Proyek Belut Tersendat

Kompas, Nusantara 2010-06-02 / Halaman 22

Proyek budidaya belut yang dikembangkan untuk 90 kelompok tani di Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, saat ini tersendat. Sebanyak 50.000 bibit tidak dapat disalurkan kepada petani karena mati di kolam karantina.

Puluhan kolam yang telah disiapkan petani akhirnya menganggur empat bulan terakhir ini.

Ketua Kelompok Tani Kahuripan di Desa Pudak, Kecamatan Kumpeh Ulu, Muaro Jambi, Abdul Rozak, Selasa (1/6), mengemukakan, petani ditawarkan program Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL) oleh PT Pertamina serta Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jambi, berupa bantuan kredit lunak dan jaminan pemasaran hasil panen. Setiap kelompok mendapat pinjaman dana kemitraan Rp 75 juta.

Uang itu sebagian digunakan untuk membangun 30 kolam belut. Selebihnya, Rp 25 juta, dibayarkan kembali kepada Pertamina sebagai biaya pembelian bibit, pakan, bunga kredit 3 persen yang dibayar di muka, serta biaya notaris.

Petani membayar dana-dana tersebut sejak empat bulan lalu. Namun, bibit belut dan pakan tak kunjung diberikan. Kolam yang telah disiapkan tak dapat diisi.

”Kami sekarang mempertanyakan, mana bibit dan pakan yang dijanjikan perusahaan. Padahal, kami sudah membayar,” ujar Abdul Rozak.

Sebanyak 30 petani anggota kelompok Kahuripan, lanjut Abdul Rozak, menantikan datangnya bibit. Program itu diharapkan menjadi alternatif mengantisipasi lesunya budidaya ikan patin, yang pernah menjadi program unggulan Pemprov Jambi.

Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jambi pun menjanjikan semua hasil panen belut petani ditampung investor, PT Indo Zu Food. Industri pengolah belut itu menampung hasil panen petani.

Kolam karantina

Penghubung petani dan PT Pertamina, yang juga menjadi Koordinator Paguyuban Petani Belut Muaro Jambi, Ardani, mengatakan, Pertamina telah mendistribusikan 70.000 ekor belut. Sebelum diberikan kepada petani, semua belut dimasukkan di kolam karantina.

Namun, 50.000 belut di antaranya mati karena kolam karantina belum memadai. ”Kolam belum diisi media khusus untuk belut sehingga ketika belut masuk kolam, langsung mati dalam dua atau tiga hari kemudian,” ujarnya. Sebanyak 20.000 belut lainnya telah didistribusikan ke kelompok tani.

Ardani menyebutkan, program kemitraan budi daya belut diikuti 93 kelompok tani. Saat ini, baru 12 kelompok yang memperoleh bibit belut. Sisanya menunggu bibit dan bantuan dana.

Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jambi Herman Suherman membenarkan program kemitraan belut tersendat. Pihaknya akan meminta keterangan Pertamina, terkait tersendatnya pasokan bibit dan pakan. Pihaknya juga akan mendengar keluhan petani. (ITA)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: