LIPI Teliti Gunung Mekongga

Kendari Pos, Edukasi 2009-12-30/ halaman 19

Puncak pegunungan Mekongga Kolaka ternyata tidak hanya surga bagi para pendaki gunung, tetapi menjadi laboratorium alam untuk penelitian ilmiah.  Pekan lalu sejumlah ilmuwan dari lembaga ilmu pengetahuan indonesia (LIPI), Institut teknologi Bandung, Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam Departemen Kehutanan, dan peneliti dari Universitas California-Davis Amerika, melakukan penelitian di gunung tertinggi di Sultra tersebut.

DR Rosichon Ubaibillah, peneliti zoologi LIPI yang ditemui di Kolaka mengatakan penelitian tahap kedua tersebut bertujuan menginventarisasi keanekaragaman flora dan fauna untuk kepentingan pendidikan dan penelitian, konservasi dan bio energi alternatif serta obat-obatan.

Menurutnya banyak potensi sumber daya alam dan keanekaragaman hayati dikawasan pegunungan mekongga yang harus dilindungi, apalagi saat ini hutan dataran rendah di kaki pegunungan mekongga yang cukup luas terus di konversi untuk lahan perkebunan rakyat. 

“Sebagian besar lahan hutan pegunungan mekongga masih dalam kondisi baik, namun demikian perambahan terus terjadi, selain perburuan burung dan anoa masih juga terjadi dan ini bila berdampak tekanan terhadap habitat flora dan fauna dipegunungan mekongga” ungkap salah satu peneliti senior LIPI Ini.

Ditempat yang sama Peneliti LIPI Bidang Botani, Prof Dr Elizabeth A Widjaya, mengatakan, sejumlah jenis tumbuhan yang ada di pegunungan ini diduga adalah marga atau jenus Bar.  Salah satunya adalah jenis bambu merambat.

Profesor riset LIPI yang menyelesaikan program doktor di bidang Taksonomi Bambu Universitas Birmingham Inggris ini, meyakini bambu yang banyak dijumpai di sepanjang sungai Tinukari pegunungan mekongga adalah jenus baru yang sangat spesifik.

“Umumnya, jenis bambu merambat tumbuh di dataran tinggi dan daunnya lebar-lebar, namun yang satu ini berbeda, tumbuh diketinggian yang rendah dan daunnya kecil-kecil” ungkap Profesor berusia 58 tahun itu.  Para peneliti flora juga menemukan jenis tanaman hias endemik sulawesi, seperti Begonia Aptera, anggrek, paku-pakuan,dan berbagai jenis lainnya yang bisa dikembangkan untuk bio energi dan obat-obatan.

Untuk jenis burung, juga ditemukan beberapa endemik dan khas sulawesi, Seperti Rangkong Sulawesi (Acerox cassidix), elang ular sulawesi (Spilornis rufipectus), sub jenis srigunting kacamata warna putih (Dicrurus hottetonttus), raja perling sulawesi atau jalak konde (Basilornis celebensis), golongan burung kekep (Artamus monachus), berbagai burung semak (Centropus celebensis).

Penelitian tahap kedua selama sepuluh hari itu juga melibatkan pendamping lokal dari masyarakat setempat (warga desa tinukari) dan kelompok pencinta alam kolaka (KORPS CITAKA- Indonesia).  Dalam penelitian kali ini para peneliti memfokuskan penelitian dikawasan yang ketinggiannya sekitar 100 hingga 500 mdpl.

Meski belum diterbitkan, para peneliti LIPI yakin menemukan beberapa genus baru dan endemik dari flora dan fauna yang cukup unik dan sangat menarik dikawasan ini.

Ketua umum korps citaka , Muh Rais Ambo mengatakan, penelitian LIPI dipegunungan itu bisa menjadi dasar untuk menjadikan pegunungan mekongga sebagai taman nasional.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: