Operasi Pertambangan di Wetar Dipertanyakan

Kompas Jumat, 15 Januari 2010 | 03:48 WIB | Nusantara | Halaman 24

Ambon, Kompas – Penambangan tembaga dan emas di Pulau Wetar dicurigai melampaui ketentuan. Pengelolanya, yang hanya mengantongi izin eksplorasi, diduga melakukan eksploitasi mengingat sering terjadi pengiriman hasil tambang ke luar pulau dengan menggunakan kontainer.

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Maluku Bram Tomasoa, Kamis (14/1) di Ambon, Maluku, mengatakan, Pemerintah Provinsi Maluku rencananya akan segera turun ke lapangan untuk menyelidiki hal tersebut.

”Kelompok perusahaan tambang PT Batutua dilaporkan masyarakat telah melanggar aturan. Perusahaan yang beroperasi di Pulau Wetar, Kabupaten Maluku Barat Daya, itu baru memegang izin eksplorasi, tetapi dicurigai telah melakukan eksploitasi mineral tambang,” kata Bram.

Masyarakat, lanjutnya, melaporkan telah terjadi pengiriman material galian ke luar daerah menggunakan kapal. ”Pengiriman sudah berlangsung beberapa bulan terakhir dan berulang kali,” ujar Bram.

Dengan adanya izin eksplorasi, menurut Bram, memang memungkinkan pengiriman contoh material galian untuk diteliti di laboratorium. Namun, dalam hal ini, ada kecurigaan contoh material galian tidak hanya dikirim ke laboratorium, tetapi diolah di tempat lain.

Izin eksplorasi untuk PT Batutua itu dikeluarkan tahun 2004-2005 saat Wetar masih masuk wilayah Kabupaten Maluku Tenggara Barat. ”Izin diperpanjang pada 2009 oleh Penjabat Bupati Maluku Barat Daya Jacob Patty, dan sekarang PT Batutua akan masuk ke tahap produksi,” kata Bram.

Namun, tambahnya, sebelum masuk tahap eksploitasi (produksi), pihak perusahaan meminta izin percobaan produksi. Izin percobaan produksi inilah yang dipermasalahkan masyarakat.

Sejak 2005

Menurut Wakil Ketua Fraksi Demokrat DPRD Maluku dari Daerah Pemilihan Maluku Barat Daya, Melkias Frans, pengiriman material galian tambang ke luar Wetar sudah berlangsung sejak 2005. ”Material tambang dimasukkan dalam kontainer dan diangkut dengan menggunakan tongkang yang ditarik tugboat. Lokasi tambang di Pulau Wetar itu tidak terawasi karena sangat jauh, di perbatasan Indonesia-Timor Leste,” kata Melkias.

”Ini tidak bisa dibiarkan karena ada indikasi material dijual ke luar. Jika benar, ini merupakan perampokan kekayaan rakyat dan daerah sangat dirugikan,” ujar Melkias, yang juga Ketua Komisi B DPRD Maluku.

Lokasi tambang itu berada di Lerokis, Desa Lurang, Kecamatan Wetar. Menurut Melkias, kawasan itu merupakan bekas tambang emas PT Prima Lirang Mining yang beroperasi 1987-1997. Aktivitas tambang berhenti tahun 1997 karena situasi politik yang tidak stabil di Timor Timur (sekarang Timor Leste).

Sekitar tahun 2004-2005, lanjut Melkias, masuk kelompok PT Batutua ke sana untuk menambang kandungan tembaga. ”Di Wetar terdapat kandungan mineral tembaga, emas, barit, dan merkuri,” katanya.

Permasalahan tambang tembaga dan emas di Wetar itu akan diselidiki tim yang terdiri atas Dinas ESDM, Perhubungan, Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Imigrasi, serta Bea dan Cukai. Tim dipimpin Wakil Gubernur Maluku Said Assagaff dan dijadwalkan berangkat ke Wetar pekan ke-3 Januari ini. Anggota Komisi B DPRD Maluku juga ikut melakukan investigasi ke Wetar di perbatasan Indonesia-Timor Leste tersebut. (ANG)

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: