Kesadaran Masyarakat dan Kelestarian Lingkungan Hidup

Kendari Pos, Opini 2010-06-08 / Halaman 4

Oleh : Dr Ir Sitti Aida Adha Taridala MSi

Setiap Tanggal 5 Juni diperingati di seluruh dunia sebagai Hari Lingkungan Hidup,  sehingga disebut sebagai  Hari Lingkungan Hidup Sedunia (World Environment Day, WED). Peringatan ini dimulai saat PBB mengadakan Konferensi Lingkungan Hidup di Stockholm pada tahun 1977, yang diselenggarakan di bawah koordinasi United Nations Environment Programme (UNEP), yang dibentuk PBB pada Tahun 1977.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia merupakan momen penting untuk menumbuhkan kepedulian dan kesadaran masyarakat dunia akan lingkungan hidup, pentingnya kelestarian lingkungan hidup, dan meningkatkan kemauan politik yang diimplementasikan dalam bentuk tindakan nyata untuk memelihara dan mengelola lingkungan hidup secara bijaksana.

Menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap upaya pelestarian lingkungan memang perlu dilakukan secara intensif.  Pada beberapa kesempatan, kita pasti pernah menyaksikan hal-hal yang membuat miris, terkait perilaku masyarakat yang tidak ramah lingkungan. Ketika dalam perjalanan hendak ke kampus Kemaraya minggu lalu, tiba-tiba dari jendela mobil ber plat merah yang ada di depan saya, terlontar kemasan air minum mineral yang mengotori badan jalan. Tiga hari kemudian kejadiannya agak berbeda, dari jendela sebuah mobil truk terlontar sobekan-sobekan kertas yang melayang-layang dan akhirnya mengotori jalanan. Kejadian lain cukup memalukan juga, dari jendela sebuah mobil yang tergolong mewah dibuang kemasan kue yang berceceran di jalan. Kejadian-kejadian ini merupakan contoh perilaku masyarakat  yang tidak perduli pada kebersihan lingkungan.

Hari ini kita sudah memasuki bulan Juni, seharusnya ini merupakan musim kemarau, tetapi kenapa frekuensi hujan masih tinggi? Kenapa sekarang rasanya suhu menjadi semakin panas?  Kenapa sekarang rasanya musim menjadi tidak menentu? Kenapa sekarang begitu banyak terjadi bencana banjir, namun di sisi lain juga sangat sulit memperoleh air, terutama di musim kemarau? Ini menunjukkan telah terjadi gangguan pada keseimbangan lingkungan, yang menyebabkan timbulnya berbagai akibat negatif terhadap kehidupan manusia. Apakah kita menyadari bahwa ”ketidak-laziman” yang terjadi di alam tersebut merupakan akibat dari perbuatan manusia sendiri?

Setiap perbuatan kita akan memberi dampak terhadap lingkungan tempat kita hidup, baik sengaja maupun tidak. Tindakan itu ada yang mendukung kelestarian lingkungan, namun tidak sedikit juga yang menyebabkan kerusakan terhadap lingkungan. Tindakan membuang sampah sembarangan, penebangan hutan tanpa upaya penanaman kembali, pembangunan perumahan/pertokoan/perkantoran yang menyebabkan permukaan tanah tertutup oleh bahan yang tidak memungkinkan air dapat terserap dengan mudah ke dalam tanah, banyaknya pabrik yang menimbulkan berbagai macam pencemaran, serta adanya usaha-usaha pertambangan yang tidak dibarengi dengan upaya pengelolaan dampak yang memadai, merupakan beberapa contoh aktivitas yang menyebabkan semakin turunnya kualitas lingkungan.

Kualitas lingkungan diukur dengan ”indeks kualitas lingkungan”, yang dapat dilihat dari tiga hal, yaitu  penutupan lahan, kualitas air, dan kualitas lahan. Dengan adanya indeks lingkungan untuk setiap provinsi diharapkan dapat dijadikan acuan pemerintah untuk melakukan perbaikan lingkungan di sekitarnya. Semakin rendah indeks tersebut, maka semakin besar upaya perbaikan yang harus dilakukan.

Perlu diketahui bahwa kualitas lingkungan hidup di Indonesia akhir-akhir ini semakin buruk, dimana nilai kualitas lingkungan hidup tersebut secara nasional tidak sampai 6 dari skala 1-10, yaitu hanya mencapai rata-rata 5,9. Ini berarti bahwa kulitas lingkungan hidup masyarakat Indonesia termasuk kurang baik.  Ini merupakan pertanda bahwa setiap masyarakat Indonesia perlu menyadari hal tersebut dan melakukan tindakan penyelamatan, agar dampak buruk dari kerusakan lingkungan dapat diperkecil.

Pembangunan seharusnya tidak hanya menghitung manfaat yang akan diperoleh dari aspek keuntungan ekonomi, tetapi juga mempertimbangkan kepentingan sosial dan lingkungan. Karena bila menghitung kerugian yang akan diderita akibat tidak memperhitungkan aspek sosial dan lingkungan, terkadang keuntungan ekonomi yang diperoleh menjadi tidak sebanding dengan kerugian yang diderita. Contohnya adalah ketika terjadi banjir di daerah perkotaan yang merupakan hilir sebuah sungai, akibat penebangan hutan di daerah hulu sungai yang dilakukan oleh sebuah perusahaan pemilik HPH (Hak Penguasaan Hutan), maka kerugian ekonomi yang diderita masyarakat menjadi sangat besar.

Kenapa bisa demikian? Karena bencana banjir itu tidak saja menimbulkan kerugian ekonomi karena rusaknya aset-aset yang dimiliki masyarakat; rusaknya sarana dan prasarana umum; masyarakat terhalang untuk melakukan aktivitas ekonomi yang menghasilkan pendapatan; timbulnya berbagai bibit penyakit akibat lingkungan hidup yang tidak sehat; sulitnya memperoleh air bersih, bahkan bahan makanan.  Kerugian menjadi semakin besar nilainya jika bencana tersebut menimbulkan korban jiwa. Hitungan kerugian menjadi semakin besar lagi dengan kenyataan bahwa banjir itu umumnya tidak terjadi sekali saja, tetapi akan terjadi berulang-ulang bila tidak ada solusi yang tepat.   Karena kelebihan air saat hujan, tidak bisa terserap dengan baik ke dalam tanah.  Akibatnya, air dalam jumlah besar tersebut meluruh ke arah hilir dengan kekuatan  dan kecepatan yang cukup besar, yang akan menerjang dan kemungkinan merusak apa saja yang dilewatinya.

Terkait dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup hari ini, setiap kita seharusnya memang memiliki keperdulian terhadap lingkungan, sesuai kemampuan dan kapasitas kita.  Para pengambil kebijakan seharusnya membuat kebijakan yang ramah lingkungan; para aparatur pelaksana di lapangan juga harus mengimplementasikan dengan memperhatikan aspek lingkungan; para pengusaha yang nota bene bertujuan mencari profit yang sebesar-besarnya, seharusnya juga memperhitungkan kerugian terhadap lingkungan atas aktivitas yang dilakukannya; demikian juga dengan masyarakat lainnya.  Bila semua stake holder memiliki pemikiran, sikap dan perbuatan yang konsisten dalam  setiap tindakan yang memperhatikan kelestarian lingkungan, maka kita dapat menghindari terjadinya bencana akibat kelalaian kita dalam mengelola bumi yang dianugerahkan oleh Yang Maha Kuasa ini. Apakah semua warga masyarakat menyadari bahwa tanggung jawab pelestarian lingkungan merupakan kewajiban kita bersama?

Terdapat fakta bahwa tidak seluruh masyarakat menyadari bahwa tindakan yang dilakukakannya akan menimbulkan kerusakan dan berakibat bencana bagi kehidupan manusia secara luas.  Oleh karena itu, perlu dilakukan program-program penyadaran dan aksi nyata di lapangan, mulai dari hal-hal yang sederhana (misalnya tidak membuang sampah sembarangan) hingga pada aspek yang lebih kompleks.  Hal ini akan efektif bila diterapkan mulai dari tingkat perorangan di dalam keluarga, di sekolah-sekolah, instansi pemerintah dan swasta, serta dalam kehidupan sosial masyarakat lainnya.

Semoga kita masyarakat Sulawesi Tenggara bisa lebih bijaksana dalam memelihara lingkungan yang merupakan anugerah dari Yang Maha Kuasa.  Amin. (**)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: