Penjaga Pantai di Runduma Keluhkan Anggaran Operasional

Kendari Ekspres 2009-06-19/Hal 9 Baubau Ekspres

Penjaga pantai yang bekerja di wilayah Pulau Runduma, dan Anano Kecamatan Tomia Kabupaten Wakatobi, menuturkan  bahwa untuk beberapa bulan ini para penjaga pantai tidak lagi intensif melakukan penjagaan penyu. Walaupun mereka tahu, ancaman terhadap pencurian telur penyu dan penggunaan alat penangkap ikan yang tidak ramah lingkungan, seperti bom dan alat bius yang digunakan nelayan luar Wakatobi masih berpotensi terjadi. Hal ini disebabkan karena para penjaga pantai mengeluh tidak menerima biaya operasional dari pihak yang berwenang. Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu penjaga pantai, Ali Husna, bahwa biasanya untuk tiga bulan kami menerima gaji sebesar Rp 400 ribu, karena gaji ini kami harus mengambilnya di Wangi-Wangi terkadang untuk biaya makan untuk satu bulan saja hampir tidak cukup. Sedangkan, biaya operasional yang berjumlah Rp 400 ribu setiap bulannya hingga bulan Juni untuk tahun 2009 ini belum sepeser pun diterima.

Dengan tidak adanya anggaran untuk biaya operasional bagi penjaga pantai,  maka wajar saja, mereka berpikir untuk kembali profesi semula. Mau tidak mau, mereka harus meninggalkan pantai yang semestinya harus rutin dijaga. Penghasilan yang diperoleh selama ini, separuhnya bahkan hanya digunakan untuk membeli bahan bakar dan keperluan operasional lainnya.

Kebanyakan penjaga pantai memilih berkebun untuk memenuhi kebutuhan makan keluarga. Hasil dari kebun seperti ubi dan talas bisa langsung kami manfaatkan sebagai bahan makanan. Lain soalnya, jika mereka menjadi nelayan, ikan hasil tangkapan mereka sangat susah untuk dipasarkan karena di Runduma hampir semua penduduk bisa mencari ikan jadi tidak ada pembeli ikan.

Disaat penjaga pantai mengelola kebun mereka, kesempatan ini dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan pencurian telur penyu dan menangkap ikan dengan menggunakan bom dan alat bius. Nelayan luar Wakatobi ini biasanya dilengkapi dengan alat-alat yang lebih canggih. Begitupula, dengan kapal yang digunakan memiliki kecepatan yang tinggi. Ini menjadi tantangan terberat, sehingga pelaku begitu susah untuk ditangkap.

Runduma dan Anano merupakan salah satu pulau yang dimiliki Kabupaten Wakatobi. Terletak tepat di tengah Laut Banda yang menjadikan daerah ini memiliki kekayaan bahari yang masih relatif terpelihara. Hal inilah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi nelayan yang hanya berpikir menghasilkan uang banyak dan mengesampingkan keberlangsungan sumber bahari yang ada. Runduma dan Anano merupakan dua pulau yang menjadi daerah primadona bagi penyu hijau dan sisik untuk meletakkan telur-telurnya dan berkembang menjadi tukik. Tapi jika tukik ini terus dicuri, maka ancaman kepunahan hewan purbakala yang masih tersisa ini semakin cepat. Sedangkan disisi lain, niat pemerintah menjadikan daerah ini sebagai daerah wisata penyu hanya akan menjadi angan-angan saja, karena penyu-penyu ini bisa saja mencari lokasi lain jika terus diusik habitatnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: