Nikel Memiliki Sifat Toxic Bagi Organisme Perairan

Kendari Pos 2009-07-25/ Lingkungan: hal 6

Oleh: Munandar

Potensi bijih nikel di Indonesia sudah diketahui sejak lama. Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki kandungan tambang Nikel yang besar, baik yang telah maupun yang belum ditambang.

Tak dapat dipungkiri, komoditas ini memiliki peran yang sangat besar untuk meningkatkan taraf hidup, mendorong pertumbuhan ekonomi dan menyediakan lapangan kerja. Nikel adalah unsur kimia metalik dalam tabel periodik yang memiliki simbol Ni dan nomor atom 28. Unsur kimia ini termasuk logam serba guna yang penting.

Menurut Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Haluoleo, Kadir Sabilu, S.Pi, secara alami, nikel terdapat pada air laut dengan kadar sangat rendah, yakni berkisar antara 0,005 – 0,007 miligram per liter dan pada perairan tawar alami adalah 0,001 – 0,003 miligram per liter.

Aktifitas produksi oleh industri pengolahan nikel, selain menghasilkan bijih nikel, juga menghasilkan beberapa jenis limbah cair dan limbah padat yang berasal dari areal penambangan dan proses peleburan nikel di pabrik.

Dampak yang dapat dilihat sebagai akibat dari aktivitas pertambangan adalah meningkatnya kekeruhan perairan pesisir dan semakin masifnya sedimentasi di daerah  muara sungai maupun pada perairan pesisir secara keseluruhan.

Limbah yang dihasilkan oleh aktifitas peleburan nikel di pabrik akan melewati instalasi pengolahan air limbah (IPAL) sehingga pada saat dialirkan kelaut telah memenuhi kriteria baku mutu air limbah, sehingga keberadaan nikel di perairan akan terkontrol dalam batas normal.

Akan tetapi, akibat guyuran hujan pada tumpukan galian tambang pada daerah penambangan, dapat mengakibatkan kelarutan nikel meningkat dan  tercuci ke daerah hilir.

Hal ini tentu saja akan meningkatkan kosentrasi nikel dalam air sungai dan laut. Ikan akan memakan dan menyerap  nikel yang termagnifikasi pada tanaman dan kolom air yang menjadi media hidupnya, menumpuknya pada bagian-bagian dagingnya dan pada kondisi ekstrim keadaan tersebut dapat menyebabkan gejala toxicitas.

Pria yang sementara menempuh studi di Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor, Mayor Ilmu Akuakultur itu melanjutkan, toxicitas oleh nikel bersifat kumulatif, artinya sifat racunnya akan timbul apabila terakumulasi dalam jumlah yang cukup besar dalam tubuh makhluk hidup.

Ketoksikan nikel pada organisme akuatik tergantung pada kesadahan, pH dan kandungan parameter minor lingkungan lainnya dan pada pH < 9, nikel diperairan bersifat sebagai kation bebas.

Akumulasi nikel  dalam jaringan tubuh ikan katanya, dapat menyebabkan gangguan pada sistem pernapasan ikan dan menurunkan kemampuan sel darah dalam mengikat oksigen.

Toxicitas yang ditimbulkan terjadi karena bereaksinya kation logam dengan fraksi tertentu dari lendir insang sehingga insang akan diselimuti gumpalan lendir logam berat, mengganggu siklus kelarutan oksigen dalam darah dan menghalangi kerja enzim.

Akibatnya jaringan tidak bisa mengikat oksigen terlarut dalam darah dan ikan akan lumpuh dan mati lemas akibat kekurangan oksigen (anoxia).

“Hasil penelitian Isaac A Ololade seorang ilmuwan dari University Adekunle Ajasin, Nigeria tahun 2009 menunjukkan bahwa setelah 72 jam, ikan yang hidup di dalam konsentrasi nikel 8,0-12,0 ppm menyebabkan kulit akan rusak dan tubuh luka-luka sebagai indikasi dari tekanan pH akibat peningkatan konsentrasi nikel di peraian,” pungkasnya.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: