Telur Burung Maleo Dijual di Pameran

Kompas, LIngkungan & Kesehatan 2010-08-05 / Halaman 12

Telur burung maleo atau Macrocephalon maleo dijual di Pameran Pangan Laut dan Produk Industri Perikanan Maluku Expo di Kota Ambon. Burung maleo merupakan satwa langka yang terancam punah sebagai dampak eksploitasi manusia.

Berdasarkan pengamatan Kompas, Senin dan Selasa (2-3/8), telur maleo dipamerkan di stan Dinas Pertanian Provinsi Maluku sebagai produk aneka olahan peternakan. Telur itu dipamerkan dalam jumlah sedikit, tetapi ditawarkan kepada pengunjung yang berminat. Telur itu dijual Rp 3.000 per butir.

Petugas di stan itu mengakui, meski dibudidayakan, produksi telur maleo tergolong sulit. Burung maleo hanya bertelur pada waktu-waktu tertentu di pantai. Oleh karena itu, telur maleo hanya didapat jika dipesan langsung ke daerah penghasilnya.

Burung maleo tergolong satwa liar yang endemik dan masuk dalam kategori terancam punah. Dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya disebutkan larangan bagi setiap orang untuk mengambil, merusak, memusnahkan, memperniagakan, menyimpan, atau memiliki telur dan atau sarang satwa dilindungi.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Maluku Ben Saroy membenarkan jika maleo termasuk hewan yang terancam punah dan dilindungi undang-undang.

BKSDA belum pernah mendata jumlah maleo yang masih ada di Provinsi Maluku dan Maluku Utara. Namun, di Maluku, maleo masih bisa ditemukan di Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Kepulauan Tanimbar di Kabupaten Maluku Barat Daya, dan Seram Bagian Barat. Sementara di Provinsi Maluku Utara, maleo terdapat di daerah Galela.

Meski dilindungi, Ben mengatakan, masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui soal aturan itu dan masih memperdagangkan telurnya. ”Telur maleo masih banyak dijual dan biasa dimakan. Kami kesulitan mengawasi ini karena terlalu luasnya wilayah Maluku dan terpisah-pisah oleh laut,” ungkapnya.

Terkait adanya telur maleo yang dijual di Maluku Expo, Ben mengatakan, kemungkinan petugas tidak tahu jika maleo termasuk hewan yang dilindungi.

”Kami akan kirim petugas ke Maluku Expo dan mengingatkan mereka,” ujarnya.

Maleo umumnya bertelur dan menimbun telurnya di akar-akar pohon yang membusuk di dalam tanah yang mengandung panas bumi atau mengubur dalam pasir di tepi pantai dengan panas matahari yang cukup. Masa menetas telur 62-85 hari. Dalam setahun, maleo betina hanya bertelur sebanyak 8-12 butir. Ukuran telur maleo hampir dua kali telur ayam. (LKT/APA)

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: