Insert Media Lingkungan, 2009-10-22 Krisis Air di Tengah Mengkilapnya Emas Bombana

Insert Media Sultra 2009-10-20 Krisis Air di Tengah Mengkilapnya Emas BombanaMedia Sultra 2009-10-22/Halaman 5 Lingkungan

Oleh Merlyn

Ditemukannya emas Bombana pada pertengahan tahun 2008 telah membawah berkah bagi banyak orang. Tapi di tengah mengkilapnya emas yang konon kabarnya memiliki kadar 90 persen lebih, kedua tertinggi di dunia setelah Negara di Timur Tengah, timbulah kehancuran lingkungan, kriminal, penyakit dan tingginya biaya hidup yang harus dipikul oleh sebagian besar masyarakat Bombana

Perjalanan dimulai, kami disambut dengan kondisi jalan yang rusak dan berdebu. Sepanjang mata memandang yang ada hanyalah sawah yang menguning, tanah kering dan ternak sapi yang mencari makan. Masyarakat lebih banyak berada dalam rumah, karena hampir kami tidak melihat aktivitas pertanian seperti menggarap sawah yang dilakukan oleh warga.

Pasca penemuan logam mulai kurang lebih satu tahun tiu, lubang-lubang menganga dengand iameter yang cukup lebar, dan dalam dapat dijumpai sepanjang areal pendulangan. Adapula lubang kecil yang biasa disebut “lubang tikus”. Lubang kecil ini tealh merenggut banyak nyawa pendulang.

Merana Nasib Petani

Hadirnya sejumlah Kuasa Pertambangan (KP) semakin memparah lingkungan krisis air air pun kini melanda sejumlah daerah di Bombana, seperti di Kecamatan Lantari Jaya dan Rarowatu Utara. Ribuan hektar sawah di sini kering. Sumur bor yang selama ini dijadikan cadangan sumber air pada musim kemarau untuk mengairi sawah ataupun untuk kebutuhan sehari-sehari, kini terancam kering.

Rusaknya sejumlah sungai di daerah itu, seperti yang terlihat di aliran Sungai Langkowala, yang alirannya berbatasan langsung dengan daerah konservasi Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW), mungkin saat ini sudah tidak tepat lagi disebut sebagai sungai karena hampir tidak ada lagi yang mengalir. Kalaupun ada, hanya sedikit sekali dibanding satu atau dua tahun terakhir. Sisa-sisa berwarha hijau bercampur lumpur.

Anna salah seorang warga menuturkan, kali Langkowala sudah tujuh bulan terakhir ini tidak berair lagi, bahkan sumur bor yang sejak lima  tahun lalu kerap dipakai sehari-hari seperti mandi dan air minum, mereka terpaksa membuat sumur bor baru yang letaknya disamping kali. Namun saat ini debit airnya semakin menipis.

Hal senada juga dikatakan warga Rarowatu Utara, Bahtiar. Ia mengaku telah tinggal selama 10 tahun di daerah itu.Kini Bahtiar memanfaatkan kali Langkowala untuk mengumpulkan kerikil untuk bangunan rumah. Ia menuturkan, sejak ada aktivitas penamabangan di muara sungai ditambah, lagi musim kemarau, sungai menjadi ekring dan ratusan sawah beralih menjadi petani tadah hujan.

Andi Thamrin, warga Desa Rarongkewu, Kecamatan Rarowatu Utara, menyatakan sekitar 5, 000 ha sawah gagal panen dikarenakan tidak ada air, dan ketika masalah ini dilaporkan kepada pemerintah setempat mulai dari Kepala Desa maupun Camat tidak mendapat respon seperti yang diharapkan.

Hal yang ditakutkan oleh Thamrin dan warga lainya adalah jika musim hujan nanti tiba akan terjadi banjir karena banyak pohon yang ada dihulu sungai yang telah ditebang oleh para pendulang emas. “Bagaimana kami bisa mengairi, sementara sungai Langkowala sudah tangkal oleh perusahaan tambang”, ujarnya.

Bendungan Langkowala kini benar-benar kritis. Bendungan yang sebelumnya dimanfaatkan tiga desa di sekitarnya dan mengairi sekitar 7,000 ha areal persawahan,saat ini nyaris tidak memiliki air. Yang ada hanya potongan cetakan tanah yang mirip kue lapis akibat kekeringan.

Mantan Kepala Resort Langkowa TNRAW, Nasrun, yang telah bertugas selama 13 tahun di tempat ini menyatakan bendungan Langkowala dulu walaupun dilanda musim kemarau yang panjang seperti saat ini masih memiliki air yang banyak.

Akibat krisis air ini, banyak petani yang beralih profesi menjadi penjual di sekitar areal pertambangan. Atni, seorang petani yang kini telah menjadi pedagang sembakao, menuturkan semua para petani yang ada disekitar SP 3 sudah meninggalkan sawahnya.

“Kami terpaksa meninggalkan sawah karena tidak ada air untuk mengairi sawah kami”, katanya.

Abas Sedah mertuanya, Nurmiteh, warga transmigrasi yang asal NTB, yang tinggal di SP 2 desa Langkowala sejak 1982, menuturkan sebagaian besar penduduk desa Langkowala sudah tidak lagi menjadi petani penggarap sawa. Untuk dapat bertahan hidup, ia dan mertuanya menjadi pengembala ternak, dan berjualan arang.

“Kami punya sawah 2 ha, tapi karena air tidak ada terpaksa tidak bisa digarap. Sebenarnya kalau dulu bisa kita memanfaatkan sumur bor, tapi sekarang sudah susah dapat airnya, walaupun sudah digali 32 meter tetap saja sulit ditemukan mata air”, tuturnya.

Menurut dia, krisis air yang terjadi saat ini disebabkan aktivitas penambangan yang berada disekitar muara sungai Langkowala oleh PT Panca Logam, salah satu perusahaan yang pemegang izin KP. Perusahaan tambang itu menangkal sungai dan menampung airnya untuk proses penjernihan emas. “Itu baru satu perusahaan, bagaimana kalau masuk 13 perusahaan yang rencanaya akan beroperasi di atas, lama-lama seperti Mekkah kedua, panas terus”, ujar Abas dengan nada tinggi.

Akibat krisis air, sempat menimbulkan pertengkaran kalangan para petani di Desa Langkowala. Mereka meributkan untuk mendapatkan jatah air irigasi yang dilakukan secara bergilir. Tak hanya sawah, tanaman palawija jadi ladang pun kini terancam mati.

“Terutama SP 2 yang paling gawat, kalau tidak diperhatikan mati saja kami di desa ini”, ujarnya.

Nasib serupa juga dialami para pemilik tambak didesa Tunas Baru, Kecamatan Rarowatu Utara. Menurut Kepala Desa Baharuddin Tola, desanya yang hanya mengandalkan usaha tambak ikan bandeng, sangat khwatir jika datangnya musim hujan kelak, disebabkan desanya yang berada di daratan rendah akan menjadi limpahan air yang berasal dari sekitar areal pertambanagn.

“Kalau banjir datang, maka kayu-kayu dan material lumpur bercampur kimia bisa meninggalkan panen ikan bandeng di desa kami”, katanya.

Barulah didesa Anugerah, kami menemukan petani yang sedang bersawah. Subriarti dan anaknya Yoyo Triantono menyatakan, padi yang sedang dikerjakannya saat ini bukanlah padi hail dari tanah pertanian didesanya, melainkan dari tempat lain yang kebetulan cadangan air tanahnya masih ada.

Sama dengan warga lainnya, Subiarti juga mengeluhkan akvititas pertambangan setahun terakhir. Subiarti, mempunyai areal persawahan 5-6 ha bisa menghasilkan 250 karung atau setara dengan 40 juta sekali panen.

‘Ini semua penyebabnya dari aktivitas pertambangan yang dilakukan perusahaan. Mereka menangkal air sehingga kami tidak mendapatkan lagi aliran air dan sungai”, katanya.

“Dulu sebelum ada emas, air dari SP 9 (sungai Langkowala) bisa mengalir sampai SP 1 atau SP 2, namun sejak ada panca logam yang membendung sungai, air tidak sampai mengalir disini”, ujaranya.

Krisis air yang melanda di dua Kecamatan yakni Lantera Jaya dan Rarowatu Utara membuat hasil pertanian di Bombana untuk tahun ini otomatis menurun drastik.

Sebelum krisis air, hasil pertanian bisa mencapai 4 ton per ha. Pada tahun ini, didaerah ini terdapat 511 ha, dan terancam kekeringan ada seluas 475 ha.

Kadis Pertanian Bombana Sirajuddin M, menyatakan selain musim kemarau, tidak berfungsinya bendungan Langkowala dikarenakan tidak ada air menjadi penyebab utama kekeringan.

Hal ini bisa terjadi karena daerah tangkapan air bendungan Langkowala berada di daerah pertambangan seperti SP-8, dan SP-9, tapi karena alur air ini tidak berfungsi sehingga sentra-sentra pertanian menjadi kekeringan seperti sekarang.

“Kalau sudah seperti ini keadaanya, kedepannya terpaksa daerah pertanian di daerah Lantari Jaya dan Rarowatu Utara beralih menjadi pertanian tadah hujan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: