Lingkungan 2010-06-12 Rumput Laut Butuh Perguruan Tinggi dan Perbankan

Rumput Laut Butuh Perguruan Tinggi dan Perbankan

Potensi sumber daya alam yang besar, dapat menjadi anugerah sekaligus boomerang jika tidak dikelola dengan baik. Karena itu dalam pengelolaannya diharapkan juga memperhatikan aspek-aspek kelestarian guna keterlanjutan sumber daya alam (SDA). Mengingat SDA tersebut juga akan dinikmati generasi yang akan datang. Yang untuk Kabupaten Wakatobi, yang merupakan salah satu kabupaten pemekaran di Sultra juga termasuk dalam kawasan taman nasional yang ditetapkan pada tahun 1996, dengan luas keseluruhan 1,39 juta hekter.

Selain keindahan bawah lautnya yang sangat dikenal hingga internasional, karena berada pada segitiga karang dunia. Wakatobi juga memiliki potensi rumput laut yang besar. Sebagaimana yang terdapat dalam buku statistik perikanan budidaya 2008, volume produksi budidaya rumput laut basah Wakatobi mencapai 13.086,6 ton sedangkan budidaya kering sebesar 2.181,1 ton.

Potensi sebesar itu sebenarmya dapat lebih dioptimalkan lagi, mengingat Wakatobi merupakan daerah kepulauan dengan luas perairan budidaya seluas 1.399 juta hekter, sedangkan produksi yang baru tercapai hanya 150 ton per sekali panen. Belum optimalnya pengelolaan rumput laut di Wakatobi antara lain disebabkan masih dikeluhkannya penyakit rumput laut, yaitu ice-ice dan lumut. Serta masih minimnya pengetahuan pasca panen, disamping belum meratanya pelatihan pembukuan laba rugi rumput laut.

Sebagaimana yang dikeluhkan warga desa Darawa Kecamatan Kaledupa nSelatan, Samsudin. Selain penyakit, keberhasilan budidaya rumput laut juga sangat dipengaruhi musim dan cuaca. “Kalau musim penyakit rumput laut yaitu pada bulan April dan September terjadi, produksi kami bisa turun drastis. Padahal telah banyak mahasiswa kuliah kerja profesi (KKP) di desa kami, tapi belum satu pun yang meneliti rumput laut, begitu pula dengan tenaga penyeluhan perikanan yang belum juga turun ke desa kami”, keluhnya.

Sementara itu warga Desa Liya Bahari Indah, Abdul gafar mengatakan desanya telah sering memperoleh pelatihan pembudidayaan rumput laut dari lembaga swadaya pendaping (LSM), hanya saja masih kurang salam hal pengembangan sumber daya manusia (SDM), khususnya berkenaan dengan pengelolaan keuangan. “Pelatihan pengelolaan keuangan sangat kami butuhkan, mengingat selama ini kami hanya tahu budidaya rumput laut saja tanpa mengetahui apakah usaha kami untung atau rugi. Dengan begitu usaha yang kami tekuni ini terkesan berjalan di tempat”, ungkap Abdul Gafar.

Fasilitator TNC-WWF Alibasaru mengungkapkan pihaknya sejak 2003 lalu telah mendampingi masyarakat di Desa Liya Bahari Indah. Berawal dari beberapa pelatihan kepasitas peningkatan SDM misalnya pengorganisasian petani rumput laut dalam hal cara membudidaya rumput laut. “Sampai dengan saat ini kami telah bekerja sama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) dan Taman Nasional (TN) Wakatobi, baik dalam hal cara budidaya yang baik dan benar maupun bantuan permodalan. Ke depannya kerja sama akan kami lanjutkan ke tingkat perguruan tinggi (PT), guna mengatasi penyakit rumput laut”, ungkap Alisabaru.

Hal senada juga disampaikan Project Leader Join Program TNC-WWF, Veda Santiaji jika selain masyarakat harus tahu cara budidaya rumput laut yang baik dan benar, pengetahuan mengetahui kualitas rumput laut pun sangat penting sehingga masyarakat dapat memiliki posisi tawar yang baik. Tentinya pemanfaatan hasil pemasaran tersebut dapat dijadikan modal usaha, bahkan pengembangan usaha lain sebagai altermatif usaha, jika sewaktu-waktu hasil panen mereka mengalami penyakit. “Penanganan penyakit ke depannya harus dioptimalkan lagi, misalnya kecenderungan banyaknya lumut, yang secara teori pada musim gelombang persaingan rumput laut lebih banyak dari pada lumut dan sebaliknya. Karena itu petani rumput laut harus rajin menggoyang-goyang rumput lautnya ketika musim tidak bagus, agar lumut tidak lama menempel”, katanya.

Lebih lanjut pria berkulit putih ini menambahkan karena itu keberadaan perguruan tinggi (PT) untuk menanggulangi penyakit rumput laut sangat dibutuhkan petani rumput laut Wakatobi. Kalau perlu untuk mengembangkan balai benih, yang juga dapat menguntugkan PT, karena dapat melaksanakan riset yang hasilnya tentu sangat dinanti-nanti masyarakat sekaligus pionir balai benih di Sultra. “Selain itu Pemda harus lebih fokus lagi mengolah rumput laut, sehingga menjadi skala usaha yang optimal, tentunya dengan memperhatikan carrying capacity (daya dukung lingkungan). Sedangkan jika Wakatobi dapat menjadi balai benih, maka Pemkab dapat membangun gudang dan balai lelang, sekaligus dapat mengadakan kerja sama dengan Bank Indonesia (BI), untuk mendatangkan buyer (pembeli)”, lanjutnya dengan panjang lebar.

Dalam hal pengelolaan rumput laut pasca panen, misalnya adanya home industry bahan pangan atau oleh-oleh rumput laut, tentunya selain membutuhkan kinerja pelatihan yang optimal dari instansi terkait, juga perlu menyiapkan sarana dan prasarana penunjang misalnya air bersih. Mengingat masih terdapatnya pulau di Wakatobi yang belum tersentuh air bersih. “Home industry dapat menjadi mata pencaharian alternatif masyarakat pembudidaya rumput laut, jika rumput lautnya tterkena penyakit. Sehingga selain masyarakat tidak menyalahkan alam atas fenomena rutin pertanda istrahatnya mereka sejenak dari aktivitas budidaya. Juga tidak terjadi penyimpangan signifikan yang drastis, yang mempengaruhi sektor lainnya yang bersifat kelanjutan, misalnya terjadi culture shock akibat bom Bali yang menyebabkan banyak warga yang tidak memiliki pekerjaan”, tandasnya.

Potensi rumput laut yang besar, beserta sekelumit masalah yang dihadapi hendaknya membuat stakeholder terkait sadar untuk segera merespon. Tidak kalah pentingnya respon aktif dari Pemda setempat, guna mencari solusi dari permasalahan tersebut, agar kesejahteraan masyarakat dapat tercapai. (Ulfah Sari Sakti)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: