Kendari Ekspres 2009-11-12/Halaman 9 Kota Kendari
Kendari– Meskipun sebagian anggota Komisi C DPRD Kota Kendari menganggap bahwa pengerukan teluk Kendari tidak memberikan asas manfaat bagi masyarakat, namun pemerintah kota tetap berkeinginan untuk merealisasikan rencana pengerukan, sebagai upaya untuk menyelamatkan teluk dari ancaman pendangkalan. Kabag Humas Kota Kendari, Heriyantoi Sada, saat ditemui diruang kerjanya, kemarin, menyatakan pengerukan teluk Kendari yang akan dilakukan pemerintah kota jangan dianggap sebagai usaha tidak mmberikan manfaat bagi masyarakat kota.
“Mungkin saat ini belum ada manfaatnya, tapi yang kita pikirkan ke depannya. Akan banyak manfaat yang akan dirasakan oleh masyarakat dari pengerukan itu”, kata Heryanto Sada. Pernyataan ini menanggapi statement beberapa anggota komisi C DPRD Kota Kendari yang menginginkan agar pengerukan teluk sebaiknya dihentikan karena sebaiknya dihentikan karena dianggap tidak memberikan manfaat bagi masyarakat.
Anggota Komisi C dimaksud, salah satunya adalah Aladin, Politisi asal PAN ini, baru-baru ini menyatakan, pengerukan teluk dengan dua mesin yang hingga kini tidak jelas pemanfaatannya sebaiknya dihentikan saja. Mendingan, kata dia, anggaran yang akan digunakan dalam kegiatan itu sebaiknya dialihkan saja untuk kegiatan lain yang lebih penting, misalnya untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Namun, bagi pemerintah Kota Kendari, kata Heriyanto, apa yang disampaikan oleh beberapa anggota komisi C itu terkesan tidak mendukung program pemerintah kota dalam upaya penyelamatan teluk Kendari. Semestinya, kata Heri, niat mulai Pemkot untuk menyelamatkan teluk harusnya mendapat dukungan dari berbagai pihak, terutama dari dewan yang notabene mita kerja pemerintah. Apalagi, teluk Kendari merupakan ikon kota.
“Pak Walikota selalu menyampaikan bahwa, persoalan teluk ini idealnya bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah kota, tetapi termasuk pemerintah daerah tetangga, termasuk pemerintah provinsi. Tetapi pemerintah kota sebagai daerah dimana teluk itu berada, merasa bertanggung jawab dengan keberadaan teluk itu. Makanya, untuk menyikapi itu, Walikota mencoba untuk action dengan menggunakan dua mesin penyedot karya putra lokal,” kata Heri.
Mulanya, sambung mantan Camat Wua-wua ini, Walikota berencana menyewa kapal pengeruk milik BUMN dengan Rp 19 miliar per bulan. Namun, angka itu cukup besar, sehingga Walikota memilih mengadakan dua mesin penyedot melaui LSM Tirta Oase demi efesiesni biaya.
Soal pengerukan tidak memberikan manfaat bagi masyarakat, Heri justru mengajak komisi C untuk memikirkan bagaimana nasib ratusan bahkan ribuan masyarakat nelayan yang menggantungkan hidupnya dengan keberadaan teluk, jika teluk dibiarkan menjadi lapangan sepak bola.
Meskipun demikian, Heriyanto tetap mengghargai ide dan gagasan sebagian anggota komisi C terkait rencana pengerukan teluk ini, sebagai hak mereka untuk melakukan kontrol terhadap pemerintah. Hanya saja, kata Heri sebagai mitra pemerintah, dewan semestinya memberikan ide-ide yang produktif dalam rangka mendukung program pemerintah.
Ditempat terpisah, Muh Yahya justru memberikan apresiasi kepada pemerintah kota yang tetap yakin bisa melanjutkan usaha pengerukan teluk. Sekalipun itu, hingga kini pengerukan kian tidak jelas. “Kita beri kesempatan lah kepada walikota supaya bisa membuktikan janjinya”, katanya.
Menurut Yahya, janji walikota saat digelar pertemuan dengan dewan beberapa waktu lalu menjadi acuan dewan ke depan untuk tetap mengawal proses pengerukan teluk ini. “Walikota sendiri sudah memberi jaminan, pengerukan tetap lanjut. Jadi kita tunggu saja realisasinya”, kata Ketua Komisi A ini.
Filed under: Kendari Ekspres












saya pikir pemerintah jgn terlalu gegabah untuk melakukan pengerukan teluk,sebab ekosistem perairan akan sangat terganggu oleh pengerukan tersebut krn akan terjadi tingkat kekeruhan perairan yang sangat tinggi.
Pemerintah punya tenaga ahli tdk untuk melakukan analisis tersebut………?????
jadi hati-hati,jgn sampai tujuan awalnya untuk meyelamatkan nelayan yang menggantungkan hidupnya pada teluk kendari, malah justru akan sebaliknya, nelayan yang akan jadi korban……..!!!!!!!!!!!