Tak Ada Lagi Cumi-Cumi Di Kabaena

Kendari Pos 2009-08-22/Halaman 6  Lingkungan

Suatu shubuh, 18 malam di bulan, sekitar 30-an perahu layar nelayan asal Pulau Makasaar berbondong-bondong menuju Pulau Kabaena.

Satu perahu diawaki anatara tujuh hingga delapan orang nelayan. Rombongan perahu itu menuju Pulau Kabaena selama 9 hingga 15 jam, tergantung kekuatan angin.

Di pesisir Pulau Kabena mereka menangkap cumi-cumi dengan menggunakan jala. Jala adalah alat tangkap tradisional menyerupai jaring dengan mata yang lebih besar, antara 4 cm sampai 30 cm, berwarna gelap.

Karena itu ikan atau tangkapan lain seperti cumi-cumi tidak emlengket pada jaring melainkan digiring pada sebuah karung yang dipasang di tengah-tengah jala.

Waktu menjala ikan dan cumi yang baik adalah 21-24 malam bulan, yakni waktu yang dihitung nelayan mulai enam hari setelah purnama. Saat itu keadaan langit agak gelap hingga memudahkan jala bekerja.

Menurut Maunta, salah seorang nelayan yang kini bolak-balik menangkap ikan di Manokwari, saat di Kabaena mereka menjala ikan paling banyak tiga kali sudah mendapatkan cumi-cumi hingga dua ton. Bahkan terkadang hasil tangkapannya ditinggalkan membusuk di pesisir pantai karena tidak bisa termuat oleh perahu.

“Kabaena benar-benar menjadi gudangnya ikan dan cumi. Pada saat tertentu bahkan tidak pelru menggunakan jala, cukup menurunkan sendok ikan untuk menangkapnya”, kata Maunta.

“Ikan dan cumi itu berputar-putar mengitari batu pasi cerita gampangnya menangkap cumi dan ikan seperti disampaiakn Maunta itu, adaalh kisah masa lalu, yakni pada 1070-an dan tentu pada tahun-tahun sebelumnya.

Setelah tahun 1980-an ceritanya sudah lain. Tidak ada lagi perahu nelayan Pulau Makasar yang berbondong-bondong menuju Kabaena.

Perahu-perahu nelaayn Pualu Makasaar dan nelaayn di Kabuapten Buton pada umunya sudah harus hijrah lebih jauh. Mereka membawa jala ikannya ke berbagai tempat, seperti Timor-Timur, Maluku, Sulawesi Tengah, dan Papua.

Itulah sebabnya penduduk Pulau Makassar dan Buton pada umumnya banyak yang menempati daerah-daerah tersebut hingga kini. Kecuali di Timor-Timur yang kemudian mereka eksodus, pasca kemerdekaan daerah itu.

Menghilangnya ikan dan cumi-cumi di pesisir pulau Kabaena dan pesisir Pulau buton lainnya, termasuk Kepuluan Wakatobi, seiring dengan rusaknya terumbu karang sebagai tempat ikan dan biota laut lainnya berlindung.

Walau demikian, masih banyak nelayan belum menyadari hal itu sehingga masih banyak yang merusak terumbu karang untuk kepentingan tertentu, misalnya mengambil karang utnuk bahan fondasi bangunan.

Kenyataan yang memprihatinkan tersebut seiring dengan hasil survei yang dilakukan para peniliti Indoensia tahun 1984 mengemukakan fakta bahwa kondisi terumbu karang di Indonesia yang dalam keadaan baik tinggal 5%, lumayan 29%, buruk, 25% dan sangat buruk mencapai 40%.

Survei ini sebagai wujud partisipasi Indonesia dalam program ASEAN memantau  dan mengevaluasi sumber daya laut di Asia Tenggara.

Temuan tersebut tentunya mengejutkan banyak orang, termasuk para pengambil keputusan di negeri ini,  yang kemudian menimbulkan kesadaran akan perlunya diambil tindakan-tindakan untuk melindungi dan melestarikan ekosistem yang sangat berharga ini.

Untuk melindungi dan mengelola terumbu karang di Indonesia maka 1 September 1998 resmi diluncurkan program reahbilitasi dan pengelolaan terumbu karang yang disebut Coremap yakni program jangka panjang yang diprakarsai oleh pemerintah Indonesia dengan tujuan untuk melindungi, merehabilitasi, dan nmengelola pemanfaatan secara lestari terumbu karang serta ekosistem terkait di Indoensia, yang ada gilirannya akan menunjang kesejahteraan masyarakat pesisir.

Kini, Kabupaetn Buton dan Wakatobi adalah dua dianatara kabuapetn lain, seperti Selayar, dan Pangkajene, Sikka, Biak, dan Raja Ampat yang mendaapt program Coremap yang di danai oleh World Bank.

Menurut Ketua Tim Konsultan Coremap Kabupaten Buton, Dr Ma’ruf bahwa sejak tahun 2007 ada 43 desa di 13 kecamatan yang masuk dalam wilayah Coremap II, yaitu kecamatan Mawasangka, Mawasangka Timur, Mawasangka Tengah, Kadatua, Siompu, Siompu Barat, Batauga, Sampolawa, Wabula, Siontapina, Lasalimu Selatan, Batu Alas, dan Talaga Raya.

Pulau Kabaena seperti yang dikisahkan nelayan, Mauntana, sebagai gudangnya ikan dan cumi-cumi pada tahun 1970-an, kini tak lagi masuk dalam wilayah pemerintah Kabupaten Buton, dalam pemekaran tahun 2003 masuk pada wilayah Kabupaten Bomana.

Namun demikian dalam kawasan perairan pesisir Kabaena sangat dekat dengan Mawasangka yang mendapat program Coremap.

Saalh satu konsep program Coremap adalah menyediakan daerah perlindungan laut sebesar 10 % dari total luas karang.

Penentuan lokasi zona tangkapan terlarang tersebut ditentukan sendiri oleh nelayan kemudian dijaga pula oleh nelayan setempat dalam bentuk lembaga pengelola sumber daya terumbu karang (LPTK).

Tak jauh dari zona terjaga tersebut, nelayan diperbolehkan menangkap ikan dengan menggunakan alat yang ramah lingkungan. Di sekitar itu sudah cukup banyak ikan sebagai keliaran dari zona terjaga.

Ma’ruf menjelaskan, keterlibatan masyarakat dalam program Coremap cukup penting sehingga tiga macam kelompok masyarakat yakni, Pokmas Konservasi untuk mengevaluasi terumbu karang, Pokmas Wirausaha untuk membuat usaha produktif desa, serta Pokmas Wanita untuk meningkatkan partisipasi wanita dalam pelestarian terumbu karang.

Ia juga menjelaskan, tentang kondisi terumbu karang pada lokasi program Coremap II Kabupaten Buton cukup menggembirakan, presentase karang hidup dinyatakn baik, demikian pula 147 jenis spesies ikan karang yang ada.

Berdasarkan laporan tersebut masyarakat nelayan hanya mempunyai harapan akankah dan kapan untuk bisa kembali menangkap ikan dan cumi-cumi berton-ton seperti tahuan 1970-an dulu?

Jawabannya tergantung kita, terlebih nelayan itu sendiri.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: