Puting Beluing Rusak Rumah

Kompas, Metropolitan 2010-06-03 / Halaman 25

Sebanyak 61 rumah di lima desa di wilayah Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, rusak diterjang puting beliung Selasa (1/6) sore. Namun, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa yang terjadi hampir bersamaan dengan hujan deras.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika meminta warga di Banten Selatan, yakni Kabupaten Pandeglang dan Lebak, tetap mewaspadai puting beliung yang masih berpotensi terjadi hingga akhir Juni ini.

Berdasarkan pantauan Rabu (2/6) kemarin, warga langsung bergotong royong memperbaiki rumah yang rusak akibat terjangan puting beliung. Puluhan rumah rusak itu tersebar di Desa Labuan, Talanganyar, Rancateureup, Teluk, dan Sukamaju. Dari 61 rumah yang rusak tersebut, 6 rumah di antaranya roboh rata dengan tanah.

Zaelani, warga Kampung Jasem, Desa Rancateureup, mengatakan, puting beliung menerjang sekitar pukul 15.30, beberapa saat setelah hujan deras mulai turun di wilayah mereka. Warga panik ketika tiba-tiba ada angin kencang berputar-putar hingga menerbangkan genteng rumah, bahkan merobohkan beberapa pohon.

Karmat, warga lainnya, mengaku rugi hingga Rp 4 juta karena parabola dan sebagian rumahnya rusak tertimpa pohon durian.

Pada Rabu siang, Camat Labuan Nana Surachyana dan Kepala Kepolisian Sektor Labuan Ajun Komisaris Iin Maryudi mendatangi desa-desa yang terkena bencana untuk mendata sekaligus menyerahkan bantuan.

”Bantuan diprioritaskan untuk penanganan tanggap darurat adalah sembako,” kata Nana. Selain itu, tim kesehatan dari Polres Pandeglang juga memberikan layanan medis bagi warga yang membutuhkan.

Koordinator Operasional Stasiun Meteorologi Serang Marji Diono menuturkan, puting beliung berpotensi terjadi di Banten Selatan, seperti Pandeglang dan Lebak, karena pada saat ini, wilayah tersebut berada pada transisi musim hujan ke kemarau.

Pada masa transisi yang masih sering turun hujan ini, permukaan tanah masih basah, tetapi di sisi lain juga ada pemanasan matahari. ”Proses penguapan dari tanah basah merupakan faktor utama pembentukan awan konvektif cumulonimbus yang dampak ikutannya bisa berupa puting beliung,” kata Marji.

Prakirawan meteorologi Stasiun Meteorologi Serang, Eko Widyantoro, mengatakan, puting beliung sulit diprediksi kedatangannya karena bersifat lokal.

”Namun, warga dapat waspada dengan mengenali gejala awal puting beliung,” katanya.

Gejala tersebut adalah udara terasa gerah dan di langit terjadi pertumbuhan awan putih bergerombol yang selanjutnya berubah warna menjadi hitam pekat. Ketika kemudian angin dingin berembus kencang sehingga menggoyangkan dedaunan, kemungkinan besar akan terjadi hujan deras disertai puting beliung.

Apabila pada saat kejadian berada di rumah semipermanen yang bergoyang-goyang, warga harus segera keluar mencari tempat perlindungan yang aman untuk menghindarkan kemungkinan tertimpa bangunan.

Eko menuturkan, puting beliung berlangsung singkat, rata- rata di bawah lima menit. Namun, kecepatannya tinggi, di atas 35 knot.

”Perputaran puting beliung ini antisiklon, berlawanan dengan arah jarum jam, dan memiliki daya angkat cukup tinggi. Ini mirip dengan sekrup yang apabila diputar berlawanan arah jarum jam akan semakin terangkat,” katanya.

Sifat perputaran berdaya angkat tinggi ini mengakibatkan banyak atap atau genteng rumah beterbangan saat terjadi puting beliung. Puting beliung berpotensi terjadi pada siang dan sore hari, yakni selepas terjadinya pemanasan yang mengakibatkan terbentuknya awan cumulonimbus. (CAS)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: