Program Multi Media Machine adalah istilah yang menguatkan tujuan kami atas Strengthening the Outreach and Education Network for Natural Resource Governance in Sulawesi.
Konsep ini digagas oleh Yayasan Lestari di Manado, Sulawesi Utara dan saat melebarkan konsep tersebut se Sulawesi, WWF-Indonesia menjadi partner.
Multi Media Machine meliputi siklus proyeksi isu, penerbitan factsheet, jurnalis trip dan produksi media yang mengikutsertakan media-media mainstream sebagai mitra kerja.
Bauran media dalam kampanye lingkungan hidup terbukti efisien dan efektif untuk mendorong terjadinya perubahan pemahaman, sikap hingga partisipasi publik.
Di Sulawesi Tenggara, kantor tim Multi Media Machine terletak di kawasan Malik 2 No 15 A.
Lima media mainstream yakni harian Kendari Pos, Kendari TV, Radio Swara Alam, harian Media Sultra dan M Radio merupakan partner dalam kerja-kerja kami, termasuk dukungan menggembirakan dari 28 radio yang menyebar di seluruh pelosok Sulawesi Tenggara.
Bila Anda kebetulan berada di Sulawesi Tenggara dan tertarik ikut dalam synergi meeting reguler silahkan kontak kami di 0401-322962.
Media Gathering
Media Gathering menjadi kegiatan yang rutin dilaksanakan 1-2 kali sebulan. Menghadirkan narasumber yang menguasai tema dan seringkali memberikan inspirasi baru dalam melihat masalah-masalah.![]()
Saat tema tambang per Maret 2008 digagas, Siti Maemunah, koordinator nasional jaringan advokasi tambang Indonesia hadir sebagai partner diskusi yang menarik. Di tahun-tahun sebelumnya hadir Marco Kusumawidjaya (kolumnis dan ekspert tata ruang) yang mendiskusikan tentang tata kota dan tekanan dari hulu ke hilir, Imam Zainuddin Musthofa (fisheris officer WWF-Indonesia) berbicara tentang pengelolaan perikanan, Dr Duncan May (Saintik dari Operation Wallacea Trust) tentang perikanan berkelanjutan, Sartiah Yusran (akademisi, advidsor gender) tentang perempuan dan
pengelolaan sumber daya alam dan masih banyak narasumber lain yang mewarnai program ini.
Kami juga menghadirkan narasumber dari kalangan NGOs yang mengawal isu sama dalam kampanye kami. Bila kami bermain di advokasi media, maka mitra NGOs itu berperan mengadvokasi publik.
Sepanjang 2005-2007, isu-isu ini yang telah kami kampanyekan :
2005-11 Air Bersih
2005-12 Ilegal Loging Muna
2006-01 Suaka Margasatwa Tanjung Peropa
2006-02 Sampah di Kota Kendari
2006-03 Pendidikan Lingkungan Hidup di Sultra
2006-04 Karang Saponda – Kelola Laut Berbasis Masyarakat
2006-05 Terumbu Karang di Taman Nasional Kepulauan Wakatobi
2006-06 Sertifikasi Kayu di Konawe selatan
2006-07 Pendidikan Alternatif Untuk Masyarakat Bajo
2006-08 Hutan Konawe – Konsesi HPH di konawe
2006-09 Progam Pasca HPH
2006-10 Lautku, Laut Mu, Laut Kita – Kelola Laut
2006-11 Laut Sehat, Seafood Sehat – Kebijakan Kelola Laut
2006-12 Kaleidoskop Lingkungan 2006
2007-01 Sistem Peringatan Dini
2007-02 Piala Adipura Kabupaten kolaka
2007-03 Tata Ruang
2007-04 Hutan Lambusango Sebagai Sumber Air
2007-05 Pemimpin Pro Lingkungan
2007-06 Pertanian Organik
2007-07 Perikanan Berkelanjutan
2007-08 Ruang Terbuka Hijau
2007-09 Trend Ruang Terbuka Hijau
2007-10 Pengelolaan Kolaborasi TNKW
2007-11 Pengalihan Fungsi Lahan
2007-12 DAS Konaweha![]()
2008-01 Perikanan Indonesia
2008-02 Hutan Tanaman Rakyat di Kabupaten Konawe selatan
2008-03 No More tambang
Factsheet
Factsheet atau lembar informasi merupakan satu tahapan berikutnya untuk mengerucutkan persoalan yang hendak dikampanyekan.
Program kami menerbitkan 12 lembar informasi dalam setahun dengan berbagai sudut pandang.
Bila Anda telah melupakan persoalan tersebut, bisa saja pada lembar informasi berikutnya kami mengangkat lagi persoalan tersebut dan mengingatkan bahwa pekerjaan belum selesai. Tertarik dengan factsheet kami?
Jurnalis Trip
Jurnalis trip merupakan bagian dari siklus Multi Media Machine. Mengikutsertakan jurnalis yang konsen dengan isu yang tengah dikampanyekan dan melakukan liputan bersama secara independen.
Totalnya dalam setahun, program kami mengawal 12 kali jurnalis trip hampir di seluruh wilayah Sulawesi Tenggara.
Produksi Media
Swara Alam Radio
Menjadi radio komersil terbesar di Sulawesi Tenggara, Radio Swara Alam merupakan partner potensial WWF-Lestari-CIDA.
Kurun 3 tahun menjalin kerjasama, Radio Swara Alam telah menghasilkan komitmen yang riil dalam program kami.
Berita rutin dalam program dinamika petang, feature lingkungan hidup, dan dialog interaktif lingkungan hidup dalam program Sketsa Info.
Radio Swara Alam juga mendedikasikan dirinya sebagai ‘rumah belajar’ bagi radio-radio komersil lain yang masuk dalam jaringan kerja kami. Tujuannya, bila kita semua memiliki tujuan yang sama untuk melestarikan lingkungan hidup, maka kita perlu tenaga besar dan tentu saja visi yang sama.
M Radio
Menguasai sebagian besar pendengar usia muda di kota Kendari, M Radio mau belajar dan banyak terlibat dalam kampanye M3.
Mengemas isu lingkungan untuk disampaikan kepada pendengar usia muda bukan persoalan mudah. 3 tahun berlajar besama, M Radio mededikasikan program dialog interaktif lingkungan hidup, membuat ficer radio ala anak muda, dan menayangkan pesan-pesan lingkungan dari sudut pandang mereka.
Sebanyak 28 radio menjadi bagian dari tim kampanye kami.
Mereka menyiarkan feature lingkungan hidup dan berjejaring dengan radio Swara Alam untuk belajar.
TV Kendari.
Komitmen yang muncul dari TV Lokal, TV Kendari adalah ; satu hari satu berita lingkungan. Ini artinya, ruang untuk isu maupun wacana pengelolaan sumber daya alam telah dibuka.
Kendari TV merupakan partner mitra kami. Secara periodik Kendari TV meluangkan waktu untuk menyiarkan dialog interaktif dan film documenter pendek yang sesuai dengan tema-tema kampanye.
Pada jam-jam lepas, Kendari TV menghadirkan berita lingkungan independen. Dalam setahun Kendari TV akan menghadirkan 12 kali dialog interaktif di program bale-bale.
Kendari Pos
Muncul sebulan sekali dalam bentuk sisipan 2 halaman berlabel Wonua di Kendari Pos. Isu hingga tata letak Wonua merupakan kerja-kerja kolaborasi tim WWF-Lestari-CIDA dan Kendari Pos.
Seringkali naskah yang muncul membawa efek kejut tak disangka, meski masih pada tahap peningkatan kesadaran. “Mengapa kami baru tahu kalau air yang kami minum berasal dari hulu Kolaka?” tanya Haluddin.
Ketika bercerita tentang air, rubrik Wonua akan menyajikan data-data daerah aliran sungai yang terancam karena tekanan hilir maupun hulu.
Sisipan Wonua mendapat dukungan yang sangat baik ketika mengkampanyekan kawasan kelola laut di Pulau Saponda, tempat dampingan Yayasan Bahari. Beberapa saat setelah kampanye
kelola kawasan laut, Yayasan Bahari secara gencar mengadvokasi warga dan hasil manis keluar : warga mendorong pemerintah untuk mengesahkan peraturan desa tentang stop bom, stop peracunan ikan dan tentang kelola kawasan laut.
Kendari Pos menjangkau seluruh wilayah Sulawesi Tenggara dengan jumlah suratkabar terdistribusi 15 ribu.
Media Sultra
Walaupun hanya memberikan seperempat halaman dalam kemitraan ini, namun Media Sultra menunjukkan komitmen jelas dengan menempatkan tiga wartawannya untuk secara rutin memantau perkembangan isu lingkungan di Sulawesi Tenggara.
“Bila Anda memberitahu kami masalah lingkungan apa yang terjadi, Anda boleh menggunakan halaman kami,” kata Sudirman, Pemimpin Redaksi Media Sultra.
Beroplah 3500 dengan jangkauan seluruh Sulawesi Tenggara menempatkan Media Sultra sebagai koran urutan kedua setelah Kendari Pos.
Pendidikan Lingkungan Hidup
FOCIL Indonesia merupakan mitra aktif bagi pengembangan program pendidikan lingkungan hidup di Sulawesi Tenggara.
Organisasi ini konsen dengan penyusunan kurikulum lingkungan hidup yang dikelola oleh partner muda kami Amar Makruf, Makruf, bersama jaringan guru lingkungan hidup.
Saat ini kurikulum lingkungan hidup untuk wilayah Kota Kendari dan Wakatobi telah
disahkan Pemerintah. Kurikulum lokal pendidikan lingkungan hidup diterapkan di 37 sekolah, 11 di Kota Kendari dan 26 di Wakatobi.
FOCIl Indonesia juga menerbitkan sisipan satu halaman di Kendari Pos yang ditujukan untuk pembaca muda, guru dan praktisi pendidikan lainnya.
Tertarik dengan isu pendidikan lingkungan hidup? Kontak Amar Makruf ; 0812 105 70107
Radio Komunitas Vatalollo
Stasiun Radio komunitas Vatalollo berdiri sederhana dengan tiang pemancar yang dua kali rusak terkena angin ribut.
Radio ini berdiri tahun 2006, awalnya diinisasi oleh organisasi rakyat Forum Kahedupa Toudani yang resah dengan minusnya akses informasi dari luar untuk mereka.
Kaledupa merupakan kecamatan kecil dengan jumlah penduduk sekitar 4000 jiwa, warga tersebar di 17 desa dan kelurahan. Tiap desa dihalangi bukit, jalan terjal dan transportasi yang terbatas. Untuk mencapai pulau lainnya, warga menggunakan kapal reguler atau kapal kayu sewaan.
“Kami kadang tak mendengar informasi apapun sampai seseorang datang
menyampaikannya,”kata La Beloro, Ketua Forum Kahedupa Toudani.
Pendirian radio dilakukan bertahap dan mendapat dukungan dari WWF-Lestari-CIDA. Warga Kahedupa dilibatkan dalam pembentukan Dewan Penyiaran Komunitas, tugasnya mengevaluasi siaran dan isi siaran. Jumlah anggota dewan penyiaran komunitas berasal dari berbagai kalangan, nelayan, pegawai negeri, ibu rumahtangga.
Radio Vatalollo hanya menyiar 7 jam sehari, saat listrik menyala malam hari. Suara penyiar di dengar oleh sekitar 500 pemilik radio transistor. Melalui radio komunitas inilah warga mengetahui kabar keluarga mereka yang terkena bencana gempa bumi di wilayah seberang Baubau atau cuaca yang memburuk dan pemerintah melarang perjalanan melalui laut.
Forkani kini tengah menggagas kemungkinan radio siaran siang hari dengan energi alternatif.
Radio Komuntas Talombo
Radio Komunto juga telah melakukan tindakan tepat ketika menyiarkan berita terdamparnya sebuah kapal dengan 11 ABK. Siaran komunitas itu didengar para nelayan yang hendak melaut, sebagian diantara mereka mengatakan akan memberi informasi dan menolong bila di tengah laut bertemu dengan kapal terdampar itu. Dan hasilnya, kapal terdampar itu ditemukan. Seluruh ABK selamat.
“Kami senang sekali bisa menolong mereka, rasanya seperti menolong diri sendiri,” kata Abbas, Ketua Forum organisasi nelayan yang juga penginisiator berdirinya radio komunitas di Tomia itu.
Seperti halnya Kaledupa, Tomia juga harus dijangkau dengan kapal-kapal laut. Wilayah ini memiliki topografi berbukit dan dihalangi perairan yang luas.
Bagi warga yang mendengar radio komunitas, meski seringkali terkendala teknis, namun radio komunitas tak sekadar jadi hiburan dengan lagu dangdutnya, tapi juga memberi kabar-kabar secara cepat.
Jaringan Radio Komunitas
Mengapa kami peduli dengan perluasan jaringan radio komunitas Sulawesi Tenggara? Karena regulasi tak berpihak pada radio komunitas.
Jaringan radio komunitas yang disingkat JRK Sultra berafiliasi dengan Jaringan Radio Komunitas Indonesia ini yang bekerja maksimal untuk mengembangkan radio-radio komunitas di Sulawesi Tenggara.
Saat ini sebanyak 14 Radio komunitas Sulawesi Tenggara menjadi anggota JRK. Lembaga JRK lalu bertindak untuk mengatur etika dan menyikapi regulasi agar bisa tetap memayungi radio komunitas.![]()
Di bawah koordinasi Yayasan Bahari, didukung oleh Combain Resource Institute (CRI) Yogyakarta, WWF-Lestari-CIDA, JRK Sultra terus melakukan pendekatan terhadap Komisi Penyiaran Independen agar diperoleh kepastian regulasi atas radio-radio komunitas di Sulawesi Tenggara.
Media Alternatif
Bajo Bangkit
Dikelola oleh Kerukunan keluarga Bajo, buletin Bajo Bangkit terbit lima kali dengan isu berbeda. Menariknya, seluruh penulis dari buletin ini adalah etnik Bajo yang hendak menyampaikan ‘ini masalah kami, apakah ada yang bisa membantu memberi jalan keluar?”
Etnik Bajo merupakan kelompok sea gypsi di Sulawesi Tenggara. Jumlah mereka sekitar 350 ribu jiwa, berada diseluruh wilayah pesisir.
Warga Bajo saat ini menghadapi tekanan atas pendidikan yang kurang, kesehatan yang tak memadai, lapangan kerja terbatas bagi mereka yang drop out sekolah dan merawat kearifan lokal mereka terhadap teritori lautnya.
Tiap edisi mengawal isu-isu tersebut, disebar secara gratis ke pelosok perkampungan Bajo dan bahkan hingga ke Banggai-Sulawesi Tengah. Namun, usia buletin ini tak panjang, hanya lima terbitan dan kini tengah digagas kembali untuk diterbitkan.
Jaringan Laut Wakatobi
Jaringan Laut Wakatobi merupakan buletin sederhana, 12 halaman dengan cetakan hitam putih. Diterbitkan pertamakali oleh Radio Ngkalo di Wangiwangi, ibukota Wakatobi.
Buletin ini diterbitkan agar sebanyak 48 organisasi rakyat di Wakatobi, terutama kelompok-kelompok nelayan bisa saling mengetahui perkembangan masing-masing kelompok.
“Kadang ada yang ingin tahu, apakah kelompok di Kaledupa bisa menjual ikan dengan harga pantas?” kata Armin, ketua kelompok nelayan Potau tau di Tomia.
Terbitan Jaringan Laut Wakatobi kini dicetak 300 exampler setiap bulannya dan didistribusikan ke empat wilayah kecamatan se Wakatobi.
Isu-isu yang diangkat tak hanya persoalan antar kelompok, tapi juga tentang masalah lain seperti air bersih, krisis energi, transportasi dan pengelolaan lingkungan hidup.
Anda bisa mengontak kami untuk mendapatkan buletin ini.
Papan Informasi
Tentu saja tak semua media komunitas radio maupun buletin mampu menjangkau warga yang dipelosok. Untuk itu, program Strengthening the Outreach and Education Network for Natural Resource Governance in Sulawesi bekerja sama dengan organisasi rakyat atau LSM setempat mendirikan papan informasi atau bilboard dengan pesan-pesan menarik.
Di sudut Kota Kendari misalnya, Anda bisa menemukan pesan bilboard yang menganjurkan stop bom ikan dan jangan cemari laut (pesan disampaikan oleh Yayasan Bahari, didukung WWF-Lestari-CIDA). Dan di sudut pasar kecil Kahedupa, Anda bisa menemukan papan informasi yang ditempeli beragam informasi, baik tentang pengelolaan perikanan hingga penerimaan CPNS. Siapapun bisa mengakses papan informasi itu untuk sekadar menempelkan pesannya atau memperoleh pesan-pesan baru. Tantangan dari papan informasi ini adalah ketersediaan isu-isu baru yang lebih menarik minat warga sekitar.
Kini WWF-Lestari-CIDA sudah mendirikan 5 papan informasi di wilayah luar Teluk Kendari, 4 di Kecamatan Kahedupa, 4 di kecamatan Tomia dan 2 di Kecamatan Wangiwangi. Untuk Bilboard, 2 buah berdiri di Kendari dan 2 di Wangiwangi.












saya sangat merespon Synergi Meeting yang sering saudara adakan ,mungkin kapan-kapan saya bisa di undang untuk menghadiri kegiatan tsb.disini (pomalaa) saya selaku ketua karang taruna kecamatan Pomalaa, bagaimanapun juga harus selalu merespon keinginan masyarakat terutama dalam mengatasi pencemaran Lingkungan akibat penambangan
yaa bagus juga untuk menampung aspirasi warga supaya ,jalan teruus salud deh
Pak Chairul bila ada ke Kendari , sila berkunjung ke kantor kami, Jl Malik 2 No 15 A Kendari, belakang Islamic Centre atau menghubungi kantor kami di 0401-322962, mungkin akan banyak gagasan yang bisa didiskusikan.
salam Indar
Great job. Saya sangat bangga melihat kerja mba Indar dan teman-teman. Informasi yang dibutuhkan masyarakat, baik dari wilayah wakatobi sendiri, maupun yang lebih luas dapat memberi positive effect, setidaknya dalam long term. Sewaktu di Kendari, saya sempat on air di M Radio dan rekaman di Kendari TV. Luar biasa kerja teman-teman sudah dikenal dan diapresiasi masarakat. Mudah-mudahan ke depan kesadaran masyarakat semakin terbangun dan memberi contoh pada daerah lain.
met jumpa lagi ji’…gimana kabar kawan2 M3 Kdi ? mudah2an tetap segar bugar selalu. Saya sering berkunjung di Sulbar (Sulawesi Barat ). apa di Sulbar ada kegiatan-kegiatan ginian yah? soalnya kangen juga sih ntuk kerja-kerja kayak dulu lagi. Salam buat k Koko.
Fadly
Dear admin..
Sebelumnya maaf semua yang dikerjakan M3 gak maksimal n banyak copy paste berita…!! Please.. crative dikit napa?
Terimakasih Arwan buat kritikannya.
Kami adalah NGO yang mengadvokasi media masa, jadi bukan tugas kami untuk meliput. Job itu sudah ada di rekan2 wartawan seperti Arwan. Jika ada beberapa liputan Arwan yang tayang di web kami, memang itu adalah copy paste, tapi tetap menghargai hak cipta…
salam
SABAN
salutttt ……….. pertahankan selalu sobat…. hijaulah bumiku….
mantap….trus brjuang..bro..hijaulah..bumi..ina mksudx..indnesia
n lbih asyik lg smbil pnghijauan dngarin lagu di..
http://www.youtube.com/watch?v=RgXXDkYygx8
judulx 1000 medali
http://www.4shared.com/account/dir/15859903/d187170a/sharig.html?rnd=83
judulx asmara digode-gode
kanakeas band
Kalau berkunjung di pacitan jangan lupa dengerin 101.1MHz MIXS FM Radio.. ato mampir di
http:// mixsfmradio.blogspot.com
MIXS FM RADIO Pacitan…
Oke Broo..
Mampir sebentar numpang liat2 artikel dan beritanya sekalian mau tukaran link,kami dari rumah bamboe production lembaga yang bergerak dibidang film dokumneter dan karya tulis berkedudukan dikendari,sulawesi tenggara..backlink balik ya
ass..
Perkenalkan nama saya andi angga, video journalist Trans 7.
setelah saya mambaca artikel diatas saya tertarik untuk menanyakan tentang daerah di sultra yang masih alami dan indah untuk saya liput dalam program anak-anak ” laptop si unyil”.
Apakah masih ada di sultra desa atau tempat yang masih memliki permainan tradisional yang unik, dan kegiatan yang khas serta tradisi yang unik yang mungkin di daerah lain tidak ada.
Atas informasinya saya mengucapkan terima kasih.
Andi Angga Citakesuma
Video Journalist Trans 7
Mas Andi,
Beberapa waktu lalu ada rekan trans 7 juga yang datang, mereka ke Bajau dan Wakatobi. Apakah ini program yang sama? Oh ya, bisa juga tuh jalan-jalan ke Kabupaten lain yang lebih asri, di Alaaha misalnya (Kolaka), atau ke taman nasional-nasional yang jarang dikunjungi warga dan menyimpang keindahan, pilih saja mau yang laut atau daratan. Untuk info lebih lanjut bisa menghubungi kami via email : client76@yahoo.com, hasrul_kokoh@yahoo.co.id
kapan-kapan mampir ke kantor kami ya, kita bisa share tentang banyak hal
salam kenal buat teman-teman…
saya faisal dari LPM BMK Wakatobi, kami membangun komunitas yang di mana orang-orangnya adalah pengrajin kayu, cuma kami bingung untuk memanfaatkan limbah kayu sebagai bahan bakar alternatif yang efisien, tlng kalau ada masukanya bagaimana membuat bara dari serbuk gergaji untuk meminimalisir polusi dan pencemaran beritahu kami…
Makasih…
Salam Lestari
mari bersatu menuju kebersamaan
artikel yg bagus….
Saya ingin sekali ngobrol dengan kawan-kawan M3 tentang Climate Change Adaptation/Adaptasi Perubahan Iklim dan Disaster Risk Reduction/Pengurangan Resiko Bencana.
Isu ini sedang hangat diperbincangkan, apalagi mendekati COP UNFCCC di Copenhagen 2009 ini.
Saya tertarik membuat telahan study kasus tentang bagaimana seharusnya Pemerintah Wakatobi mengarusutamakan issu A.P.I dalam proses perencanaan pembangunannya.
Mbak Riyanti, silahkan mengontak Muhamad Suhud di WWF-Indonesia, Jakarta, emailnya msuhud@wwf.or.id, telepon ; 021-5761070, atau ke Verena di vpuspawardani@wwf.or.id
Salam
Indar
waow….., excelent..great Job luar biasa apa yg saudara2 lakukan.
saya lahir di kendari sdh menetap di Bali sekitar 20 thn melihat potensi Sultra tdk kalah dgn Bali, utamanya kita punya ANOA yg sama sekali tdk ada di tempat lain, apalagi Wakatobi sdh mulai mendunia. Tolong dong di forcing pemda kita spy stop exploitasi tambang biar semua lestari. Khususnya dinas pariwisata harus lebih pro aktif, misalnya buat GATE di Bali semacam counter khusus yg mempromosikan sultra, sebab kalau harus keliling dunia costnya MAHAL, kan ada bali yg cukup effisien di manfaatkan buat promo. Saya pikir saatnya industri pariwisata di push untuk kesejahteraan sulawesi tenggara.
Bravo teman
George H.R ( Guntur )
suatu blog yang sangat bermanfaat. terima kasih untuk berita dan informasinya
salam hangat,
romie
http://www.engineeringtown.com
Pak George, saat ini rekan2 NGO, wartawan dan beberapa akademisi sedang konsen terhadap pengelolaan sumberdaya alam yang lestari… terimakasih komentarnya pak.
pariwisata di Sultra belum menjadi prioritas utama dalam agenda pembangunan daerah. pada dasarnya, sultra butuh SDM yang mampu mengembangkan potensi industri pariwisata
boleh jg kita sharing informasi kebetulan kami yang sering mendampingi masy.kec.Pomalaa terlebih lg desa tambea yang sering langganan lumpur merah bila musim penghujan tiba ,akankah kehadiran KP membawa berkah atau justru senaliknya membawa bencana……………………….???
Pak syamsuddin, bila berkunung ke kendari, silahkan mampir ke kantor kami, Jl, Bunga matahari, no. 43, Kemaraya – Kendari.
Kami akan membentu menghubungkan anda dengan beberapa jaringan LSM yang mengadvokasi tambang…