Jumlah Keramba Jaring Apung Melampaui Batas

Kompas, Nusantara 2010-06-03 / Halaman 22

Jumlah keramba jaring apung di Waduk Ir H Djuanda dan Waduk Cirata, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, dinilai sudah melampaui batas ideal. Kondisi itu berpotensi mencemari perairan, mengancam keamanan bendungan, dan mematikan usaha itu sendiri karena melampaui daya dukung lingkungan.

Jumlah keramba jaring apung di dua waduk itu masing-masing 17.000 petak dan 51.000 petak. Karena itu, Pemerintah Kabupaten Purwakarta dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui dinas perikanan tidak merekomendasikan izin baru usaha perikanan di perairan Waduk Ir H Djuanda Jatiluhur dan Waduk Cirata. Upaya itu untuk menekan jumlah keramba jaring apung secara alami.

Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Perikanan Jawa Barat Jafar Ismail di Purwakarta, Rabu (2/6), mengatakan, izin usaha perikanan dikeluarkan oleh badan perizinan satu atap, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten. Namun, dinas perikanan berwenang mengeluarkan rekomendasi terkait usaha perikanan.

Kepala Bidang Perikanan Dinas Perikanan dan Peternakan Purwakarta Komaran menambahkan, pihaknya tidak mengeluarkan izin usaha perikanan di Waduk Ir H Djuanda sejak April 2010. Sejak Januari hingga Maret 2010, ada 11 izin baru untuk 81 petak. Jumlah itu lebih kecil ketimbang tahun 2009, yakni 182 izin untuk 1.046 petak.

Jumlah keramba jaring apung di Waduk Jatiluhur saat ini diperkirakan lebih dari 17.000 petak. Padahal, jumlah ideal, menurut Surat Keputusan Bupati Purwakarta Nomor 6 Tahun 2000 tentang pemanfaatan waduk, untuk kegiatan perikanan adalah 2.100 petak.

Di Waduk Cirata, lanjut Jafar, jumlah keramba idealnya 16.000 petak. Namun, kini diperkirakan 51.000 petak. Kondisi itu mempercepat laju pengendapan sisa pakan serta meningkatkan risiko kematian ikan massal karena kekurangan oksigen, serangan virus, dan umbalan (teraduknya endapan dasar air).

Sepakat

Ketua Himpunan Pembudidaya Ikan Keramba Jaring Apung Jatiluhur Darwis menyatakan sepakat dengan upaya mengurangi jumlah keramba guna menjaga kualitas air dan mempertahankan nilai keekonomisan usaha. Pembudidaya juga tak keberatan dengan rencana aparat menertibkan keramba jaring apung.

Selain menghentikan izin usaha baru, pengurangan juga dapat ditempuh dengan membersihkan petak-petak yang telah lama ditinggalkan pemiliknya. Namun, Darwis berharap pemerintah tidak mematikan usaha budidaya yang sudah berjalan.

Usaha budidaya keramba jaring apung di Purwakarta memproduksi 67.996 ton ikan tahun 2008 dan 73.897 ton tahun 2009. Nilai produksi tahun lalu Rp 707,6 miliar.

Usaha budidaya keramba jaring apung pertama kali diuji coba di Waduk Ir H Djuanda Jatiluhur tahun 1974 dan mulai dibudidayakan tahun 1988 di bawah pengelolaan Perum Jasa Tirta (PJT) II.

Tidak siap

Di Jambi, Koordinator Pendamping Wilayah Jambi Program Kemitraan Bina Lingkungan PT Pertamina Region II Sumatera Bagian Selatan Prasetyo Hardi, Rabu, menyatakan, tersendatnya program kemitraan budidaya belut di provinsi itu disebabkan ketidaksiapan kolam dan media di tingkat petani. Pertamina telah menyetor dana pembelian bibit kepada pihak ketiga, PT Indo Zu Food, di Batam sebesar Rp 2,9 miliar. Namun, baru sebagian bibit didistribusikan kepada petani.

Prasetyo menanggapi berita Kompas, Selasa (1/6) di halaman 22. Berita memuat keluhan kelompok tani tentang ketiadaan pasokan bibit belut sehingga empat bulan ini kolam menganggur. ”Yang sebenarnya terjadi, banyak kolam petani justru belum siap,” ujarnya. (mkn/ita)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: