Lingkungan 2010-06-05 Rumput Laut Dukung Pariwisata Wakatobi

Rumput Laut Dukung Pariwisata Wakatobi

Rumput laut merupakan salah satu komoditi  unggulan perikanan Sultra, mengingat luas areal budidaya yang dikelola sekitar 9.835,9 hekter, dengan volume rumput laut kering 73.247,1 ton. Sedangkan luas areal yang belum dikelola sebesar 36.428 hekter. Yang diperkirakan dapat memproduksi 262.073,5 ton per tahun, dengan produktivitas 1,3-3,84 ton per hekter, sehingga dengan masa panen 3-5 kali per tahun maka Sultra dapat memproduksi rumput laut sebesar 335.320,7 ton setiap tahun. Untuk lokasi journalist trip (JT) wartawan lingkungan Sultra beberapa waktu lalu, yaitu Kabupaten Wakatobi memiliki luas perairan budidaya seluas 1.399 juta hekter dengan produksi 9 ribu ton per sekali panen (3 bulan, red) tetapi saat ini baru tercapai produksi 150 ton per sekali panen.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) Kendari, sebagian besar penduduk Sultra bekerja pada sektor pertanian. Lebih dari 50 persen pekerja di Sultra bekerja pada sektor ini. Untuk tahun 2009 saja, jumlah pekerja di sektor pertanian sebanyak 502.886 orang atau 53 persen dari total pekerja se Sultra. Yang juga berarti pengelolaan pertanian yang baik, berpotensi untuk menjadi salah satu solusi mengurangi pengangguran di Sultra.

Karena itu usaha Pemda Wakatobi harus lebih fokus lagi, sehingga menjadi skala usaha yang optimal tentunya dengan memperhatikan carting capacity (daya dukung lingkungan), sehingga potensi yang besar ini dapat menjadi pusat balai benih se-Sultra, dan dapat mensuplai benih. “Kalau hal ini tercapai maka Pemkab dapat membangun gudang dan balai lelang, sehingga dapat bekerja sama dengan BI guna mendatangkan pembeli langsung  dari daerah lain, dengan begitu Pemkab tidak perlu susah-susah lagi mendatangkan pembeli. Selain itu karena pengalaman masyarakatnya, tidak menutup kemungkinan Wakatobi juga dapat menjadi sentra trauning rumput laut, pasalnya budidaya rumput laut telah dilakukan secara turun temurun oleh warga”, ujar Project Leader Joint Program TNC-WWF, Veda Santiaji ketika ditemui wartawan JT di kantornya.

Sehubungan dengan pemanfaatan hasil rumput laut menjadi bahan panganan lainnya, yang dapat menciptakan usaha baru misalnya home industry, menurut Veda tentunya membutuhkan pelaku usaha membutuhkan pelaku usaha yang terampil serta pasar bagi hasil produksi. “Saya yakin dengan berkembangnya pariwisata di Wakatobi, semakin menyuburkan tumbuhnya home industry. Mengingat rumput laut dapat dijadikan panganan ole-ole lokal, tidak kalah pentingnya yaitu dengan membudidayakan rumput laut maka masyarakat akan menjaga lautnya dengan baik”, jelasnya.

Rumput laut di Wangi-wangi selatan

Veda juga mengingatkan jika pengembangan rumput laut secara besar-besaran dapat menjadi boomerang, sehingga diperlukan panduan dan bimbingan dari tenaga penyuluh perikanan serta standarisasi produk. “Karena itu sekarang ini yang lebih dioptimalkan yaitu intersifikasi (teknik budidaya yang baik dan benar). Mengingat masih terdapatnya pola tanam yang kurang baik, sehingga dapat meminimalisir penyakit rumput laut seperti lumut dan pemutihan rumput laut (ice-ice)”, ingatnya.

Disisi lain pengembangan budidaya rumput laut dapat menjadi atraksi pariwisata, mengingat produknya yang dapat menjadi buah tangan. Seperti halnya yang terjadi di Bali, meskipun pariwisatanya berkembang dengan pesat tetapi pertanian dan perikanannya tidak hilang karena menjadi penopang hidup masyarakatnya, sekaligus mengcover sektor lain yang tidak tercover dari sektor pariwisata. “Untuk Wakatobi saja PAD terbesar berasal dari sektor pertanian, padahal daratannya hanya tiga persen dibanding dengan luas lautannya. Bayangkan jika potensi kelautannya di kelola secara optimal, melalui penyandingan sektor kelautan yaitu antara budidaya rumput laut dengan potensi pariwisata”, pungkasnya.

Karena merasakan manfaat dari kondisi perairan yang terjaga dengan baik, penjagaan laut Wakatobi tidak hanya dilakukan oleh pihak pemerintah, melalui taman nasional (TN) Wakatobi, tetapi juga masyarakat. Masyarakat talh cukup sadar untuk menjaga lautnya. Sebagaimana yang terjadi di Desa Darawa Kecamatan Kaledupa Selatan. Masyarakatnya tidak lagi menangkap ikan dengan akar tuba, karena dapat menimbulkan biota lainnya selain ikan, serta mereka tidak lagi mengambil karang di laut untuk kebutuhan pembangunan rumah, kecuali pada daerah yang telah diizinkan pihak TN Wakatobi.

“Selain itu juga terdapat kapal asing, yang kmi ketahui dari nomor kapalnya. langsung kami tanyai maksud kedatangannya. Sehingga tidak ada lagi pihak lain yang mencoba-coba mencemari, bahkan merusak perairan kami, karena notabenenya 95 persen masyarakat Desa Derawa membudidayakan rumput laut”, papar Ketua Kelompok Nelayan Derawa, Jumani.

Hal senada juga diakui Ketua Forum Kahedupa Taudani (Forkani), La Beloro yang melakukan pendampingan terhadap masyarakat se-Kaledupa Selatan, serta membangun kemitraan pada stakeholder terkait. “Langkah awal yang kami tempuh sehubungan dengan pemberdayaan manusia (SDM) petani rumput laut, dengan begitu mereka akan tahu dan sadar akan pentingnya penjagaan kawasan laut. Disamping kami juga melaksanakan pelatihan pembukuan, guna mengetahui kebutuhan modal dan keuntungan dari usaha mereka selama ini, serta pengelolaan pasca panen mulai dari pengeringan hinggga pengolahan menjadi bahan makanan, yang mana meskipun program dari pemerintah telah ada namun tidak tepat sasaran”, ungkap La Beloro.

Ditempat terpisah Bupati Wakatobi, Hugua mengatakan Pemkab sangat menaruh perhatian besar terhadap sektor pertanian dan kelautan, serta sektor pariwisata. Mengingat potensinya yang besar, serta sumbangsinya terhadap PDRB. Karena itu pihaknya telah membangun sarana penunjang guna menarik datangnya investor, mulai dari jalan, bandara hingga ketersediaan listrik dan air bersih.

‘Pemkab berencana menambah daya lisrtrik se-Wakatobi masing-masing di Kaledupa akan ditambah 250 KW, di Wangi-wangi 3 MW, Tomia 350 KW dan Binongko 250 KW, selain itu semua pulau-pulau akan dan sementara di banguna jaringan perpipaan, misalnya di Kaledupa sudah lengkap jaringan perpipaannya, tinggal mendatangkan mesinnya. Dengan demikian ditagetkan dua tahun lagi keterjaminan suplai air bersih akan merata, karena Pemkab telah menganggarkan Rp 20 miliar lebih, demikian pula halnya dengan kerja sama dengan Bappenas, yang merencanakan Wakatobi sebagai pilot project listrik tenaga arus selama lima tahun”, kata Hugua.

Mengingat perairan Wakatobi merupakan konservasi, maka kelestariannya menjadi perhatian semua stakeholder. Penjagaan laut yang baik, tentunya melahirkan kondisi perairan yang subur serta tetap lestarinya keanekaragaman biota laut. Dengan demikian kegiatan perikanan misalnya budidaya rumput laut serta pariwisata misalnya diving dan snorkling, baik untuk penelitian maupun pariwisata akan tetap berlangsung. Hal ini pastinya turut meningkatkan PDRB Wakatobi. Sebagaimana yang tertera dalam buku Wakatobi Dalam Angka 2009, kontribusi PDRB tertinggi berasal dari sektor pertanian yaitu 46,88 persen, diikuti sektor jasa 16,57 persen, serta perdagangan, hotel dan restoran sebesar 16,53 persen. (Ulfah Sari Sakti)

Masa Depan Hutan Indonesia

Oleh : Dr Nur Arafah

Seperti dilansir oleh Yahoo News baru-baru ini, Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan mengatakan alih funsi kawasan hutan di tanah air mulai tahun ini dihentikan hingga 2012. Menurut Menteri, penghentian alih funsi kawasan hutan itu terjadi pada semua tanaman komoditi termasuk kelapa sawit, dalam rangka mengamankan kawasan hutan yang saat ini sudah sangat kritis. Kawasan hutan perlu di tata ulang dan dihijaukan bagi yang sudah terlanjur rusak, sehingga akan mendukung resapan karbon (CO2) yang sangat dibutuhkan semua mahkluk hidup. Pada kesempatan itu, Menteri menawarkan peran serta masyarakat sebagai solusi masa depan hutan Indonesia.

Kebijakan diatas cukup membuat lega para pemerhati lingkungan berkaitan dengan dua hal, yaitu pertama, bahwa sampai saat ini Indonesia merupakan salah satu negara terbesar yang mempunyai laju kerusakan hutan tercepat di dunia (1,8 hekter/tahun). Bakan kasus ini, sampai-sampai masuk dalam buku rekor dunia.

Kedua, sampai saat ini, banyak sekali usulan untuk mengalih fungsikan kawasan hutandari status lindung ke hutan produksi dan lainnya, termasuk untuk perkebunan dan pertambangan. Kalau tidak ada realisasi ditingkat lapangan, kerusakan kawasan hutan di tanah air sudah makin bertambah. Termasuk resiko ekologi pun yang mengakibatkan resiko ekonomi dan sosial.

Usulan Kedepan

Kita tidak menutup mata bahwa program pemerintah untuk mengembalikan hijaukan hutan sudah berlangsung lama dengan biaya yang tidak sedikit. Contohnya GERHAN, sampai saat ini belum tampak keberhasilannya. Kalau dihitung luas kawasan yang telah diprogramkan selama ini, maka harusnya semua kawasan di luar hutan pun harus ditanami. Namun bukti di lapangan menunjukkan sebaliknya, bahwa kawasan hutan yang telah ditanami tidak menampakkan kemajuan yang memadai.

Masalah diatas bukan tidak disadari oleh pemerintah khususnya Depertemen Kehutanan. Hal ini terjadi karena orientasi proyek dengan titipan berbagai kepentingan. Sehingga tidak transparannya kegiatan termasuk menafikan partisipasi masyarakat. Pelaksana yang berorientasi proyek hanya mengejar pertanggung jawaban administrasi ketimbang bukti fisik di lapangan. Berbagai kasus hukum pejabat Depertemen/Dinas Kehutanan merupakan salah satu bukti dari orientasi proyek yang hanya mengejar keuntungan.

Jika kedepan, masih seperti ini, maka upaya pemerintah untuk memprogramkan penghijauan pada lahan seluas 500 ribu hekter dengan dana APBN antara Rp 2,5-Rp 3 triliun, dimana untuk tahun 2010 akan dialokasikan dana Rp 675 miliar guna membiayai pengadaan 50 juta bibit tanaman, hanya akan tinggal kenangan.

Harapan Menteri Kehutanan patut diapresiasikan agar pengembangan pengelolaan kawasan hutan ke depan lebih diprioritaskan pada pola hutan kemasyarakatan  (HKM). Selain tiu, bagaimana menggalakkan pola hutan desa yang langsung ditangani desa di sekitar kawasan hutan, di mana masyarakatnya diberikan kewenangan penuh dalam mengelola kawasan hutan tersebut. Sehingga semangat benar-benar terjadi. Masyarakat akan lebih bertanggung jawab jika pengelolaan sumber daya berkaitan dengan aspek sosial dan ekonomi mereka.

Pelibatan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya sangat penting dengan beberapa alasan : pertama, masyarakat hidup di tengah-tengah sumberdayanya termasuk hutan, dimana sebagian mempunyai ikatan culturalreligi. Sehingga mereka akan lebih bertanggung jawab terhadap kelestarian ketimbang orientasi ekonomi.

Kedua, kemiskinan dan lapangan kerja yang sempit yang harus menjadi tanggung jawab pemerintah justru terjadi pada kawasan di sekitar kawasan hutan. Dengan adanya keterlibatan masyarakat, maka peluang ekonomi dan pemberdayaan akan tercipta untuk menumbuhkan prakarsa masyarakat terhadap sumberdayanya.

Ketiga, tuntutan demokratisasi yang mengharuskan pelibatan masyarakat dalam setiap pengambilan keputusan pengelolaan sumberdaya, termasuk pengelolaan hutan. Kasus-kasus pendudukan hutan oleh masyarakat menunjukkan betapa terlambatnya pemerintah menyadari dinamika sosial politik dalam masyarakat.

Jika pemerintah pusat benar-benar serius menyarankan masyarakat, maka harusnya ini bukan lagi wacana, namun harus tersermin di daerah, maka prakarsa daerah membangun kebijakan berbasis masyarakat mutlak diperlukan. Salah satunya adalah dukungan peraturan daerah (Perda) dan kelembagaan yang melibatkan stakeholder.

Disadari bahwa Perda tidaklah cukup untuk mengakomodir harapan semua pihak mengenai pengelolaan berbasis masyarakat tanpa kelembagaan yang kuat. Namun kendalanya adalah “apakah ada kemauan politik (political will) dan kapasitas untuk itu ? Disinilah senergitas Pemda-Perguruan Tinggi sebagai pemberi solusi agar pengelolaan sumber daya berbasis masyarakat benar-benar tercipta dan dirasakan masyarakat. Masa depan hutan Indonesia bukan sekedar jargoan politik, tapi dapat menjadi realitas sosial-ekonomi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: