhammad Farid (2) dan Ryan (1), tewas terkena longsoran. Tebing di belakang rumah mereka longsor pada Sabtu pukul 23.00 WIT.

”Orangtua korban menyelamatkan dua anak mereka (lainnya) terlebih dahulu. Saat berupaya kembali ke rumah untuk menyelamatkan Farid dan Ryan, rumah sudah tertimbun,” tutur Marsi (55), nenek kedua anak balita tersebut.

Warga yang mengetahui kejadian ini segera bergotong royong membersihkan rumah dari material lumpur setinggi lebih kurang 2 meter untuk mengeluarkan Farid dan Ryan. Setelah pencarian berjalan sekitar satu jam, barulah kedua korban ditemukan. Namun, anak-anak itu sudah dalam kondisi tidak bernyawa.

Banjir

Selain bencana longsor yang mengenaskan di Kebun Cengkeh, banjir parah juga melanda kawasan Batu Merah Dalam. Baru kali ini air Sungai Batu Merah yang melintas di permukiman padat penduduk di kawasan itu meluap dan merendam puluhan rumah. Sedikitnya, lima rumah rusak berat dan tiga jembatan penghubung antarpermukiman rusak diterjang derasnya banjir.

Aliran sungai terhambat batang pohon sagu dan sampah kayu di ketiga jembatan itu. Akibatnya, air meluap ke permukiman setinggi pinggang orang dewasa.

Banjir yang terjadi sejak Sabtu pukul 22.00 WIT itu menyebabkan warga tak bisa menyelamatkan barang-barang mereka. Sebagian bahkan terbawa arus.

”Kasur, baju, lemari, ijazah anak-anak, semuanya terbawa air sungai,” tutur Lamoruna (40), warga yang tembok rumahnya runtuh akibat derasnya arus sungai. Banjir baru surut Minggu sekitar pukul 05.00.

Kepala Bidang Bantuan Sosial Dinas Sosial Maluku Sors Latuheru mengatakan, pemerintah telah mengirimkan bantuan berupa mi instan kemasan dan air minum untuk warga. Selain itu, pemerintah juga membangun posko dan dapur umum.

Menurut Kepala Pusat Studi Lingkungan Universitas Pattimura Ambon Abraham Tulalessy, banjir dan longsor yang kian sering terjadi di daerah itu, khususnya setiap musim hujan, tidak semata karena hujan deras, tetapi karena telah beralih fungsinya hutan menjadi permukiman.

Alih fungsi ini marak pascakerusuhan di Ambon tahun 1999. Banyak pengungsi membangun rumah di kawasan yang sebelumnya merupakan hutan. Dinas Pertanian dan Kehutanan Ambon mencatat, alih fungsi hutan 10 tahun terakhir mencapai 212,5 hektar dari total 5.000 hektar.

Di Sulawesi Selatan dan Barat, hujan deras dalam sepekan terakhir juga menyebabkan jalan yang berjarak sekitar 5 meter dari jembatan di Sungai Lariang, Kabupaten Mamuju Utara, Sulawesi Barat, ambles, Minggu

pukul 00.00 Wita. Jembatan ini digunakan kendaraan dari Sulawesi Barat menuju Sulawesi Tengah dan Gorontalo melalui Kabupaten Donggala serta jalur menuju Sulawesi Selatan melewati Kabupaten Luwu Utara.

Gubernur Sulawesi Barat Anwar Adnan Saleh yang meninjau jalan ambles kemarin siang mengatakan, kondisi tersebut mengganggu salah satu fondasi besi jembatan yang terdapat di bawah jalan sehingga saat ini tidak mampu dilewati kendaraan yang beratnya lebih dari 20 ton.(APA/RIZ)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: